Para Jodohku di Rumah Zakat

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Juni 2017
Para Jodohku di Rumah Zakat

--Jika kita berlelah-lelah di jalan Allah, InsyaAllah surga adalah tempat istirahat terbaik yang disiapkan oleh-Nya--

Ketika ada kata “para”, maka kata yang mengikutinya berarti jamak. Terdengar aneh memang, jodoh setiap orang diciptakan tunggal, tapi aku menggunakan kata jamak. Aku menemukan arti baru tentang jodoh. Jodoh tak lagi hanya bisa diartikan secara sempit sebagai pasangan hidup, tapi juga semua orang yang bertemu dengan kita saat memiliki hajat.

Arti ini kudapat dari Mas Pandu—salah satu Relawan Nusantara Malang—saat aku bersama teman relawan Malang lain melakukan aksi Syiar Quran. Dalam setiap sambutan, Mas Pandu bilang, “Alhamdulilah, hari ini kita berjodoh untuk membagikan Al-Quran dari donatur.”

Dari situlah aku menyadari, meski aku belum mendapatkan jodoh dalam arti pasangan, aku sudah bertemu dengan para jodohku di Rumah Zakat.

Aksi Syiar Quran mungkin hanya terlihat biasa bagi orang lain. Hanya membagikan beberapa Al-Quran dan Iqro’ di beberapa tempat lalu selesai. Iya aksinya memang se-simple itu.

Tahukah? Dibalik sebuah pertemuan pasti Allah menyelipkan sebuah alasan. Mungkin bagi kalian yang tinggal di kota, diberi Al-Quran itu hal biasa. Kalian pasti sudah mempunyai Al-Quran yang tertata rapi di rak atau kalian malah lebih canggih—memiliki Al-Quran yang terinstal di smartphone.

Bisa jadi, kedatanganku dan kawan lain ke sana terlihat biasa saja. Setelah aku bertanya kepada beberapa orang yang menjadi penerima manfaat, respon mereka beragam.

Ada Musholla Al-Munawaroh  yang ada di Kabupaten Malang. Tempatnya sedikit terpencil, hanya sinyal provider tertentu yang bisa menembus tempat itu. Saat aku bertanya, bagaimana perasaannya setelah mendapat Al-Quran dari Rumah Zakat?

Ada seorang wanita separuh baya menjawab, tentu senang, Mbak. Bisa dilihat sendiri keadaan Al-Quran di Musholla ini sudah usang. Sudah digerogoti rayap. Apalagi Al-Quran yang diberi Rumah Zakat besar, bagus, dan ada terjemahannya. Sehingga memudahkan para orang-orang tua untuk tetap membaca dan memahami maknanya.

Ada lagi seorang gadis santri di sebuah TPQ  menjawab, Senang, Kak. Karena dulu mau beli Al-Quran tapi nggak jadi-jadi. Begitulah jawaban polosnya.

Sekadar info, saat kami membagikan Al-Quran pada gadis itu atas nama Musholla Miftachul Jannah yang bertempat di Desa Ampeldento. Dan mirisnya, Musholla itu hanya memiliki 2 Al-Quran. Sudah setahun seseorang mengajukan Musholla tersebut untuk menjadi penerima manfaat, tapi baru tahun ini permintaannya bisa kami realisasikan karena banyaknya antrian.

Dari semua jawaban para penerima manfaat, aku melihat ada senyum sumringah yang menggelayuti wajahnya. Ada bahagia yang menyeruak ke relung hatinya. Mungkin kita menganggap, diberi Al-Quran itu hal biasa. Tapi ternyata, di pijakan bumi sana, banyak orang yang melantunkan doa agar diberi kemudahan untuk bisa tilawah, apalagi ini bulan suci Ramadhan.

Sebelum ke Malang aku juga sempat mengikuti aksi Syiar Quran Braile di Jember. Nama penerima manfaat kami adalah Ibu Khalimah. Sudah 5 tahun beliau tidak bisa membaca Al-Quran karena penglihatannya terganggu. Beliau hanya bisa mendengarkan tilawah dari keluarga dan speaker Musholla dekat rumahnya. Doa Ibu Khalimah selalu mengangkasa ke langit agar diberi jalan untuk bisa membaca Al-Quran lagi.

Aku merasa tertampar saat datang bertemu dengan para jodohku di Syiar Quran. Dari mereka aku belajar, betapa aku menjadi orang yang tidak mensyukuri nikmat yang Allah beri. Aku mempunyai Al-Quran yang masih dalam kondisi baik, bahkan aku juga mempunyai aplikasi Al-Quran di smartphoneyang bisa aku baca saat bepergian. Tapi jarang sekali aku mempunyai keinginan untuk membaca. Aku lebih banyak malasnya. Padahal di luar sana ada orang yang tertatih-tatih untuk bisa tilawah. Banyak orang mendambakan mempunyai Al-Quran.

