BERCANDA ALA NABI

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Oktober 2016
BERCANDA ALA NABI

Islam mengatur segala kehidupan pemeluknya untuk kebaikan umat itu sendiri. Dalam hal bercanda pun, ternyata ada Hadistnya.

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315 Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadist ini hasan)

Aku mendengar Hadist ini dari guru mengajiku beberapa tahun silam. Beliau bercerita bahwa Nabi Muhammad tidak pernah berdusta dalam bercanda. Dikisahkan oleh guruku, pernah ada seorang nenek tua yang datang kepada Nabi dan bertanya, “Ya Nabi, apakah orang tua seperti saya ini bisa masuk surga?” Lalu Nabi Muhammad menjawab, “Di surga tidak ada orang tua sepertimu.” Bukan maksud Nabi menghina nenek tersebut, hanya saja memang benar adanya. Di surga tidak ada orang tua, semua akan berubah menjadi muda sedia kala.

Aku sempat memikirkan Hadist ini sesaat. Ya, karena dalam pergaulan zaman sekarang banyak sekali bahan candaan yang menghina, merendahkan, dan mendustai orang lain. Aku sendiri pun juga pernah melakukannya. Aku takut menyalahi ajaran agamaku. Aku memang pernah mengelak dengan kebenaran Hadist ini. Dengan dalih, Allah lebih tahu apa yang ada di dalam hatiku. Allah tahu apa yang kukatakan itu bercanda atau tidak. Jadi bagiku, tidak masalah untuk tetap melakukannya.

Semakin ke sini, semakin akrab mengenal seseorang, pasti satu sama lain akan lebih merasa bebas mengucapkan apapun. Dan beberapa kali kudengar kata-kata yang tidak mengenakkan. Meski aku tahu dia mengucapkan hanya untuk bercanda. Tapi tetap saja ucapan kasar itu akan menyayat hati.  Suatu hal tidak hanya dilihat dari satu sisi, tapi juga sisi lainnya. Aku teringat lagi dengan Hadist yang pernah kudengar itu. Jadi, inikah alasannya Allah mengatur sebegitu jelinya tentang bercanda?

           

 

 

  • view 235