LAMPU-LAMPU SUNYI

Anisa Fauzia
Karya Anisa Fauzia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Agustus 2016
LAMPU-LAMPU SUNYI

Di jalan sunyi tak berhujung, membumikan Bandung. tiba-tiba...

“Kamu suka itu?” tanyamu tiba-tiba, sambil menunjuk salah satu gerobak penjual makanan di sepanjang Jalan Burangrang.

“Suka”, jawabku sambil mengerutkan dahi, terheran karena kau tanyakan berulang-ulang.

“kamu mau makan itu?, tanyamu memastikan soal makanan kesukaanku. Tapi tak mengehentikan laju kendaraanmu.

Kamu putar arah, aku semakin bingung mau kau bawa kemana.

Rintik-rintik hujan itu membasahi hampir semua pakaianku, dan juga pakaianmu. Malam kian menunjukan pekatnya, Raut muka penuh harap dan cemas menyinggahi wajah bulat itu.

20 km/Jam laju kendaraanmu.

Seolah mengatakan ini malam terputusnya semua janji. Aku ingin menghenti kan waktu, cukup disini, saat kau dan aku bersama. Tapi tidak, ini bukan alarm kamar tidurku yang bisa ku hentikan kapan saja saat aku mau.

“kita mau kemana?” tanyaku cemas. Kamu masih diam, buat aku benar-benar bingung mau bicara apa, dan bagiku ini menyebalkan, serba salah.

Kau masih saja diam, ingin aku pukul punggungmu, dan cubit perutmu, atau bahkan memelukmu dari belakang, tapi sayang, kita hidup dalam sebuah garisan norma yang tak memperbolehkan kita melakukan hal tersebut.

Kau diam seolah tanpa tujuan, badanmu membelakangiku, tepat di lampu merah Dago, dari hitungan 48 kita hitung mundur.

Waktu menunjukan pukul 23.40, sampailah kita di tempat makan, kau duduk depanku, dan aku menghadapmu.

Kau menatap tak pada bola mataku, aku pun sama, kita saling memalingkan pandangan, tanganmu mengepal dan bibir atas mu mengigit bibir bawahmu, entah apa yang kau lakukan, tapi ku kira, kau menahan semua perkataanmu untuk memakiku. Hampir 15 menit kita saling berdiam.

Tiba-tiba aku teringat lagu 30 menit dari jamrud.

30 menit kita disini

tanpa suara

dan aku resah harus menunggu lama ..

kata darimu
mungkin butuh kursus

merangkai kata,

 untuk bicara

dan aku benci

harus jujur padamu,

tentang semua ini.

Dan benar, sialnya aku benar-benar membenci jujur kepadamu saat itu..

Karena bersama ini, harus ku kubur semua asa ku, pun juga asa mu.

Rupanya, lampu-lampu sunyi itu menyaksikan, kau dan aku terpisah hanya hitungan detik, sentian jarak, dan berjuta bentengan di hati_

Lampu-lampu sunyi, Bandung dan seisinya.

Semoga kau dapat memaafkanku, dan aku pun memaafkanmu.

  • view 228