Relawan Nusantara Jember juga sempat melaksanakan kegiatan Ekspedisi Ramadhan di Desa binaan Panti, Jember. Di acara tersebut banyak sekali rangkaian acara, salah satunya adalah membagikan Super Qurban—daging  kornet berkemasan kaleng produk Rumah Zakat.

Bagiku, daging itu bernilai sedikit karena kalengnya pun kecil. Setiap rumah hanya mendapat bagian satu kaleng. Saat aku mengulurkan kaleng, ada beberapa Ibu yang bertanya, “Ini bayar, Mbak?” Aku menjawab, “Ndak, Bu. Ini gratis.” Lalu dengan sumringah beliau menjawab, “Alhamdulillah, terima kasih.”

Aku merasa apa yang aku beri tidaklah istimewa. Hanya daging berkemasan kecil. Tapi setiap pintu terbuka dan pemilik rumah menerima uluran tanganku, mereka terlihat bahagia tak terkira. Batinku, mungkin mereka jarang memakan daging. Mungkin saja ibu itu kemarin malam berdoa ingin membeli daging untuk anak-anaknya tapi tidak mempunyai uang belanja yang cukup.

Ohya, anak-anak di desa binaan itu juga menjadi murid bimbingan belajar Relawan Nusantara Jember sejak sebelum Ramadhan. Ada anak yang baru naik kelas 1 SD. Padahal aku hanya mengajarinya penjumlahan dan pengurangan. Aku juga menyuruhnya untuk belajar menulis pengalamannya berlibur di pantai. Aku tidak memberi apa-apa kepadanya.

Aku hanya memposisikan diriku menjadi teman belajarnya. Dia begitu riang menceritakan hari-harinya, seperti sahur hanya dengan susu dan berjalan-jalan pagi setelah Sholat Shubuh. Aku belajar menjadi pendengar yang baik untuknya. Pikirku, mungkin anak ini membutuhkan teman cerita dan orang tuanya sedang sibuk bekerja. Anak-anak di sana selalu menyambut kehadiran kawan-kawan relawan dengan sukacita.

Saat kami menginap di rumah salah satu warga, Alhamdulillah, kami diperlakukan seperti anak sendiri. Diberikan menu berbuka dan sahur yang sangat banyak dan nikmat, kami juga diberikan camilan, bahkan tempat tidur yang nyaman. Para warga berulang kali mengucap terima kasih kepada kami.

Sempat aku berbincang dengan satu teman relawan lain, dia bilang, “Aku selama ini merasa tidak memberi apa-apa kepada mereka. Daging yang kita bagikan pun juga bukan dari kita. Tapi mereka memperlakukan kita begitu istimewa.”

Aku sependapat dengannya. Rasanya aku tidak pantas menerima ucapan terima kasih, karena memang aku ini hanya mempunyai waktu untuk bertemu dengan mereka.

Ada juga sepasang suami istri yang menjadi target Kejutan Ramadhan di Jember. Kami hanya memberi bantal, guling, dan kasur. Tapi, senyumnya masyaAllah, terlihat bahagiiaaaaaa sekali. Padahal bagiku bantal dan kasur itu barang yang biasa.

Aku belajar arti bahagia dari mereka. Bahagia versi mereka itu bukan dilihat dari kuantitasnya, mereka bahagia karena didatangi, ditemani, dan dihargai. Masalah apa yang kuberi, itu murni dari para donatur.

Aku menganggap ini pertemuan biasa. Tapi mungkin saja, pertemuan mereka denganku adalah jawaban dari doa panjang yang telah antri di langit. Mereka sama dengan para penanti jodoh. Berdoa untuk bertemu dengan seseorang yang mewujudkan keinginan-keinginannya.

Setiap aku mengikuti aksi sosial, itu semuanya Allah lah yang menggerakkan. Aku ini hanya manusia yang sering diliputi rasa malas dan penuh kekhilafan. ‘Tangan’ Allah lah yang membuat semua teman relawan untuk bergerak melaksanakan aksi.

You must know, gaess. Relawan itu hanya orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi perantara pengabul doa para penerima manfaat. Jadi, jangan mengharap apa-apa selain ridho-Nya. Melihat sukacita mereka itu sudah merupakan bayaran terbaik yang kami terima.

Catatan: Bu Khalimah belum menemukan orang yang bisa mengajari membaca Al-Quran Braile. Jika para pembaca bisa membantu, mungkin ada yang punya kenalan yang bisa mengajari dan berdomisili di Jember, hubungi kontak saya. Terima kasih :)



 

  • view 44