Kami (Bukan) Penggadai Suara

Anis
Karya Anis  Kategori Lainnya
dipublikasikan 25 Maret 2016
Kami (Bukan) Penggadai Suara

 
Kisah ini bermula dari ketidaktahuan dan kebiasaan yang kami pelihara dari dulu. Duluuu, entah sejak kapan. Sepertinya hal ini sudah menjadi sesuatu yang wajar, tak perlu diherankan lagi. Benar, kami orang kecil yang memang kecil pengetahuannya. Kelompok orang yang mungkin termarginalkan. Kami awam soal politik. Dan mungkin itulah yang membuat kami begitu mudah dijadikan sasaran untuk memuluskan suatu kebijakan politik tertentu. Ah, bagaimana kami yang tak mengerti politik bisa menjelaskan ini padamu? Maaf jika kami bicara sembarangan.

 

Hari itu menjelang Bulan Ramadhan, bertepatan pula dengan kenaikan harga BBM. Kenaikan untuk kesekian kalinya di era presiden ini. Kenaikan menjelang desas-desus untuk menyambut pemilu tahun depan. Aaaarrrggghhh... kami makin pusing menyimak omongan para pejabat di televisi. Bahkan radio yang biasanya selalu mendendangkan lagu-lagu dangdut yang merakyat pun kini ikut-ikutan bicara masalah ini. Orang-orang makin banyak yang berisik soal kenaikan harga barang. Sembako naik. Kami harus bekerja lebih giat lagi untuk mendapatkan uang. Uang yang merupakan perantara pemenuhan hidup kami, penyambung hidup. Ah, suatu pemahaman yang primitif kah itu?

 

Ada pilkades di daerah kami, mengusung 3 calon. Dua orang calon dianggap mumpuni untuk menjadi seorang pemimpin desa. Seorang lagi masih anak muda, sudah berumur namun belum menikah. Orang-orang menjagokan dua calon yang akan berebut kursi. Maklum, dan terus terang saja, keduanya sama-sama menggunakan money politics. Kami tak pernah tahu menahu soal politik ini. Kami hanya menerima saja. Sebuah alasan yang sangat sederhana: kami butuh (uangnya). Atau kami yang begitu bodoh? Ah, kami memang masih awam. Kami perlu penyadaran.

Siapa yang tak mau menerima lembaran biru bahkan merah itu? Kami hanya tinggal menerima. Kami diberi, bukan mencuri. Kami tidak meminta, mereka sendiri yang berkehendak. Siapa yang akan menolaknya? Terlebih di tengah himpitan ekonomi seperti ini? Kami tak pernah mengerti kenapa pemerintah menaikkan harga BBM, padahal mereka pun sebenarnya tahu BLSM itu tak cukup untuk menutup semua biaya tambahan pengeluaran kami akibat kebijakan tersebut.

 

Hei, apakah kami ini seperti mainan? Kami tidak tahu. Kami begitu awam. Fokus utama kami adalah bisa memenuhi kebutuhan hidup. Menyekolahkan anak-anak kami agar tidak awam seperti kami. Ya, kami masih menginginkan sebuah perubahan. Dan kami juga menyadari kami masih belum bisa sepenuhnya melepaskan persepsi selama ini. Butuh satu ton pendidikan untuk mengubah satu ons persepsi. Begitulah kiranya yang pernah disampaikan Kiyosaki. Kami mengetahui kata-kata ini dari buku anak kami.

 

Kami berduyun-duyun ke TPS. Kami hendak membayar hutang kami. Sesuatu yang sangat mudah dilakukan, kami hanya perlu datang dan memilih dengan balasan yang cukup. Ini sangat menggiurkan, bukan? Kami tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami memenuhi janji. Kami tidak ingkar.

Kami pernah mendengar seorang sok  bijak berpetuah,“Jika sebelum terpilih saja dia berani menyuap, jangan heran jika nanti saat dia menjabat dia akan meminta kembalian”. Kembalian, tentu korupsi yang dimaksudkannya. Aaaarrrrggghhh... kami semakin bosan saja dengan pemberitaan korupsi. Orang-orang berdasi yang berpendidikan tinggi itu ternyata tak sebaik yang kami pikirkan. Kami benci. Kami muak. Namun kami tetap ingin anak-anak kami berpendidikan tinggi, agar tak seperti kami. Namun tentu agar tak seperti mereka. Kami ingin anak-anak kami menjadi orang baik, bukan pengkhianat rakyat.

Bicara soal pemberitaan korupsi, harusnya kami bersyukur karena ternyata kasus-kasus seperti itu terungkap. Kalau tidak ada pemberitaan, ada dua kemungkinan: tidak ada kasus, atau kasusnya tertutupi. Ah, entahlah. Kami tidak terlalu memedulikan masalah ini. Ada orang-orang hebat yang sudah mengurusinya, ilmu kami tak sampai ke sana.

 

Jadilah kami menggadaikan suara kami. Apakah suara kami begitu murah? Namun jika tanpa uang itu, kami lebih baik tidak datang. Ada hal lain yang lebih penting daripada menyempatkan diri untuk memilih. Lebih baik kami pergi bekerja. Kami tak mau bolos kerja hanya demi itu. Toh, mungkin suara kami tidak begitu berguna. Persepsi kami, siapapun pemimpinnya, tidak ada pengaruh yang berarti pada perubahan hidup kami. Kami memilih netral, golput. Kami tidak menolak pemimpin baru, namun kami juga tak mau memilih salah satunya. Siapa saja adalah sama.

 

Eh, bicara suara yang murah, bukankah itu artinya suara kami mahal jika kami tak mendapat balasan? Kami akan datang jika kami mendapat imbalan yang berarti secara materi. Ini bukti bahwa suara kami bukan cuma-cuma kan? Imbalan itu sebagai pengganti jam kerja kami, waktu yang kami korbankan hanya demi mencoblos atau mencontreng gambar calon pemimpin itu. Ah, ini sebuah persepsi yang bodoh mungkin kelihatannya. Namun begitulah yang terjadi.

Maka jangan heran, jika di tingkat pemilihan yang lebih tinggi (tingkat propinsi, atau nasional) kami absen dari pemilu. Itulah alasan-alasan kami. Kami memang awam. Kami masih bodoh. Meskipun sering pula anak-anak kami menasihati tentang sesuatu yang idealis. Ah, mereka tak tahu dan tak mengerti apa yang kami rasakan. Pelajaran sekolah telah meracuni  pikirannya. Namun kami tetap percaya mereka akan lebih baik dari kami, kami tetap memercayakan pada sekolah. Itu pilihan yang bisa kami lakukan.

Kami bukan penggadai suara. Kami tetap butuh pemimpin yang adil, jujur, dan mampu mengayomi kami. Kami masih merindukan pemimpin yang ideal. Namun maafkan kami jika apa yang kami lakukan ini adalah menggadaikan suara, sesuatu yang kalian larang, wahai Pemimpin.

 

*nyomot gambar di sini. 

 

Kediri, 29 Agustus 2013.