"Menipu" Lebih Baik

Anisa Wulandari
Karya Anisa Wulandari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016

Setiap insan pasti keruh dosa. Tak peduli senista apapun perbuatannya, mereka hanya akan menganggapnya lalu lalang. Kisah ini hanya beberapa dari cuplikan mereka yang haus akan cat hitam. Ah, cepat sekali aku menyimpulkannya. Tetapi, bukan hanya mereka, aku pun turut berperan di dalamnya. Bahkan, aku menjadi tokoh utama dalam bonekaku sendiri. Bukan itu semua yang aku pikirkan.

Aku adalah seorang pelajar yang sedang menikmati peranku sebagai gaul muda. Layaknya burung, hinggap kesana kemari tak berpengaturan. Aku juga seorang pelajar yang bisa dikatakan, agamaku sedikit meragukan. Bukan, bukan hal itu yang ingin kusampaikan.?

Dirinyalah, membuat semua ini terjadi. Mata pekat penuh tanda tanya tak bermakna. Kulit cerah namun menggelapkan hampir semua seluruh organ dalamku. Rambut ikal bergelombang bagai pantai namun tak indah. Oh, sungguh ini?sangat bodoh!

Cinta? Tak ada yang asing akan hal tersebut. Sebagaimana wajarnya, ragaku pun pernah merasakannya. Terkagum-kagum, mengagungkan kelebihan sang lawan jenis, hal yang biasa. ?terhipnotis cerita yang berkeliaran serta bertebaran dalam lidah satu dengan yang lainnya. Tak masalah, itu semua sudah biasa.

Ketika itu, aku yang paling tersengat oleh sayatan runcing kata cinta. Perlahan-lahan namun tetap tenang. Aku memang menyukainya. Cinta pertama, siapa sangka? Tak ada yang tahu, bahkan malaikat pun tak bisa memprediksi. Setiap ulah yang kuperbuat, siapa yang tahu??

Kusebut dia Buncis. Kuambil dari bagian terpenting namanya saja. Dia memang tak sewangi melati, namun baunya membuat ketagihan. Dia bukan Anjasmara yang terpandang, namun rasanya ingin selalu kupandang. Dia, lebih indah dari apasaja yang terindah, bahkan aku tak lebih indah darinya.

Hangatnya sebuah pertemanan, mengiringi perjalanan cintaku. Bibir yang selalu tersungging tak pernah padam dalam setiap detiknya. Sangat indah, namun semuanya hanya bayangan. Seakan tak dapat kurengkuh dalam diriku yang sebenarnya. Yah, begitulah tak ada yang selalu di atas.

Hari setelah senyumku reda, terlihatlah tomat. Tomat dan buncis? bagaimana bisa berpisah? Hal yang tak mungkin. Meledaklah seluruh emosi yang terpendam. Tak seorangpun pasti mengerti. Bagai berteriak dalam air, sesenggukan serta gelembung dari hidungku mengotori seluruh pakaianku. Tetesan itu membuatku semakin marah dan marah namun terus saja menetes.

Seminggu kemudian, kuikuti acara kerohanian dalam sekolahku. Bercerita banyak hal termasuk kata kotor itu, cinta. Pada kenyataannya, sangat banyak makna yang kuambil. jatuh cinta tak salah, namun jika itu benar. Faktor pendorong lainnya, jangan terlalu menyukainya, karena hal tersebut menimbulkan konflik di dalam hati.?

Setelah kupikirkan kembali, aku memang gila. Bodohnya aku terlalu mengharapkan apa yang tak seharusnya kumiliki sekarang. Hinanya aku telah melebih-lebihkannya. Najisnya aku telah membuat dirinya seakan lebih indah dari sang penciptanya. Oh Tuhan, akulah yang paling keruh dalam beningnya air di dunia ini.

Tak sadar, mengapa dulu aku tak berpaling? LEbih baik aku berpura-pura tak terjadi apapun antara aku dan dia, meskipun hal itu menipu. Tetapi lebih baik bukan? Ah bodoh memang.

Kali ini, aku benar. Menipu hatiku akan membuatku merasa sedikit lebih lancar.

  • view 141