Lebaran Paling Berat

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Juni 2017
Lebaran Paling Berat

Di luar sana banyak orang menghabiskan waktu lebaran tahun ini dengan berlomba-lomba mengunggah foto keluarga yang manis. Mereka senang memperlihatkan senyum manisnya dengan memakai baju baru.

Tidak dengan aku. Lebaran tahun ini adalah momen paling berat. Mungkin bagimu terkesan lebay, tapi jika kau ada di posisiku, akan terasa betapa beratnya di lingkaran orang yang tidak sependapat denganmu.

Entah sudah berapa waktu kuhabiskan di dalam kamar dan di atas sajadah. Sudah ratusan istigfar aku gemakan, dan ratusan bulatan tasbih aku putar mengelilingi jemari.

Sebenarnya simple. Aku hanya ingin menjalankan syariat Islam—tidak ingin bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahram. Tahukah? Hari pertama lebaran, sepanjang perjalanan banyak mata memandang aneh, bahkan ada tawa yang menggaung dari segerombolan laki-laki yang mencibir, dan yang paling menyakitkan adalah teguran dari keluargaku sendiri.

Aku menjadi orang yang terasing. Kuakui aku juga salah. Tidak seharusnya mengurung diri di kamar. Tidak seharusnya membelenggu diri dengan perasaan resah tak berkesudahan. Tapi apalah, aku hanya wanita yang baru hijrah dan hatiku belum cukup kuat untuk menerima segala perlakuan mereka.

Jujur, aku sebenarnya juga merasa tak enak. Berpasang-pasang tangan laki-laki aku tolak, dan lebih memilih untuk menelungkupkan tangan. Tapi rasa tak enakku kepada Allah dan nabi-Nya lebih besar, sehingga lebih memilih untuk tetap memegang pendirianku.

Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3.

  1. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman" dan mereka tidak diuji?
  1. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Begitulah, Allah sedang menguji. Allah ingin tahu seberapa besar kecintaanku terhadap-Nya dan Nabi Muhammad. Seberapa inginnya aku tetap teguh memilih jalan-Nya.

Kupikir, andai saja Allah tidak mengujiku, mungkin tidak ada air mata yang membasahi sajadah setiap akhir salat. Tidak ada rapalan doa dan rintihan yang mengangkasa dari manusia ringkih ini kepada-Nya. Aku merasa dengan cara inilah semakin dekat dengan-Nya dan bisa merasakan nikmatnya berlama-lama dengan-Nya.

Jika tidak diuji, mungkin aku juga tidak akan mengerti, bahwa hanya kepada Allah tempat berlindung terbaik. Dia-lah Maha Besar yang memiliki langit dan bumi beserta isinya.

Dalam setiap sujud, aku selalu memohon kepada Allah untuk memberi kekuatan atas jalan yang kupilih. Jika Engkau Ridho aku diuji seperti ini, aku ikhlas. Aku memohon, kuatkanlah untuk menghadapi ini semua. Seberapa besar pun ujian yang Engkau timpakan, tegarkanlah untuk tetap memilih sebaik-baiknya jalan yaitu jalan-Mu. Tautkanlah hatiku kepada-Mu, agar apa pun yang terjadi, tetap Engkau yang menjadi pilihanku.

Aku adalah orang yang tidak tegas, selalu sungkan dengan orang, bahkan sering menyakiti perasaanku sendiri hanya untuk menjalani pilihan orang. Tapi Allah Maha Besar. Meski hati bergemuruh melihat tatapan aneh mereka dan meskipun tahu anggota keluarga ada anggapan miring tentangku, sama sekali tangan tak pernah mau aku julurkan untuk menyentuh pada apa yang bukan hakku.

Meski aku menjalaninya dengan berat, dan ada yang menyarankan untuk menghentikan niat, sama sekali tidak ada niatan untuk berhenti sampai di sini.

Sudah bertahun-tahun aku melakukan maksiat dengan tangan ini, tak ingin lebih banyak lagi sisa umur yang aku gunakan untuk berbuat dosa lagi. Tak ingin semakin banyak api neraka yang menyulut tubuhku. Dan juga tak ingin, sekecil apa pun perbuatan maksiat menjauhkan aku dari Allah.

Aku memang bukan orang yang suci dari dosa, tapi hanyalah orang yang senantiasa memperbaiki diri. Aku yakin, Allah selalu membersamai orang-orang yang berusaha menjadi lebih baik.

  • view 68