Boneka Pernikahan

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Februari 2017
Boneka Pernikahan

 

 

           Kusibakkan korden berenda putih di ruang tamu. Kulihat kau pulang dengan sosok yang kukenal bergelayut manja menggandeng tanganmu. Kalian berjalan beriringan dengan langkah ringan. Tanpa tergesa—menikmati setiap langkah kaki berdua menuju rumah. Sesekali saling pandang lalu melempar senyum satu sama lain. Tak kulihat bibir kalian mengungkapkan satu dua kata. Hanya gerakan mulut kalian yang bisa kulihat sedang menggemakan tawa. Melihat kalian semakin dekat, aku masuk ke dalam kamar tamu yang berhadapan dengan kamar kita.

Aku sengaja tidak mengabari bahwa siang ini batal berkunjung ke rumah ibumu. Pintu rumah depan sengaja kukunci agar kau mengira aku benar-benar sedang pergi. Seperti biasa, kau masuk dengan kunci yang kumasukkan di dalam pot bunga depan rumah.

Siang ini, aku ingin membuat sedikit kejutan untukmu. Aku tahu hari ini kau pulang lebih awal. Dan kali ini aku ingin menikmati makan siang berdua yang sering kau batalkan.

            Dari celah pintu aku melihat kau masuk berdua ke kamar kita. Pintunya kau biarkan terbuka. Melihatmu begitu memperlakukannya dengan lembut membuat perasaan penasaran menyelinap pada diriku. Kenapa kau bisa selembut itu? Belum pernah kau perlakukan aku begitu manisnya.

            Tenggorokanku tercekat saat kau membelai lembut rambutnya. Hatiku teriris. Kau tidak pernah selembut itu kepadaku. Dari awal kita kenal, kau adalah sosok yang dingin. Kukira, setelah kita menikah, kau akan berubah menjadi hangat. Ternyata tidak.

            Seperti maling, aku mengintai kalian dari celah pintu. Sayup kudengar obrolan yang tak bisa kupahami. Dari jarak sedekat ini aku melihat semua rekam adegan yang kau lakukan.

            Kulihat dari balik jendela kamar tempatku berdiri mendung sedang menggantung di langit abu-abu. Suara kilatan petir menggelegar. Tak kupedulikan. Aku sibuk memperhatikanmu.

            Hampir 90 hari kita merajut hari di ikatan suci, belum pernah aku bisa menggamit tanganmu ataupun membelai rambutmu yang kehitaman. Tak sekali pun pernah kau daratkan ciuman  hanya sekadar di keningku yang terlapisi kulit kuning langsat. Tak pernah kau memamerkan kemesraan kita seperti yang sedang kulihat sekalipun kita hanya berdua di sudut ruangan. Pernah aku mencoba menyentuh, kau selalu berjingkat menjauh.

            Mula-mula kalian saling berhadapan. Kau tarik tangannya lembut lalu kau rekatkan tubuhmu dengannya. Napas kalian memburu menikmati setiap sentuhan. Kulihat kalian menelan butir-butir kebahagiaan yang tercipta.

            Tenggorokanku tercekat melihat kau lebih memilihnya dibandingkan aku. Sempat aku  mempertanyakan, sikapmu yang dari awal selalu dingin. Kau hanya menggeleng lalu tersenyum. Dengan lembut kau membisikkan kalimat di daun telingaku tanpa sedikit pun menyentuh, “Belum saatnya.” Aku lelah bertanya jika jawabanmu selalu sama.

            Kupikir, apa arti sebuah pernikahan jika aku hanya kau jadikan boneka penghias kamar. Adakalanya wanita itu seperti teh. Sangat hangat lalu akan dingin jika dibiarkan.

            Jika menginginkan sebuah kenikmatan, bukan dia yang seharusnya kau pilih. Kau boleh memilih puluhan wanita di luar sana, atau kupu-kupu malam sekali pun. Asal jangan dia yang sedang kau rengkuh dalam kehangatan tubuhmu.

