Pilihan untuk Berpikir

Aniq Muhammad
Karya Aniq Muhammad Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 02 Maret 2016
Pilihan untuk Berpikir

Kita hidup ibarat berjalan disebuah jalan. Entah terjal, mulus, mendaki, lurus, ataupun berkelok-kelok. Ya, sebenarnya ada lebih banyak lagi nama-nama jalan kehidupan lainyang?tak pernah kita duga dan datangnya tiba-tiba. Kita seperti terpaksa mengikuti jalan tersebut. Tetapi kita harus tetap menjalaninya dengan bahagia, kan?

Kita tidak pernah tahu jalan didepan nanti apakah akan tetap sama dengan jalan yang saat ini kita pijak. Tapi setidaknya kita masih dapat memprediksi jarak dua atau tiga meter dari posisi kita saat ini. Semacam menyiapkan sebuah payung ketika langit dirundung mendung. Kita tak pernah tahu apakah nanti hujan atau tidak itu?rahasia Tuhan.Kita haya diberi kesempatan dan menjalaninya dengan baik. Barangkali prediksimu benar, tetapi Tuhan memiliki prediksi yang lebih meyakinkan, bukan?

?Berpikir

Bagaimana jika orang-orang memilih untuk tetap diam, menunggu untuk yang entah, dan enggan memerhatikan ihwal disekitarnya. Hanya menyia-nyiakan waktu yang terus-menerus beguguran. Membiarkan akal pikirannya diam?hingga mengarat karena terlalu jarang digunakan untuk berpikir?bahkan tidak sama sekali. Barangkali tak ada yang lebih menyedihkan dari orang yang tak mau berpikir. Atau sekadar memerhatikan sesuatu untuk kemudian memunculkan pertanyaan yang mengganjal terhadap sesuatu tersebut. Mungkin inilah yang disebut dengan berpikir secara kritis. Kebanyakan orang selalu memiliki pertanyaan yang mengganjal di benaknya, namun sedikit sekali yang berkeinginan untuk menemukan jawaban dari kegelisahannya tersebut. Masihkah kegelisahan-kegelisahan meligkupi dirimu, menyimpan tanya-tanya yang menggantung?

Bukankah Tuhan telah berulangkali ?menyindir? manusia dengan sederhana didalam al-Quran, diantaranya dengan kalimat:?afal? ta?qilun, atau afal? tatafakkarun dan juga afal? yatadabbaruna al Qur?an. Ya, barangkali kita tidak pernah benar-benar menyadarinya, atau bahkan benar-benar tidak pernah sadar dan tahu ihwal ?sindiran? Tuhan tersebut. Apakah kita terlampau pantas disebut manusia, sedang kita melulu mengabaikan peringatan Tuhan. Ah, kurasa tidak!

?

Ya, Tuhan akukah insan yang bertanya-tanya?

Ataukah aku Mukmin yang sudah tahu jawabannya?

Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi

Aduhai, akan kemanakah kiranya aku bergulir

Di antara tumpukan maksiat

yang kutimbun saat demi saat

Akankah aku melihat sezarah saja

kebaikan yang pernah kubuat?

Ya Tuhan, nafasku gemuruh, diburu firmanmu!

?

[KH. Mustafa Bisri, Tadarus]

?

?Pilihan

Mungkin karena ke-lupa-an kita dalam memaknai Hidup, atau kelatahan kita untuk mengeja tiap bait-bait kehidupan, kita terlanjur tertelan pada kesombongan diri kita sendiri; tenggelam dalam getir nestapa kerugian. Hidup selalu memberikan pilihan-pilihan. Dan manusia sendirilah yang berhak atas palihannya sendiri. Maka, tutuplah pintu kesombongan lalu bukalah pintu-pintu takwa. Lihatlah ke kedalaman hatimu sekemudian temukan dirimu yang percaya atas pilihan yang kau yakini. Lupakan bayang-bayang keraguan.

?

Mungkin dikemudian waktu kamu didera masalah,

atau dilema yang tak kunjung menemui satu pilihan

Sebuah pilihan tak pernah salah,

tetapi rasa khawatir kesalahanlah yang merenggut kepercayaan sebuah pilihan

Barangkali kamu masih dihantui sebuah pilihan dari?beberapa pilihan yang lain,

yakin saja kepercayaan dirimu tak mungkin akan menjatuhkanmu!

?

Ya, barangkali rasa takut memang harus dijaga, dan membiarkannya terus mengecambah. Semacam menumbuhkan mausal ketakutan diri kita yang sebenarnya?tanpa ditutup-tutupi. Karena pilihan-pilihan terkadang muncul dari ketakutan diri kita untuk menentukan sebuah pilihan.

?

Gambar diambil?dari sini

  • view 189