Bahagiakan orang tuamu maka kau akan bahagia

Anik Sofiyah
Karya Anik Sofiyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Bahagiakan orang tuamu maka kau akan bahagia

Hujan deras membuat saya dan isteri saya berteduh di rumah sederhana. Hari itu saya baru saja mengantarkan isteri saya memeriksa kandungan yang telah memasuki minggu ke-30.

Tiba-tiba terdengar suara dari teras rumah. “Dek, masuk aja kesini nanti disitu basah.” Ujar seorang ibu yang tak muda lagi bersama suaminya.

“enggak bu, terima kasih” ucap suamiku dengan penolakan halus.

“udah gapapa, kasian tuh isterinya lagi hamil besar.” Ucap sang ibu.

Akhirnya kami putuskan untuk duduk bersama mereka.

“Adek-adek ini namanya siapa? Dan dari atau mau kemana?” Tanya si bapak.

“Saya Fahmi dan ini isteri saya Zahra. Kami habis periksa kandungan istri saya pak di bidan Kiki”. Jawaban saya kepada mereka.

“Ooo anak keberapa ini?” Tanya si ibu.

“Anak pertama bu,pak Alhamdulillah”. Jawab isteri saya

“Maaf kalo boleh saya tau Bapak dan ibu tinggal berdua aja disini? Soalnya rumahnya sepi sekali”. tanya saya.

“Iya kami Alhamdulillah dikaruniai 7 anak dan Alhamdulillah mereka sudah memiliki keluarga masing-masing. Anak kami menawarkan untuk tinggal bersama mereka tapi saya tak mau karena saya ingin menikmati masa tua saya bersama si cinta isteri saya dan biarlah mereka menikmati keluarga kecil mereka. Ya walo kadang saya kangen tapi ya begitulah kehidupan lambat laut akan satu per satu tiada.” Jawab bapak.

“Maaf pak dan bu kalo boleh tau ibu dan bapak usianya berapa ya kok terlihat seperti masih muda dan gagah sekitar usia 60an.” Tanya isteri saya kepada mereka sambil tersenyum manis.

“Hehe usia saya tahun ini sudah menginjak 80 tahun dan isteri saya 76 tahun.” Ucap bapak.

Masya Allah.. seketika kami berbarengan kaget.

“Kalau boleh tau apa tipsnya sepertinya ibu dan bapak bahagia, harmonis sekali padahal usia bapak dan ibu tak lagi muda”. Tanya saya

“Keberkahan dek.. keberkahan.. keberkahan yang kami dapat hasil membahagiakan orang tua kami. “bahagiakan orang tuamu maka kau akan bahagia”. Meski kalian sudah menikah jangan pernah lupakan kedua orang tua kalian walau keluarga kalian juga sedang berkekurangan harta. Bahagiakan mereka terlebih dahulu. Itu yang kami lewati selama menjalankan pernikahan kami menginjak 53 tahun pernikahan.

Saya ini terlahir dari kelurga yang tidak mampu, bapak saya buruh yang sakit-sakitan dan ibu saya hanya ibu rumah tangga. Ibu saya memiliki 5 anak yang harus dia rawat. Kalau bapak sedang kambuh, ibu saya seperti merawat 6 anak dan harus mencari makan untuk kakak saya, saya dan adik-adik saya. Ibu saya harus berhutang sana-sini untuk menghidupi keluarga, karena ibu yang tak berijasah dan tak punya pekerjaan hanya mengandalkan hasil panen jual kacang panjang yang ia jual di depan rumah.

