Mensyukuri yang Ada

Anis
Karya Anis  Kategori Motivasi
dipublikasikan 25 Maret 2016
(belum ada judul)

(belum ada judul)


Kumpulan artikel (sok) motivasi sebagai self-reminder.

Kategori

2.4 K Hak Cipta Terlindungi
Mensyukuri yang Ada

 

Mungkin kurangnya bahagia yang kita miliki karena kurang bersyukur. Ya, harusnya bersyukur dulu agar bisa bahagia. Bukan kalau sudah bahagia, baru bersyukur. Begitu?

Andai setiap orang bisa mensyukuri apa yang dimilikinya. Harta yang terlihat dan tidak terlihat. Harta yang bisa dinilai dengan uang dan bisa diperjualbelikan, serta harta yang tak bisa dinilai dengan uang. Tentunya mensyukuri tentang hal-hal yang baik.

Mensyukuri kesehatan badan. Pasti semua mengakui bahwa kesehatan memang nikmat yang besar. Sehat itu murah, yang mahal itu kalau sakit. Jadi bersyukurlah jika sekarang kamu memiliki mata yang normal, di saat yang lain memiliki gangguan mata minus, plus, atau silinder. Pun yang memiliki 'cacat' mata dan masih bisa melihat, bersyukurlah karena masih bisa melihat dan membaca ini (eh, mending melihat keindahan yang lain, ya :D) meski dengan bantuan alat.

Itu masih dari mata, belum ke organ yang lebih besar. Bayangkan tentang orang yang menghadapi penyakit semisal jantung, paru-paru, liver, usus, otak, dan lainnya, di mana mereka begitu mengharapkan anggota badannya bisa normal seperti kamu. Iya, kamu!

 

Mensyukuri keberadaan orang tua. Meskipun mereka pernah membuatmu sakit hati, tidak memenuhi yang kamu inginkan, atau kekecewanmu yang lain. Syukurilah jika orang tuamu masih lengkap, di tempat lain ada yang hanya merasakan kasih sayang dari salah satu orang tua entah hanya dari ayah atau ibunya. Pun, mungkin ada yang tidak pernah sama sekali merasakan sentuhan orangtuanya selepas ia dilahirkan.

Jika kamu yang saat ini masih memiliki orang tua, dan sedang kecewa dengan mereka, coba bayangkan jika mereka tidak bersamamu sekarang. Bayangkan jika pada saat dirimu kecewa adalah hari terakhir mereka hidup, hari terakhir yang harusnya kamu bisa berbuat baik utnuk terakhir kalinya pada mereka. Atau bayangkan tentang kebaikan-kebaikan yang telah mereka berikan selama ini. Apakah hidupmu akan sebaik sekarang jika dulu mereka membiarkanmu tanpa memenuhi segala kebutuhanmu? Bisa saja mereka tidak mau membiayai sekolahmu, membiarkanmu kelaparan tanpa menyediakan makanan, atau menelantarkanmu saat badanmu panas dingin.

 

Mensyukuri barang-barang yang sudah kamu miliki. Masih punya baju yang layak untuk dipakai, sekalipun tidak sebagus jika kamu bandingkan dengan milik temanmu. Mungkin kamu bisa membayangkan orang yang hanya memiliki satu baju bagus untuk dipakai di hari raya atau hari spesial tertentu.

Punya rumah? Mungkin rumahmu tidak sebagus jika kamu bandingkan dengan rumah temanmu. Di tempat lain ada yang hanya berlindung dari panas dan hujan di gubuk reot, rumah kardus, atau yang setiap hari berpindah-pindah mencari tempat berteduh.

Punya sepatu, tas, hape, laptop? Mungkin memang tak sebagus jika kamu bandingkan dengan kepunyaan temanmu. Mungkin kamu masih ingat begitu besarnya keinginanmu sebelum memiliki barang-barang tersebut. Tapi mengapa setelah memiliki semuanya itu rasanya tidak menggebu-gebu sebelum memilikinya? Timbul perasaan untuk memiliki yang lebih, lebih, dan lebih bagus lagi. Itu tidak salah, namun pastikan kamu sudah berusaha untuk mencapai yang kamu inginkan itu. Jangan mengeluh pada orang tua karena tidak dibelikan yang baru. Bukankah kamu akan mendapat dari apa yang kamu usahakan?

 

Salah satu hal yang bisa membuat kita bahagia adalah dengan tidak membandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain, untuk masalah harta. Namun dalam masalah ilmu, kita dianjurkan untuk melihat yang lebih tinggi.

Jika kamu mensyukuri nikmat Allah, maka akan ditambahkan nikmat untukmu, namun jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Nya sangat pedih.

 

Sebuah keluarga, jika setiap anggotanya memiliki rasa bersyukur karena manjadi anggota bagian keluarga itu, betapa bahagianya keluarga itu. Ayah yang bersyukur memiliki istri dan anak-anaknya. Ibu yang bersyukur menjadi istri dari ayah anak-anaknya. Anak yang bersyukur memiliki orang tua seperti ayah dan ibunya. Bersyukur dan bangga.

Setiap anggota keluarga yang dengan senang hati menjalankan perannya masing-masing. Ayah mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Ibu mendidik anak-anaknya. Dan anak berprestasi untuk memberi kebanggaan pada orang tuanya.

Pun dalam jangkauan yang lebih luas, seorang pemimpin yang bersyukur dan bangga memiliki rakyat di negerinya. Rakyat yang bersyukur dan bangga dipimpin oleh pemimpin tersebut. Pemimpin dan rakyat yang bangga hidup di negeri itu, mensyukuri keberadaan dirinya di negeri yang akan mereka makmurkan bersama itu.

Anda setiap orang bisa bersyukur dengan apa yang dimiliknya, mensyukuri keberadaannya, mensyukuri perannya, betapa indahnya kehidupan ini. Tidak ada yang mengeluh. Jika ada yang merasa harus ada yang diperbaiki, ada yang perlu ditangani, ada kesalahan, ketidakberesan, perselisihan, cukuplah dengan usaha memperbaiki, bukan dengan mengeluh, saling menyalahkan, atau perang.

  • view 251