KEEP FIGHTING UNTIL END

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Oktober 2016
KEEP FIGHTING UNTIL END

 

Tulisan ini didekasikan untuk Mom Nur Zam’ah—guru Bahasa Inggris SMP-ku—dalam  rangka memperingati hari guru sedunia.

            Tema ODOP pada minggu pertama adalah tentang pengalaman yang paling berkesan. Sedikit bingung memilih kenangan mana yang akan kutuliskan. Mengingat banyak sekali hal yang terjadi dalam hidup ini. Tidak sengaja aku menemukan tulisan “Selamat Hari Guru Sedunia” di beranda facebook. Lalu aku teringat dengan sosok wanita cantik yang pernah aku takuti tujuh tahun silam. Senyumnya memang manis, kecantikannya apalagi sangat menawan. Tubuhnya tinggi semampai dibalut hijab yang anggun. Namun, mendengar ketukan hak sepatunya memasuki kelas selalu membuatku berkeringat dingin. Ingin rasanya pelajaran Bahasa Inggris ditiadakan selama orangnya masih mengajar di kelasku. Jika tidak, aku ingin hari Selasa tidak ada di kalender, langsung loncat ke hari Rabu. Sebelum memasuki jam pelajaran Bahasa Inggris, aku selalu merapalkan doa agar beliau mempunyai urusan, sehingga tidak bisa mengajar barang sehari saja. Nyatanya, beliau adalah guru yang rajin dan selalu tepat waktu dalam mengajar.

            Semua teman sekelasku dan beberapa anak kelas lain yang juga diajar oleh beliau pasti akan merasakan yang sama denganku. Desas-desus tentang beliau memang selalu terdengar di pojokan sekolah sekali pun. Ya, beliau terkenal sangat killer. Jangan pernah coba-coba tidak mengerjakan tugas atau pun mengumpulkan PR sekali saja, pasti akan dibantai habis-habisan. Ah, mungkin kedengarannya aku sangat lebay. Tapi memang seperti itu adanya. Anak yang tidak mengerjakan PR pasti akan dikejar pertanyaan kenapa tidak mengerjakan sampai siswa itu tersudut dan tidak bisa mengeles lagi. Untung saja, aku tidak pernah mengalami hal itu. Selama diajar beliau, aku selalu berusaha mengikuti aturannya dengan baik. Sebenarnya sesekali beliau juga pernah melontarkan candaan dalam kelas, dan itu yang membuatku sedikit rileks.

            Cara mengajar beliau memang menyenangkan. Penjelasannya sangat mudah dipahami. Tapi ya itu, beliau bisa saja dengan tiba-tiba melontarkan pertanyaan ke beberapa siswa secara random. Bayangkan saja, betapa gugupnya jika namamu disebut lalu disuruh untuk membuat contoh kalimat Simple Present Tense. Sekali pun paham dan tahu jawabannya, tapi semua memori otak akan lenyap begitu saja dihempaskan oleh kegugupan. Yang keluar dari mulut hanyalah kata-kata kecil—eh,anu,itu. Mendadak siswa tersebut terlihat sangat aneh dengan badannya gemetar.

            Aku bersyukur, saat kenaikan kelas dua SMP tidak lagi diajar beliau. Konsekuensinya, aku tidak lagi mudah memahami penjelasan guru. Guru kali ini suaranya sangat pelan dan lembut. Cara mengajarnya pun monoton dan membuat semua siswa menguap berulang-ulang di dalam kelas. Dilema adalah saat bingung memilih antara guru killer yang membuat kita mudah memahami pelajaran atau guru sabar yang membuat kita mengantuk di dalam kelas. Setahun duduk di kelas dua, hanya sedikit ilmu yang kudapat dari pelajaran Bahasa Inggris.

            Semua berubah saat aku sudah duduk di kelas tiga. Kuhabiskan pelajaran Bahasa Inggris tahun terakhirku di SMP bersama Mom Zam’ah lagi. Bukan hanya itu, beliau juga menjadi wali kelasku. Aku rasa Tuhan sedang bercanda denganku. Bagaimana mungkin aku dipertemukan lagi dengan seseorang yang begitu aku takuti. Apalagi, Bahasa Inggris adalah salah Mata Pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional. Tentu pertemuan dengan beliau akan lebih sering.

Bulan-bulan berlalu dengan penuh cerita yang mengundang air mata. Banyak kejadian ekstrem yang terjadi antara beliau dengan kelasku sampai beliau pernah memberikan pilihan kepada kami untuk mengganti wali kelas. Hasil kesepakatan kelas, kami ingin beliau tetap menjadi wali kelas kami. Meski setelah itu, banyak sekali kejadian nakal yang kami lakukan. Ada suatu kejadian yang membuat beliau menangis di depan kelas. Mom, sekali pun aku pernah berharap tidak diajar olehmu, tapi melihatmu berlinangan air mata itu membuat hatiku teriris.

