Puan Maharani: Umroh dan Doa Untuk Bangsa

Anis Jaya
Karya Anis Jaya Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Mei 2017
Puan Maharani: Umroh dan Doa Untuk Bangsa

Di tengah-tengah kesibukan tugas negara untuk melakukan monitoring dan evaluasi langsung persiapan pelaksanaan ibadah haji tahun ini di Arab Saudi, Puan Maharani menyempatkan waktu untuk melaksanakan ibadah umroh. Setelah sibuk dengan urusan duniawi, ada waktu untuk menyibukkan diri dengan urusan ukhrowi. Siklus super normal dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya harus balance, dan jika harus ada yang didahulukan, maka persoalan ukhrowi adalah jawabannya.

Itulah kenapa Puan Maharani menyempatkan diri untuk melakukan ibahada umroh, melalui kesadaran murni, bahwa semua kita adalah makhluk Allah, yang tugasnya hanya satu; beribadah kepadaNya.

Maka, dengan rasa tunduk penuh seluruh, Puan Maharani menghaturkan diri sebagai hamba yang sangat lemah di hadapanNya. Setiap proses dari pelaksanaan umroh dimaknainya sebagai representasi dari perjalanan hidup yang penuh perjuangan menuju pengabdian dan ibadah kepada Allah. Malam itu, dengan baju serba putih, ia begitu khusyu’ melakukan satu persatu prosesi ibadah umroh hingga duduk bersimpuh di Masjidil Haram, setelah mengelilingi Ka’bah dan mencium hajar Aswad.

Di tengah hiruk-pikuk manusia yang malam itu mengadu, Puan Maharani menikmati setiap dzikir dan doa yang dipanjatkannya. Tak ada suara, karena hati lebih banyak bicara. Memejamkan mata, menghadirkan segala apa yang telah terjadi dalam hidup, tanpa terasa, butiran kristal air mata jatuh membasahi ingatan dari setiap dosa yang telah dilakukan. Betapa hamba begitu lemah dan begitu lengah, serunya dalam hati.

Malam itu, Puan Maharani memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah atas begitu banyak dosa yang telah dilakukan. Memperbanyak hamdalah, syukur kepada Allah atas begitu banyak nikmat yang tanpa sengaja selalu diingkar. Memuji dan memuja asma Allah untuk menyucikannya dari berbagai anasir kehidupan dan penyekutuan. Ia datang bertamu, duduk bersimpuh, di depan Ka’bah, di rumah Allah.

Di tempat suci yang penuh berkah itu, Puan Maharani mengeluarkan segala keluh-kesah, karena hanya kepada Allah-lah, segala keluh-kesah menjadi lebih indah dan berkah. Meski dengan segenap rasa malu, Puan Maharani begitu menikmati setiap jenak dari dzikir dan curhatnya. Ia terpekur dalam diri, merenungi setiap apa yang terjadi. Sebab ia tahu, dalam dirinya selalu ada upaya untuk menjadi suci.

Di akhir simpuhnya, Puan Maharani berdoa untuk keselamatan dan keberkahan hidupnya, orangtuanya, dan seluruh keluarganya. Tak lupa, ia panjatkan doa untuk bangsa agar tetap diberi kekuatan menanggung segala derita dan lara menuju bangsa yang perkasa. Ia berdoa, agar Indonesia bisa menjadi negeri yang thoyyibah dan selalu ada dalam pengampunan Allah. Ia berdoa, agar bangsa tetap merawat yang bhinneka dan bisa menghilangkan segala perpecahan hanya karena berbeda. Ia berdoa, agar Indonesia menjadi bangsa yang aman, damai, tentram, terutama pasca kegaduhan yang berbulan-bulan menimpa.

Puan Maharani berdoa, memohon pertolongan Allah agar dirinya selalu dikuatkan untuk memikul setiap beban dan tanggung jawab membangun negeri. Untuk diberi kekuatan menjaga integritas diri. Untuk diberi kekuatan menyejahterakan penduduk negeri dengan kemampuan yang ia miliki. Untuk tetap amanah dalam memegang setiap tugas membela negeri. Untuk diberikan kekuatan menjaga kesucian hati. Untuk diberikan kekuatan menghadapi setiap caci-maki dan musuh yang benci, dan untuk diberikan kekuatan melalukan pengabdian diri sepenuhnya untuk negeri.

Malam itu, Puan Maharani menikmati kesiur sepoi angin malam yang berputar-putar di dalam Masjidil Haram, lalu menutup segala keluh-kesah dan pintanya dengan menghapuskan kedua telapak tangan kewajahnya yang basah.

“Aamiin…” lirihnya dalam hati.

  • view 41