MAN JADDA WA JODOH

Anisa Fauzia
Karya Anisa Fauzia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Agustus 2016
MAN JADDA WA JODOH

Terilhami dari Novel JODOH karya Kang Fahd Pahdepi.

Mengikuti berbagai macam istilah 'anak muda' jaman sekarang untuk menyampaikan maksud dalam berkomunikasi, mulai dari istilah baper (bawa perasaan), cius miapa (serius demi apa), lebeh (lebay/berlebihan), geje (ga jelas), kepo (Knowing Every Particular Object/mau tau saja) dan banyak lagi istilah-istilah lain yang menurut saya ini lucu, dan ubahnya menarik untuk di bahas atau sekedar dipergunakan dalam bahasa sehari-hari, karena istilah/bahasa yang berkembang di masyarakat selalu berkembang sesuai dengan latar sosial budaya pemakainya, baik berbagai kondisi sosiologi maupun kondisi psikologi penggunanya.

Dan barang kali, istilah -Jodoh- sudah tak asing lagi di berbagai kalangan. Setiap orang pastilah beragam mengartikan apa itu jodoh, Banyak orang mengartikan jodoh itu sebagai misteri, atau erat hubungannya dengan Siti Nurbaya sebuah kisah tentang perjodohan dua insyan, Adam-Hawa, atau berbagai kisah lainnya yang mengisyaratkan tentang hubungan percintaan dua umat manusia.

Bagi kita yang masih sendiri/masih dalam penantian seringkali tersontak dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbau unsur -jodoh- pada beberapa moment tertentu, semisal : "kapan kamu nyusul?" kapan kamu bawa ekor (dibaca : bawa pasangan) dan berbagai macam pertanyaan lain. Ubahnya ini sesuatu yang menarik bagi saya. Apakah jodoh itu merupakan takdir Allah?

Setiap manusia pasti memiliki jawaban atas pertanyaan ini, ada yang mengatakan "ya" atau "tidak" dengan berbagai macam alasan. tentu saja islam memiliki sisi-sisi rasional. banyak ayat-ayat dalam al-qur'an yang menerangkan tentang jodoh, atau pernikahan sekalipun.

Dan saya sendiri berpendapat benar adanya jika jodoh itu adalah ketetapan Allah, tapi ada unsur kehendak manusia, jadi ada hubungan antara ikhtiar manusia dengan takdir Allah. bagi saya sesuatu dikatakan takdir apabila telah terjadi, ini artinya, masih ada campur tangan manusia untuk merubah suatu takdir, memantaskan diri mendapatkan -jodoh- terbaik adalah suatu keharusan. karena bukankah “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka". (Ar-rad: 11).

Adalah sebuah kisah tentang majikan dan seorang buruh, majikan pastilah memberikan upah pada buruh setelah ia lelah bekerja, Berbeda dengan Allah, sebelum bekerja kita dibekali mata, tangan, hati  dan organ lain untuk dipergunakan, bukan hanya untuk bekerja, tetapi sebagai seorang hamba, tugas kita yang utama ialah tentulah beribadah kepada-Nya sebagai abdi Allah. maka sudah sepantasnya kita Memantaskan diri karena Allah, bukan karena jodoh.

Barangkali kita pernah mendengar kisah salah seorang pria sahabat Rasul, pria ini mengaggumi seorang gadis, dan hendak melamar sang pujaan hati dan diantar bersama sahabatnya, dialah Salman Al-Farizi, beliau hidup di jaman rasul, singkat cerita pria ini mendatangani rumah sang gadis untuk segera meminangnya, di temani sahabat yang telah lebih jauh mengenal keluarga gadis ini, maka Salman pun mengutarakan keinginannya, tapi apa boleh dikata, sang gadis lebih memilih Abu Darda, pria yang mengantarkan Salman pada maksudnya.

lalu apa jawaban Salman?

"Semua mahar dan nafkah yang telah ku persiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda', teman  baik ku dunia akhirat. Dan aku akan menjadi saksi pernikahan bersejarah kalian!" masyaa Allah,, air mata kasih dan syukur membening redup.

Inilah cinta, inilah jodoh, manusia hanya bisa berikhtiar.

Jodoh kita,  saat ini mungkin belum menampakkan rupanya, tapi hati selalu menyakini bahwa dia ada entah di belahan bumi yang mana. Jika kelak berjumpa dengannya, cintailah dia dengan cara yang dicintai-Nya.

Dan terakhir, apapun yang telah kita ikhtiarkan hari ini untuk jodoh, maka kita kan bersamanya ! man jadda wa jodoh !!

 

 

 

 

Dilihat 206