Cara Puan Maharani Memaknai Sejarah

Anis Jaya
Karya Anis Jaya Kategori Sejarah
dipublikasikan 18 Mei 2017
Cara Puan Maharani Memaknai Sejarah

Kata Jasmerah, diperkenalkan oleh Soekarno sebagai seruan agar kita, bangsa Indonesia, jangan sampai sekali-kali melupakan sejarah: sejarah bangsa, sejarah kita, sejarah Indonesia. Bukan hanya dimaksudkan sebagai upaya untuk mengenang romantisme masa lalu, tapi juga bagian penting dari proses pembelajaran bangsa terhadap orang-orang yang mendahuluinya. Bangsa yang melupakan sejarahnya, adalah bangsa yang celaka. Sederhananya, munculnya paham-paham radikalisme dan ekstrimisme yang ramai akhir-akhir ini, salah satu disebabkan karena pemahaman yang sangat kurang terhadap sejarah bangsa.

Beberapa tahun berlalu, dalam konteks memaknai sejarah nasional, Puan Maharani menyerukan seruan yang sama dengan kakeknya, yaitu Jasmerah. Hal ini disampaikan ketika Puan Maharani menghadiri Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) yang dihelat di Rumah Pengasingan Bung Karno, Kota Bengkulu, dengan tema “Merawat Keberagaman Memori Kolektif untuk Memperkokoh Karakter Bangsa”. Lasenas merupakan suatu perjalanan untuk melihat kembali jejak-jejak sejarah yang telah ditorehkan di Kota Bengkulu.

Dalam sambutannya, tegas Puan Maharani mengatakan, bahwa Kota Bengkulu adalah kota bersejarah. Tempat tokoh-tokoh diasingkan sebagai akibat dari perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Maka, dalam konteks Lasenas ini, Puan Maharani berpesan agar momentum Lasenas ini dijadikan sebagai ajang menambah wawasan sejarah dan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Hal ini kontekstual ketika disampaikan di depan sekitar 200 pelajar seluruh Indonesia yang mengikuti Lasenas kali ini. Dengan berbagai macam perbedaan yang terjadi di antara 200-an pelajar tersebut, setidaknya mereka akan belajar memaknai perbedaan masing-masing. Itu akan menjadi modal untuk menjaga kebhinnekaan yang menjadi “ruh” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Artinya, bagi Puan Maharani, rekatan sejarah masa lalu harus tetap dipertahankan sebagai upaya kita bersama untuk tetap mencintai sejarah bangsa ini, karena bangsa yang tidak mencintai sejarahnya adalah bangsa yang tidak tahu berterima kasih kepada para pendahulu yang telah berjasa memperjuangkan Indonesia lepas dari sekapan kolonialisme yang menyengsarakan. Sejarah, diletakkan pada tempat yang seharusnya sebagai bagian dari pijakan yang dijadikan arah untuk melangkah pada kemajuan dan perkembangan selanjutnya.

Bagi Puan Maharani, setiap saat dan tempat dapat dijadikan momentum untuk belajar sejarah, menjaga semangat persatuan dan kesatuan bangsa, mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara konsisten serta membangun semangat juang dan kerja keras secara terus-menerus. Itu pulalah yang dipesankan kepada seluruh peserta Lasenas 2017 sehingga momentum tersebut dapat benar-benar memberikan manfaat dan tambahan nilai-nilai yang akan berguna, terutama bagi para pemuda sebagai penerus bangsa.

Sebagaimana Jasmerah yang digaungkan oleh Bung Karno puluhan tahun yang lalu, Puan Maharani, sebagai Menteri sekaligus cucu Soekarno, menggemakan kembali pentingnya untuk mengingat, menghargai, dan mengambil manfaat dari sejarah masa lalu yang menghiasi perjalanan bangsa ini. Pemaknaan sejarah yang seperti ini, secara konsisten menjadi pijakan dalam hidup Puan Maharani, dan ditularkan kepada setiap orang sehingga pesan dan semangatnya dapat tersampaikan.

  • view 73