Capek dek jadi orang miskin, dihina direndahkan. Saya memiliki dua kakak dan satu persatu kakak saya mulai berkerja. Beliaulah yang membantu kami walau tak banyak. Dan saya bertekad tuk berusaha mengangkat derajat keluarga bukan dengan harta tapi dengan ilmu. Alhamdulillah sejak SD- saya S3 saya mendapatkan beasiswa sehingga uang beasiswa bisa menghidupkan keluarga saya ini. Ketika saya lulus S2 saya memutuskan menikah dengan gadis yang kebetulan adalah adik dari sahabat kecil saya. Saya memilihnya karena saya mengagumi bagaimana dia berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Saya izin kepada orang tua saya tuk menikahinya walau hanya sederhana dan saya sangat bersyukur si cinta ini dengan keluarganya mau dengan saya. Kami memang tidak melewati pacaran saya hanya ingin menghidari zina dan saya beranikan diri untuk datang menemui ayah si cinta ini. Memiliki visi dan misi menikah yang sama. Saya beruntung sekali memiliki isteri seperti cinta yang rela berbagi harta yang saya dapat untuk membantu kedua orang tua saya. Setelah menikah saya lanjut S3 dengan beasiswa di kampus yang bonafid di Saudi Arabia. Meski beasiswanya cukup besar tapi saya harus berbagi dengan keluarga besar saya dan keluarga kecil saya. Saya ingat betul pada saat itu saya bertekad untuk mengobati bapak saya yang buta karena katarak. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, saraf mata bapak sudah tidak bisa disembuhkan karena katarak yang sudah menua. Sedih rasanya bagaimana lagi saya harus membahagiakan mereka sedangakan usia bapak saya sudah menginjak 70 tahun pada saat itu. Akhirnya saya dan si cinta memutuskan tuk mengundang mereka ikut ke Saudi Arabia tuk menjalankan umroh bersama. Setidaknya bapak saya tetap senang walo sedikit kecewa karna matanya yang sebelah tidak bisa digunakan lagi. Sejak itu keberkahan-keberkahan itu muncul mulai istri saya melahirkan tanpa bayar sepeser-pun, asi istri saya bisa keluar sebelum bayi itu lahir, ketika dipesawat bapak gak kambuh padahl bapak saya bisa batuk berdarah bila terkena dinginnya AC, dan ketika itu di titik saya tak punya uang lagi dan saya harus membelikan tiket pulang pesawat mereka. Allah Maha Kaya de saya memenangkan hadiah tiket ke Barcelona selama dua hari dari bank dimana saya menabung. Dan karena saya sedang butuh uang, saya sampaikan pada pihak bank, bisakah hadiahnya ini di uangkan dan Alhamdulillah bisa. Ahhh masi banyak lagi keberkahan-keberkahan yang saya dapat dek, saya percaya semua itu berkat doa-doa orang tua dek yang ibu dan bapak saya ucapkan ketika saya dan istri saya berpamitan atau sedang menghubungi mereka via video call diakhir obrolan.

Pernikahan itu bukan hanya kamu dan istri kamu yang menikah tapi keluargamu dan keluarga isterimu, maka bahagiakan mereka.

Bila kamu telah menikah, jangan pernah busungkan dadamu dihadapan isterimu. Bukankah baginda Rasul sangat memuliakan isterinya? Jangan lupa bahagiakan isterimu. Bisa jadi doa isterimulah yang membuat kamu sukses.

Bila kamu telah menikah, dan kamu dikaruniai anak, bisa memiliki rumah dan mobil itu semua bukan patongan sebuah keberkahan berumah tangga. Keberkahan itu ketika kalian bersyukur apa yang telah didapat, terutama isteri qonaah dengan apa yang telah suami dapatkan dari apa yang telah ia ikhtiarkan.

Dan perlu diingat kamu sebagai pemimpin dalam keluarga, bimbing anak dan isterimu jangan pernah kejar dunia, karena dunia ini fana kita hanya singgah yang kelak kita akan berpisah. Bimbinglah keluargamu tuk terus bahagia dan tanamkan ke mereka tuk sehidup sesurga. Wah saya jadi cerita panjang nih.” Ujar bapak

“Gapapa pak. Wah niatnya berteduh malah dapat motivasi dalam berumah tangga nih. Kami pamit ya pak bu hujannya sudah reda. Maaf nih kelamaan jadinya”.Ucap saya kepada mereka.

“Tidak apa dek, kami senang berbagi cerita supaya bisa membahagiakan orang tua mereka, kapan-kapan main kesini lagi ya”. Ucap bapak dan ibu.

“Kami pamit ya pak, bu “Assalamu’alaikum””.Ucap kami

“Wa’alaikummusalam”. Balas mereka

***

“Mas, kok ceritanya hampir sama ya sama yang dialami kita”. Kata isteri kepada saya.

“Iya ya say, Mudah-mudahan keluarga kita terus penuh keberkahan ya sayang. Kamu yang sabar ya.. kapan lagi kita membahagiakan mereka, selagi mereka masi ada”. Balas saya kepada isteri.

***

 

  • view 584