Mendengar petuah-petuah beliau hampir setiap hari membuat pikiran dan hatiku terbuka dengan sendirinya. Entah, mungkin Tuhan sudah membuka mata hatiku. Seharusnya aku megucap syukur kepada Tuhan telah dipertemukan dengan beliau. Lambat laun aku menikmati pertemuan kami di kelas, aku menanti-nantikan kedatangannya. Semenjak saat itu ada hal yang aku sadari. Apa yang beliau lakukan untuk kebaikan anak didiknya. Beliau hanya ingin kami belajar yang rajin. Coba saja kalau beliau tidak tegas, pasti anak didiknya tidak belajar keras untuk memahami penjelasannya. Diawali dari mengerjakan tugas karena takut, lama-lama aku semakin tertarik dengan pelajaran Bahasa Inggris. Mencoreti buku LKS-ku dengan banyak arti-arti kata yang sulit.

Aku masih ingat, betapa bersemangatnya aku menghapal procedure text “How to take money from ATM” kala itu. Aku dan partner-ku membuat mesin ATM dari kardus kecil sebagai peraga. Aku juga pernah berhari-hari latihan menjadi reporter di depan cermin untuk pelajarannya. Aku pura-pura mewawancarai seorang gadis Prancis yang sedang duduk di taman dekat Menara Eiffel. Sebagai backgroundnya, temanku menggambar Menara Eiffel di whiteboard lalu menempeli daun kering di jalan setapak yang menuju menara tersebut. Bulan-bulan terakhirku bersama beliau mengalir begitu menyenangkan.

Sampai suatu ketika, sebulan sebelum ujian aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Aku harus bisa memberikan kebanggaan untuk Mom Zam’ah melalui Ujian Nasionalku. Aku tidak berpikir bisa atau tidak aku menepatinya. Tiba-tiba janji itu terbesit sendiri di benakku.

Hari terakhir pertemuan kami di kelas, beliau mengucapkan beberapa kalimat perpisahan. Sebelumnya, beliau menanyai semua siswa di kelas. Pertanyaannya cukup simple, “Kamu mau jadi apa?” Aku masih ingat dengan jawabanku kala itu. “Saya ingin menjadi orang yang menyenangkan orang lain.” Lalu beliau menjawab, “Saya sendiri kalau lihat kamu bawaannya juga senang.” Aku hanya tersenyum malu-malu mendengarnya.

Setelah hasil Ujian Nasional selesai, ada acara Dies Natalis di sekolah. Setelah mengikuti kegiatan jalan santai, aku bersama beberapa temanku masuk ke ruangan beliau untuk menanyakan hasil Ujian kami. Beliau hanya bilang semua siswa lulus dengan nilai memuaskan. Sesaat sebelum aku pergi berpamitan dengan beliau, aku melihat namaku tertulis di atas kertas—seperti kertas absen—dengan  tinta warna merah. “Mom, kenapa nama saya tertulis di atas kertas itu?” Beliau hanya tersenyum tanpa penjelasan.

Saat pengumuman hasil Ujian di ruang kelas, beliau memanggil nama yang mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Dan tahukah kamu? Namaku yang pertama kali disebutnya. Aku heran. Bagaimana mungkin? Selama tiga tahun di kelas, paling mentok aku selalu masuk di sepuluh besar. Masuk dalam tiga besar itu sulit mengingat persaingan yang begitu ketat di kelasku. Tapi kali ini? Entahlah.

“Selamat, Anik. Kamu juga masuk sepuluh besar di sekolah ini,” ucap beliau sambil memberikan selembar kertas untukku. “Terima kasih juga, Mom.” Aku tersenyum menatapnya. Perasaan bahagia menyeruak dalam diriku. Ternyata aku bisa.

Saat perpisahan kelas, aku sedang duduk bersama beberapa temanku dalam sebuah gedung. Lalu tiba-tiba beliau menghampiriku. “Ini buat Anik,” ucapnya sambil menyodorkan tas kertas emas kepadaku. Suara musik begitu bising di gedung ini, tapi suaranya terdengar jelas dari gerakan bibirnya. Hanya saja aku takut salah dengar. “Ada apa, Mom?” Beliau mengulangi lagi kalimatnya, “Ini buat Anik.” Ternyata aku tidak salah dengar. Kuterima tas itu dan kuucapkan terima kasih. Ada beberapa barang yang diberikan untukku. Sampai sekarang masih kusimpan dan selalu mengingatkanku dengan beliau. Beliau juga menyelipkan selembar kertas yang bertuliskan, I proud of you, Anik. Keep Fighting until end.

Saat acara farewell party kelas kami suatu malam, beliau melihatku memakai hadiah yang diberikannya. Lalu beliau bertanya, “Anik suka?” lagi-lagi dengan tersenyum aku menjawab, “Suka sekali, Mom. Terima kasih.”

Semoga suatu saat nanti saya bisa menjadi pendidik  yang amanah sepertimu, Mom.

 

  • view 195