Pantas saja, banyak kutemukan pesan-pesan manisnya di ponselmu. Aku kira ini hal biasa dalam sebuah pertemanan. Ternyata selama ini kau menjalin cerita dengannya di atas lengkingan rintihan lukaku. Kurasakan perih goresan luka yang tercipta.  Hati ini tercabik sembilu, berdarah-darah, dan putus asa.

            Lebih baik aku tak pernah menikah denganmu, jika aku hanya kau jadikan pembantu di rumahku sendiri. Kukira, perasaanmu memudar karena aku tak terlalu baik dalam mengurusimu. Kurasa tidak. Aku selama ini sudah berusaha menjadi yang terbaik. Menyiapkan kopi pahit, nasi goreng, dan telur ceplok kesukaanmu setiap pagi. Menyiapkan pakaian kerja dan membersihkan setiap sudut rumah kita. Mati-matian aku belajar memasak dari ibumu. Selalu menghidangkan masakan lezat kesukaanmu agar kau betah di rumah. Tetapi kau lebih suka makan di luar bersama dia—teman kerja yang pernah kau perkenalkan denganku.

            Ingin rasanya, setelah kita berdua lelah dengan rutinitas hari, malamnya bisa merajut kasih bersama. Hanya sekadar bersandar di bahumu saat kita duduk di depan tivi, atau memelukmu saat kita tidur berdampingan. Keinginan itu tak pernah terealisasikan, hanya sekadar ucapan permintaanku setiap malam, lalu menguap begitu saja tertelan waktu.

            Udara di luar sangat dingin. Air mata langit sedang mengguyur bumi. Tetapi di sini, aku merasa sedang di atas bara api. Begitu panas. Aku sibuk melepaskan karbondioksida, menghirup oksigen, tetapi itu justru membuatku sesak, menyiksa.

            Setelah aku berhasil menguasai diri, kubuka pelan pintu yang sedari tadi menyembunyikanku. Aku melangkah pelan mendekat tanpa suara. Langkah kakiku pun tak terdengar.

“Alan.” Aku memanggilmu dengan suara serak. Suaraku lirih dan tertelan angin.

            “Alan!” suaraku sedikit keras dari biasanya.

            Sontak kau hentikan adegan menjijikkanmu. Mata kalian membulat melihatku berdiri di ambang pintu. Kulit putihmu memerah menahan malu.

            Dengan langkah gontai kau berjalan menghampiriku.

            “Alice, Bukannya kau pergi?”

            “Apa yang sedang kau lakukan?” Aku menelan ludah menahan air mata. Dia berdiri tepat di hadapanku.

            “Aku...” Kalimatnya menggantung tak terselesaikan, menguap di udara.

            Kita berdua saling pandang dan sibuk menenangkan detak jantung masing-masing. Kutatap serius kedua bola mata hitamnya. Aku mencari arti dari pandangannya. Apakah ada rasa bersalah terhadapku? Tetapi aku tak menemukan apa-apa, lebih tepatnya tak bisa mengartikan pandangannya.

            “Jawab pertanyaanku!” Aku membentaknya begitu keras. Hal yang tak pernah kulakukan kepadanya.

            Kutatap lama sosok di pojok ruangan. Dia bergeming di tempatnya. Aku bisa melihat sendu yang menghiasi wajahnya. Dengan terburu, dia mendekatiku. Tubuh tingginya menjulang di samping Alan. Berulang kali aku menelan ludah menahan air mata di depan mereka.

            “Aku minta maaf, Alice,” suaranya terdengar seperti belati yang menusuk batinku. Hanya sepotong maaf tak akan bisa merapikan kepingan hatiku yang sudah berserakan. Kalian sudah menghujamkan baja yang sangat keras dan terlalu dalam di hatiku.

            Aku hanya terdiam. Bibirku kelu. Suasana lengang. Hanya isakan tangisku yang pecah dan tak bisa kutahan. Tubuhku berguncang-guncang merasakan luapan amarah. Kuhembuskan napas kasar untuk meredakan tangis.

“Jika kau mau, silakan pilih wanita mana saja untuk kau kencani, aku rela, asal bukan laki-laki seperti dia.”

 

            Kita membisu, membiarkan udara yang berbicara. Mewakili suasana hati yang tak mampu dilisankan dalam bentuk kata-kata.

 

 

 

  • view 138