Jika Matahari Lupa Terbit

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2017
Jika Matahari Lupa Terbit

Aku terbangun masih di tempat yang sama. Tempat yang menciptakan kebosanan dan perlahan-lahan menikam dengan kejam lewat kesepian. Aku membuka mata yang masih merapat, menguap, lalu menutup mulut dengan jemari yang masih hangat. Dingin yang kemarin malam memeluk, kini menguap tergantikan kehangatan sinar matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.

Aku selalu benci jika malam telah merayap menutupi sinarnya. Meski ada sinar lain yang sering dielu-elukan banyak orang, tetapi tetap saja tidak bisa menggeser matahari untuk menduduki tahtanya.

Aku benci malam, karena selalu menempatkanku dalam kesendirian. Hanya bertemankan sepi yang mencekam. Gemerisik dedaunan dan sepoi angin yang menerbangkan rindu membuat hati terasa ngilu. 

Bagiku, malam selalu terasa lama, karena aku tidak bahagia selama melewatinya. Tetapi aku mencoba menelan kembali rasa bosan dan kesepian yang membuatku hampir mengumpat kesetanan. Kugantikan dengan ucapan syukur, karena Tuhan masih mempertemukanku dengan paginya kali ini.

 Kusibakkan korden hijau muda yang berantakan di samping kiri, terlihat matahari gagah bertengger di langit kebiruan. Saputan awan terlukis manis. Dia tersenyum melihatku mengintip-ngintip malu di balik korden.

Dengan angkuh dia menertawaiku. Dia tahu, banyak penduduk bumi yang begitu merindukan pagi atau siang yang dirajainya, terlebih aku.

 Meski aku gengsi mengakui dihadapannya, kuakui setiap kehangatan yang direngkuhkan ke tubuhku telah menjadi candu. Membuatku selalu ingin bertemu, meski hanya sekadar menatap dari kejauhan seperti ini.

 Aku ingin berlama-lama ditemaninya. Duduk di kursi kayu seraya memejamkan mata. Kulitku memanas menangkap cahaya yang menelanjangi bumi di teras, lalu disuntikkannya vitamin D ke tubuh mungilku. Atau bermalas-malasan di kasur yang mempunyai gravitasi tinggi sambil menatapnya tiada henti dari jendela kamar.

Banyak orang menyambut gembira kehadirannya. Lalu beramai-ramai mengeluarkan semua pakaian basah, adonan krupuk yang belum kering, atau bunga kamboja untuk bahan parfum yang baru dipetiknya di makam sebelah rumah. Semua diletakkan di depan rumah. Terpanggang sinarnya tanpa terbakar. Dengan begitu, banyak orang bisa mengais rezeki dari sinarnya yang begitu menyegat tapi bermanfaat.

 

Aku suka kehadirannya. Adanya dia membuat semua orang menjadi sok sibuk dengan rutinitas yang menjemukan. Hiruk-pikuk setiap sudut kota begitu menggelikan. Gaduh suara deru motor, peluit tukang parkir, atau klakson mobil yang memekakkan. Semua terdengar seperti nada-nada tak beraturan. Atau bau rumput yang baru dipotong pagi-pagi, bau tanah basah terbasuh hujan kemarin malam, dan bau menyengat sampah busuk yang teronggok berantakan di gerobak kakek tua.

 

Semua itu lebih baik, dari pada bau melati atau kemenyan yang mengurapi bulu hidung. Atau suara gaduh  wanita tanpa bentuk dan langkah kaki yang tidak menyentuh lantai setiap malam.

 

Aku ingin bermain-main dengannya. Kadang, dia menggodaku dengan bersembunyi di balik awan. Lalu semua mendadak redup. Aku mematung menunggunya meninggalkan tempat persembunyian. Mendongak menatap langit mencari-cari jejaknya. Tetapi ,dia malah meneteskan air langit ke hidung kecilku. Rinai hujan telah menggantikan perannya.

 

Hatiku bercokol. Dia pergi tanpa pernah pamit. Awalnya panas terik, lalu tiba-tiba pergi dan menyisakan hujan rintik-rintik. Setelah cukup puas membuatku nyaris gila menunggu, tiba-tiba dia menampakkan diri dengan senyum tanpa dosa. Aku memberengut karena selalu kalah olehnya.

 

Dia selalu bisa mencuri hatiku tanpa terlihat seperti praktik pencurian. Diam-diam mengenalkanku dengan temannya. Bias cahaya yang membuat langit warna-warni, orang-orang menyebutnya pelangi. Terukir senyum di bibirku saat melihat ukiran warna di langit luas. Itulah alasanku, tidak pernah bisa berlama-lama marah dengannya.

 

Selalu saja, aku kalah dalam perihal rindu. Tak pernah bisa menahan diri untuk bertemu, dan lupa waktu jika dia sedang membersamaiku.

 

Ingin sekali, dia keasyikan denganku lalu lupa untuk pergi atau kembali ke tempat peraduannya. Aku ingin dia tetap menggantung di sana. Nyatanya, dia diciptakan tanpa sifat lupa, selalu taat menjalankan titah penciptanya.

 

Ah, lagi-lagi aku sangat bodoh. Bagaimana jika dia itu pelupa. Terlalu asyik tertidur lalu lupa terbit, hingga di bumi tak ada lagi pagi. Semua selalu gelap mencekam dan menakutkan. Tak ada lagi kata terang, semua terlihat kelam.

Tidak ada lagi adegan orang berbondong-bondong memenuhi jemuran, tidak ada lagi tebaran padi basah di depan rumah, dan tidak ada suara kriukan krupuk saat makan karena adonan krupuk masih membasah. Lalu semua penduduk bumi tidak lagi bersuka cita karena ketiadaannya, lalu mendadak semua jadi gila.

 

Atau dia lupa peredarannya. Tak kulihat dia terbit di ufuk timur, tetapi di ufuk barat menyambut pagi. Mungkin itu akan menjadi pagi yang terakhir untukku. Dulu dia sangat jauh di atas langit, lalu mulai mendekat tepat di atas kepala menemaniku di tengah lapang bersama semua penduduk bumi. Keringatku bercucuran deras dan menenggelamkan tubuhku. 

 

 

*Suatu malam saat mengingat kematian

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    8 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan Anik Cahyanik ini sangat indah dengan mengambil tema yang sederhana. Ditulis rapi pelan demi pelan mengungkap deskripsi yang dilakukan oleh tokoh ini. Lalu si penulis memperluas cakrawala tulisan dengan mengungkapkan pentingnya matahari bagi kehidupan manusia sehingga membuat apa pun yang dia tulis relevan bagi siapa pun yang membacanya. Anik menulis matahari dari sudut pandang yang ‘akrab’, asyik dan kreatif.

    Di balik isi tulisan ini, Anik mengungkap tema yang serius yang tak hanya sekadar bagaimana bila suatu hari nanti mentari tak lagi terbit. Kematian, hari kiamat dan segala hal yang paling ditakutkan oleh manusia suatu hari nanti pasti akan terjadi, yaitu saat matahari tak lagi menyapa pagi umat di bumi ini.

  • Dinan 
    Dinan 
    8 bulan yang lalu.
    Saya suka cerpen ini.
    Dua Rius!!!

    Mantaplah...

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    9 bulan yang lalu.
    Keren!