Perihal Rindu Tanpa Jemu

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Juli 2017
Perihal Rindu Tanpa Jemu

Mendung sore membayang pada wajah keriputnya. Gelap kelabu kemerah-merahan menyaputi kedua mata cekung yang penglihatannya sudah mengabur. Ada resah yang disembunyikan dalam bilik hatinya. Dalam doa, tersimpan beribu-ribu harapan yang telah lama tersulam seiring bertambah renta usianya. Tak banyak yang dia pinta, hanya menyemoga anak cucu datang ke rumah tuanya. Namun waktu tak kunjung menginginkan temu, kesunyian masih merajai ambang pintu rumah itu.

Ada suara deru motor berhenti di pelataran rumahnya yang terkotori daun-daun kering. Tubuh ringkihnya sudah tak mempunyai daya untuk sekadar memungut daun yang berguguran dari pohon mangganya. Sekali pun dia juga tak terpikir untuk memanen mangga manalagi yang telah ranum di dahan. Itulah kenapa setiap siang sepulang sekolah banyak anak badung yang melempari mangganya dengan batu atau diam-diam memanjatnya. Nenek itu tidak peduli berkilo-kilo mangga telah raib dicuri oleh tetangga, serta mangga busuk berjatuhan sisa dimakan hewan liar.

Dia terkesiap segera berdiri menyambut kedatangan seseorang yang mungkin saja dialah sosok yang dinantinya selama ini. Matanya berbinar-binar menyiratkan kebahagiaan. Belum juga terlihat langkah kaki siapa yang terdengar, dia sudah meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah langkah kaki anak dan cucunya yang terakhir dia dengar lima belas tahun lalu.

Untuk kesekian kali, pil pahit kekecewaan harus ditelannya. Bukan anaknya yang datang dari pulau seberang, tapi segerombolan anak muda yang rajin menjenguknya. Mereka bukan siapa-siapa, tapi rela datang untuk menepis kesunyian rumah berdinding anyaman bambu yang dihuninya. Mereka mengaku sebagai relawan—relawan pengusir kesepiannya.

“Sudah makan, Nek?” Seulas senyum tulus merekah di bibir mereka. Nenek tersenyum memamerkan giginya yang sudah tak tersisa.

“Sudah. Kalian sudah makan?” Mereka mengangguk bersamaan.

Suaranya bergetar menyembunyikan keresahan yang menghinggapi ruang hatinya. Namun, tak ada yang tahu, karena nenek tak pernah ingin mereka tahu. Nenek pikir, biar saja penantian ini cukup dia rasa sendiri. Kesepian yang sudah mengakrabinya bertahun-tahun itu sudah bebal dirasakannya. Rasa pilunya sudah terlalu perih, namun sesakit apapun perasaannya dia sudah terbiasa.

“Nenek duduk saja. Nanti capek.” Tangan lembut gadis belia itu menuntun tubuh lemah nenek duduk di kursi bambu reyot.

Di antara lima pemuda pemudi yang datang, hanya dua yang bisa duduk di samping nenek dan sisanya berdiri. Tak ada lagi kursi yang ada di rumahnya. Kasur nenek pun sudah kempes nyaris terlihat kapuk di dalamnya sudah menghilang. Almari nenek juga sudah keropos dimakan rayap.

Setiap pemuda pemudi itu datang, nenek diperlakukan seperti ratu. Rambut yang nyaris tak terlihat warna hitamnya itu disisir oleh gadis berbaju oranye, lalu baju lusuhnya yang terbuka lebar dikancingkan oleh gadis berjilbab hitam. Nenek diam membiarkan mereka memperlakukannya seperti boneka barbie yang dirias. Lalu kemudian, seorang laki-laki berambut cepak mengulurkan gelas kecil berisi madu murni seperempatnya. Nenek menurut, dia meminum madu itu pelan-pelan. Berulang kali lidahnya mengecap-ngecap merasakan manis legit cairan kental keemasan itu.

Begitulah, mereka datang selalu membawa apa yang tak tersedia di rumahnya. Nenek tak punya apa-apa, hanya rangkaian ucapan terima kasih dan doa kebaikan untuk membalas perhatian mereka. Meski mereka tak berbuat banyak untuk kehidupannya, dan apa yang dilakukan mereka tak cukup untuk menebus kesepiannya selama ini, tapi mereka tetap awet dalam ingatan tuanya. Meski tak ingat nama mereka satu per satu, tapi nenek tetap ingat siapa mereka.

