Farmakepo-part 1

Anisah Mahardiani
Karya Anisah Mahardiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Oktober 2016
Farmakepo-part 1

Ibarat benalu, ya, seperti itulah dirimu.

Hadirmu telah mengusik hidupku.

Namun aku salah sangka, engkau ternyata bukanlah benalu.

Engkau hanyalah tanaman obat,

yang jika ku olah lebih lanjut akan menjadi menjadi minuman berkhasiat bernama jamu.

Kata-katamu adalah penawar luka bagi raga yang hampa.

Cara mengajarmu, memaksaku untuk melihat dunia dari sisi yang berbeda.

Cita-cintamu, membuat imun tubuhku meningkat.

Jiwaku menjadi sehat.

Dan saat itu, ku temukan jati diriku yang sebenarnya.

Ku temukan diriku yang baru.

Terima kasih atas pelajaran kehidupan dan semangat yang engkau berikan...

 

***

Kelas Pharmacy Business Learning resmi dibuka hari ini. Kami yang berjumlah sebelas orang adalah angkatan perdana yang mengikuti program ini.

Rek, bagaimanapun nanti, kita harus kompak sampai akhir ya, haha.” Sisca mencoba menyemangati kami. Walaupun seorang perempuan, bisa dibilang ia punya nyali, visi, dan misi untuk memimpin kelas ini. Pantas saja jika ia dijadikan sebagai ketua kelas.

Pukul 13.00 WIB.

“Assalamualaykum...” Seorang dosen berpawakan kurus dengan gaya rambut klasik putih sebahu memasuki RK-D. Kami yang semula bergerombol, akhirnya semburat dan segera duduk di bangku masing-masing.

“Selamat pagi Saudara-saudara, selamat datang di RK-D, Ruang Kelas Dunia.” kelas dimulai dengan santai. Lewat 5 menit sudah setelah perkenalan singkat, dosen berusia 55 tahun itu kemudian menampilkan sebuah gambar dari materi presentasinya.

“Jika kalian menjadi seorang dosen, maka kalian ingin agar mahasiswanya menjadi seperti apa? Pak Rizky melempar pertanyaan sederhana, kemudian memandangi kami satu persatu. Alhasil setiap orang pasti dari kami harus menjawab pertanyaannya. Maklumlah, sepasang mata kesebelasan akan menjadi sasaran empuk bagi dosen yang haus jawaban.

“Silahkan tuliskan jawaban di papan,” tambahnya lagi.

Sisca mendahului untuk menuliskan di white board. Kemudian disusul Ara dan Satria. Aku tak ingin ketinggalan. Sesuai namaku, aku memilih urutan ke-4. Semua yang berada di ruangan mendapat jatah menulis di papan. Alhasil, terkumpullah tulisan bersejarah di RK-D. Lengkaplah sudah. Beberapa kata di papan berukuran 1,5 x 1 m2 siang itu telah berjajar rapi.  

“Baik. Saudara-saudara, jawaban kalian sungguh luar biasa.” Pak Riski terlihat sumringah. Kemudian ia mengulangi pertanyaannya lagi.

“Jika kalian menjadi seorang dosen, maka kalian ingin agar mahasiswanya: “JUJUR, KRITIS, VISIONER, PINTAR, INOVATIF, DAPAT DIANDALKAN, RAPI, CEKATAN, PEDULI, OUT OF THE BOX, EXCELLENCE WITH MORALITY.

“Nah kondisiya sekarang, saya adalah dosennya. Dan kalian adalah mahasiswa saya. Maka saya harap, kalian menjadi seperti apa yang telah kalian tuliskan.”

Aku mulai tersentuh dengan gaya mengajarnya. Namun tak lama kemudian, aku berbalik sebal. Sejak tugas kuliah yang seabrek itu dijelaskan, aku menjadi kesal padanya. Barangkali aku mulai tertantang .

 “Minggu depan kalian sudah harus mengumpulkan judul tugas kalian masing-masing. Selamat bertugas.”

2 jam sudah pertemuan pertama kala itu. Tepat pukul 15.00 kelas berakhir.

***

Selepas Pak Rizky pergi, seisi ruangan menjadi gaduh kembali. Jumlah mahasiswa angkatan yang paling sedikit se-Indonesia Raya ini, tampaknya akan menjadi kelas teristimewa.

“Sumpah, kayaknya aku salah masuk kelas!” Itu adalah komentar pertamaku saat itu.

 “Ini tak masuk akal!” Sepertinya Tio sepakat denganku.

 “Bagaimana bisa aku melewatinya?” tanyaku dalam hati. Aku mencoba menyangkal, mencari alasan dan pembenaran atas apa yang aku keluhkan. 

Sandi berbisik pelan, “Bagaimana mugkin hanya dalam waktu 1 bulan kuliah materi? Lalu 5 bulan lagi, harus menyelesaikan tugas kuliah sebanyak ini.”

“Oh, ujian kehidupan datang lagi...” Ternyata Sisca juga merasakan hal yang sama.

Di saat semua mahasiswa kebingungan seperti itu, tiba-tiba ponsel Rani bergetar. Serentak ponsel kami sekelas juga mendapat 1 pesan masuk. 

“Arghhh....”

“Ternyanya Pak Rizki yang sms.”

Kami mendadak histeris karena mendapat pesan yang sama di saat yang sepertinya kurang tepat.

Kontan saja, aku membaca layar ponselku.

“Kalian bukan sedang mengerjakan tugas, anggaplah kalian sedang menjalani passion kalian. Selamat bersenang-senang.”

“Arghhh.. ada ya dosen kaya gini? Ga pengertian banget sih!"

***

Di kelas PBL ini,  kami harus melewati laga ujian berbasis Farmapreneur.  Mulai dari tugas membuat poster ilmiah dan harus mempresentasikannya di simposium internasional, menjadi kolumnis di majalah dan koran nasional, mengikuti student exchange farmasi di negara selain ASEAN, membuat wirausaha berbasis farmasi dengan modal maksimal 100 ribu rupiah, dan magang farmasi selama 2 bulan. Satu lagi, sebagai tugas akhir kami diminta membuat seminar sekaligus menjadi pemateri yang dihadiri minimal 100 orang. Nantinya, Pak Rizky akan langsung hadir untuk memberikan penilaian di seminar tersebut. Ya, itulah kurikulum baru yang diterapkan oleh Pak Rizky selaku Dosen Senior yang diamanahi sebagai penanggung jawab kelas profesi di akademi Pharmasiana.

 (bersambung)

 

#tetaplahbertahan

#bersiapsiagalah

  • view 153