Puan Maharani dan Langkah Strategis Revolusi Mental

Anis Jaya
Karya Anis Jaya Kategori Politik
dipublikasikan 04 Mei 2017
Puan Maharani dan Langkah Strategis Revolusi Mental

Sebagai ketua Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), dalam banyak kesempatan, kita bisa melihat Puan Maharani begitu gencar dan getol melakukan sosialisasi terkait pentingnya melakukan revolusi mental untuk menjadi bangsa yang maju, mandiri, dan beradab. Termasuk bagian dari gerakan revolusi mental yang secara konsisten disuarakan Puan Maharani adalah sikap toleransi yang harus menjadi prinsip dan nilai dalam merajut kehidupan berbangsa dan bernegara yang indah dan damai. Itulah bagian dari kerja Puan Maharani dalam gerakan revolusi mental.

Tolerensi menjadi penting terutama ketika kita menyadari, bahwa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama, ras, dan golongan. Perbedaan akan menyulut api perpecahan jika tidak bisa dirawat dengan baik. Hadirnya Pancasila sebagai dasar negara menjadi jawaban dan solusi karena penghargaan atas perbedaan menjadi nilai yang tak bisa ditawar dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Namun, pada perkembangannya, saat ini, telah banyak kita jumpai berbagai sikap dan prilaku intoleran yang muncul sebagai ekspresi atas perbedaan. Banyak kasus dan kejadian yang bisa kita temukan dengan mudah sebagai munculnya sikap intoleran yang membahayakan bagi bangsa ini. Maka disinilah pentingnya untuk menyemai dan memantapkan kembali nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan prinsip-prinsip dalam revolusi mental untuk menangkal bahaya intoleransi dan radikalisme, terutama di kalangan pemuda dan pelajar, di lingkungan sekolah dan pesantren.

Sehingga Puan Maharani merasa perlu untuk ikut menyelesaikan permasalahan ini. “Intoleransi sekarang sudah merambah ke semua lapisan. Perlu menanamkan kembali Pancasila pada dunia pendidikan formal dan pesantren”, tegas Puan Maharani. Sebab tidak mungkin melakukan dikotomi dan parsialisasi dalam dunia pendidikan. Pendidikan umum dan pendidikan agama harus berjalan beriringan, dan tentu saja dengan tanpa melupakan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Mengingat pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila dan revolusi mental sebagai sebuah gerakan, maka Puan Maharani, sebagai Menko PMK melakukan kerjasana (MoU) dengan PBNU. Langkah ini merupakan langkah strategis, terutama ketika dilihat dalam beberapa hal. Pertama, NU adalah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang pengikutnya berada di seluruh pelosok Indonesia. Kedua, NU adalah sebuah organisasi yang secara kultural tidak bisa dipisahkan dari pesantren sebagai titik pusat perjuangan. Maka, dengan menjadikan NU sebagai “kawan perjuangan”, tentu diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk menekan berkembangnya radikalisme dan intoleransi melalui jejaring NU yang sangat luas.

Pada sisi yang lain, hal ini juga menjadi momentum kebangkitan pesantren terutama ketika beberapa saat lalu berkembang sebuah sentimen yang tak mendasar dengan mengatakan pesantren sebagai sarang teroris. Sehingga dunia pesantren tetap menjadi tempat untuk menyemai nilai-nilai religius, dan pada saat bersamaan juga tempat untuk menangkal sikap intoleran dan paham radikalisme.

Kerjasama Kemenko PMK melalui Puan Maharani dengan PBNU ini menjadi penting dan merupakan sebuah langkah kerja yang cerdas untuk menekan bibit intoleransi yang mulai bermunculan dan berkembang di berbagai lini dan bidang melalui gerakan revolusi mental, sehingga Indonesia tetap menjadi negara beragama yang indah dan damai.

  • view 49