Hanya dengan mereka nenek merasa didengarkan. Kadang, saat resah menyusup begitu hebatnya, dia bercerita tentang para anak cucunya. Dia berkisah bagaimana saat rumah tua ini masih ramai dengan anak-anaknya. Mereka pergi ke pulau orang untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tapi nyatanya janji pulang tak pernah mereka indahkan. Nenek bilang, dia percaya anak mereka masih ingat nenek dan suatu hari nanti akan pulang meramaikan rumah tua ini seperti dulu.

Lalu mendadak rumah reyotnya menjadi sepi sepulang pemuda-pemudi itu. Kepergian selalu menyisakan ingatan tentang anak cucunya. Mungkin rumahnya juga akan ramai dengan gelak tawa seperti tadi jika anak cucunya berkumpul. Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya. Lalu tanpa disadari, sebulir air meluncur di pipi cekungnya. Kenangan lama berhasil mengaduk-aduk perasaannya.

“Kenapa, Nek?” Suara Surti, tetangga depan rumahnya datang membawa rantang berisi makan siang.

Nenek diam tak menjawab. Hanya matanya yang terlihat dipenuhi kilau embun.

“Pasti rindu lagi ya sama anaknya?” Suara cempreng Surti membuat perasaan nenek semakin berantakan.

“Sudah berapa tahun peristiwa gelombang tsunami membawa anak nenek pergi? Sudah tiga belas tahun mereka tak ada kabar, berarti mereka sudah tidak ada. Tak perlu ditangisi, mereka sudah tak hidup lagi.” Nenek melihat gerakan bibir Surti yang tak merasa berdosa mengucapkan itu. Surti sibuk membersihkan piring bekas makan di meja samping nenek.

Nenek terpekur meratapi tak ada orang yang mau mengerti tentang penantiannya. Atau tentang kesepian yang perlahan-lahan menikamnya di rumah yang sempit dan gelap ini.

Rumah nenek tidak mempunyai ventilasi yang memadai. Udara sulit masuk ke rumahnya. Yang ada rumah ini terasa pengap dan panas. Banyak pakaian bertumpuk di tempat tidurnya membuat tak sedap pemandangan mata.

“Sudah, dimakan sayurnya.” Surti akhirnya pergi. Begitulah, tetangga yang mengaku iba dengan nasib nenek yang sebatang kara itu hanya datang dan pergi untuk memberi makan.

Dia dan para tetangga tak pernah bertanya bagaimana perasaan nenek. Bagaimana nenek selalu dicekam kesepian ketika malam menghadirkan selimut gelapnya. Mereka mengira nenek hanya butuh makan, padahal dalam palung hati nenek ada jeritan yang telah lama tak terdengar, hanya menggema-gema didengar oleh dirinya sendiri dan Tuhan.

Nenek tak perlu marah dengan sikap Surti yang seperti itu, karena dia sadari mungkin wanita beranak dua itu sudah lelah mengurusnya. Para tetangga juga sudah bosan melihat keadaannya yang hanya merepotkan.

***

Sebulan setelah itu, doa nenek terkabul. Rumahnya menjadi ramai. Banyak orang datang untuknya. Entah karena kasian atau apa, mereka rela mendatangi nenek tua yang hanya merepotkan itu. Mendadak semua orang bergotong-royong mengurusinya.

Pemuda-pemudi yang biasanya menjenguk nenek juga datang, tapi kali ini sedikit pun tak ada tawa yang menggema dari mereka untuk nenek. Seulas senyum pun rasanya berat untuk mereka lukiskan. Perasaan mereka mengharu-biru.

Namun sayang, anak nenek belum juga pulang. Sudah belasan tahun lamanya nenek menunggu tiada jemu, mereka belum juga berkabar. Tapi mungkin saja, mereka tak pernah datang karena sudah berpulang lebih awal dipanggil Tuhan. Jika nenek selalu berdoa untuk dipertemukan dengan anak cucunya, mungkin inilah jawaban Tuhan.

Dan hari ini, untuk terakhir kalinya nenek menjadi istimewa. Dia diantar beramai-ramai oleh para tetangga untuk bertemu anak cucunya di peristirahatan terakhirnya.

*Mengenang sebulan kepergian Mbah Tosi

  • view 57