DIALOG DIRI

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 September 2016
DIALOG DIRI

 

            Di tengah temaram lilin dan seberkas rembulan yang masuk melalui jendela, kulihati wajahmu. Kali ini saja izinkan aku melihatmu begitu lama. Menikmati alis tebalmu, hidungmu yang besar seperti jambu air, dan pipi yang semakin lama seperti bakpao. Tapi bagiku kau tetap cantik, meski itu hanya aku yang mengatakannya. Aku memang bisa dibilang sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah melihatimu seperti ini. Aku memandangmu hanya saat pagi atau sore sebelum berangkat ke kampus. Saat aku membantumu memoleskan bedak di wajah kuning langsatmu, dan mewarnai bibirmu dengan lipstik merah merona. Selebihnya, aku hanya melihatmu sekilas untuk memastikan bahwa penampilanmu masih rapi, dan tidak acak-acakan.

            Kali ini, kuajak kau menikmati malam ini berdua saja. Aku ingin membicarakan banyak hal sebelum nanti pukul dua belas malam. Aku tahu, kau memang tidak bisa tidur di atas pukul dua belas malam di hari kuliah. Jika itu terjadi, maka kau akan absen di kuliah pagi. Kau memang mempunyai kebiasaan buruk perihal tidur dan mandi. Aku tahu semuanya tentangmu. Tapi kurasa, kau yang lebih tahu tentangku, bahkan hal yang tidak diketahui orang lain sekali pun.

            Malam ini biarkan aku menghabiskan malam tanpa gemerlap bintang denganmu. Aku harap kau tak berbicara sedikit pun, biarkan aku saja yang mengoceh di hadapanmu.

            Tak kusangka, sudah hampir dua puluh tahun kau menemaniku.  Kau adalah sahabat terbaik dalam sepanjang sejarah hidupku, mungkin tak akan ada yang bisa menggantikanmu. Tak akan pernah. Sebaik apapun orang itu, tak akan bisa menandingi kesabaranmu dalam menghadapiku. Mungkin hanya kau yang begitu tahan berlama-lama denganku dalam keadaan semenyebalkan apapun itu.

            Kau yang selalu mengajakku bangkit, saat aku benar-benar terpuruk. Kau yang selalu membisikiku untuk segera mengerjakan tugas saat aku sangat malas. Dan kau yang selalu setia mendengar isakan tangisku.

            Tersenyumlah. Yah, seperti itu. Senyummu memang sangat manis, dan aku menyukai itu. Hanya saja sepandai apapun kau melukis senyuman itu, tetap tak bisa membohongiku. Aku tahu, kau selalu pura-pura bahagia di depan orang lain, begitu juga di depanku. Kuakui aku memang begitu bodoh. Berulang kali mulutku dengan lancangnya menceritakan masalah pribadimu ke orang lain. Bukan maksudku untuk mencari sensasi, atau meminta orang lain mengasihanimu. Bukan. Aku hanya ingin orang lain membantu sedikit saja kesulitanmu. Tapi ternyata kau benar.  Saat orang lain mengetahui permasalahan kita, itu bukanlah kabar baik. Sehebat apapun mereka, mereka hanyalah manusia yang tidak lebih sempurna dari Tuhan. Mereka tidak bisa berbuat lebih untuk permasalahan orang lain.

            Mulai sekarang, tenanglah! Kau tidak perlu cemas untuk menahanku menyembunyikan permasalahan pribadimu. Sekarang aku mengerti. Cukup aku, kau, dan Tuhan saja yang tahu segala yang berkecamuk di hatimu.

            Kau tahu? Banyak orang yang mengira hidupku ini tanpa beban. Kenapa kau tertawa seperti itu? Iya aku mengerti. Tanpa kau jawab, aku sudah tahu apa yang kau katakan. Ya, karena mereka tidak tahu hidupku yang sebenarnya. Mereka pikir, aku tertawa karena benar-benar bahagia. Padahal, aku adalah orang yang pandai bersandiwara. Seperti yang sering kau ajarkan. Kau selalu menyuruhku menyembunyikan air mata yang hampir tumpah dari kelopak mataku. Kau selalu buru-buru menyuruhku membalikkan badan untuk mengusap air mata yang sudah tidak bisa tertahan. Meski setelah itu orang di dekatku mengerutkan kening mendengar suaraku yang agak serak, dan mata yang sedikit merah. Tapi setidaknya, hujan air mata ini tidak terjadi di depan banyak orang.

            Sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu. Untuk diri yang tidak pernah lelah kuajak jatuh bangun mengumpulkan niat dan semangat pada tujuan. Untuk diri yang selalu memintaku memaafkan siapapun yang pernah menggoreskan luka.

            Bicara tentang luka, pasti tak akan jauh dengan cinta. Maaf, kali ini aku harus menyebut kata yang sekarang menjadi sangat sensitiv di telingamu. Kata yang bisa dibilang menjadi momok menakutkan untuk dirimu. Ini kali terakhirnya aku membicarakan perihal cinta denganmu. Aku janji. Aku tahu,  bagimu cinta itu hanya untuk orang-orang yang menyukai kepalsuan. Hanya terasa manis di awal. Kali ini kau yang harus mendengarkanku. Kuakui kau yang lebih bijak dariku. Tapi perihal cinta, aku yang menjadi pemenangnya. Jangan tertawakan aku seperti itu! Diamlah! Aku sangat tidak suka ditertawai. Kau mengerti itu, kan?

            Kadang, kau bisa menjawab pertanyaan banyak orang. Kau begitu mudahnya mengucapkan kata bijak untuk menghapus kegelisahan orang-orang. Tapi apakah kau pernah menyadari, bahwa kau tidak pernah bisa menjawab pertanyaanmu sendiri? Jangan marah! Resapi baik-baik ucapanku. Kurasa tidak salah jika kebanyakan orang melabeli dirimu cewek baper. Ya, kuakui kau memang seperti itu. Kau mudah sensitiv dengan ucapan orang-orang. Saat dalam masalah, kau selalu bertanya padaku, apa yang harus kau lakukan? Padahal jawabannya ada dalam dirimu sendiri. Kau sudah dewasa. Pasti tahu apa yang aku maksud.

            Mulai sekarang, jangan mudah meletakkan hati kepada manusia, karena manusia sangat pandai mematahkannya. Jangan mudah percaya! Itu yang akan membuatmu kecewa untuk kesekian kalinya. Yang jelas, bukan sekarang waktunya kau bahagia karena cinta. Kejarlah mimpi yang pernah kau tulis di dinding kamarmu. Nikmati kehidupan ini dengan karunia Tuhan yang tidak pernah ada habisnya untukmu.

            Seperti yang sering kau katakan padaku, yang tahu dirimu adalah dirimu sendiri. Kunci dari semua permasalahan adalah dari hatimu. Mulai sekarang, berdamailah dengan keadaan. Dengan begitu kau akan bisa damai dengan dirimu sendiri. Jadikan yang pergi itu hikmah, dan yang datang menjadi amanah.

            Kau dengar? Jam yang menggantung di luar sana sudah berdentang tiga kali. Itu berarti sudah tepat pukul dua belas malam. Aku rasa obrolan malam ini cukup. Kulihat kau sudah menguap berulang kali. Selamat tidur. Dan, selamat bertambah usia ke dua puluh tahun. Jangan menjadi tua yang menyebalkan dan membosankan.

            Fiuhhh. *Kutiup lilin yang ada di depanku tanpa potongan kue tart. Mendadak ruangan gelap dan aku tidak melihat pantulan diriku lagi di cermin*

  • view 203