MEMASTIKAN RASA

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Agustus 2016
MEMASTIKAN RASA

MEMASTIKAN RASA

           

            Beberapa hari yang lalu aku telah memposting cerpen Ketika Malaikat Berbisik di sini. Sebelumnya cerpen ini telah di post di Floressastra.com, lalu ku share di facebook. Aku tidak akan membahas cerpen ini, tapi aku akan membahas tentang seseorang yang telah membaca cerpenku.

            Setelah aku share di facebook, banyak komentar berdatangan. Ucapan selamat, terus berkarya, bagus, keren, kritikan, dan lain-lain. Ada seorang lelaki yang memberikan ucapan “keren” di komentar. Dia adalah kakak kelasku saat di SMK dulu. Aku cukup mengenalnya, tapi dia tidak mengenalku (karena aku tidak terkenal di sekolah). Dia selalu aktif di organisasi keagamaan, entah organisasi sekolah atau luar. Aku tidak terlalu banyak berpikir saat dia hadir di komentar, meskipun ini kali pertamanya. Mungkin dia tertarik dengan judul cerpenku yang agak menggelitik, sehingga dia menyempatkan membaca cerpenku lalu berkomentar.

            Beberapa menit kemudian, aku membuka e-mail. Ada pemberitahuan bahwa nama lelaki itu menambahkanku di lingkaran google+nya. Aku mengerutkan kening mengetahui hal ini. Dari mana dia tahu akunku? Aku baru teringat kalau aku mencantumkan link blog-ku di cerpen yang aku share. Mungkin, dia membuka blog-ku, lalu menemukan aku google+ku di sana. Aku tidak terlalu berpikir panjang tentang hal ini.

            Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan pesan di facebook. Dia mengirimkan poster sayembara menulis. Dalam pesannya, dia menyarankanku untuk mengikutinya. Aku menjawab, bahwa aku sedang mencari ide untuk sayembara menulis itu. Tidak ada yang aneh dalam obrolan itu. Kita membicarakan hal yang biasa. Kebetulan, dia adalah panitia dari sayembara menulis tersebut. Jadi kurasa, mungkin setelah tahu aku suka menulis, dia merekomendasikan sayembara kepenulisan yang sedang diurusnya itu. Aku tetap biasa menyikapi hal ini. Setiap apa yang dilakukannya tidak terlalu aku pikirkan. Sekitar 30 menit setelah aku tidak lagi membalas pesannya, aku menemukan statusnya di facebook yang sangat panjang. Status itu menceritakan tentang kekagumannya kepada penulis.

            Berikut adalah penggalan statusnya yang membuatku mengerutkan kening:

            Aku menemui sebuah link hasil share seseorang yang aku berteman di facebook. Entah sebenarnya aku tidak terlalu mengenal dia sebelumnya. Namun banyak mutual friends di antara kita. Ketika membaca tulisannya aku sebenarnya sudah setengah hati. Entahlah karena ada juga sisi penasaran dalam diri. kubacalah tulisan dengan seksama meski tetap setengah hati.

            Kau tahu apa yang kudapat? Aku baper. Bawa perasaan bener-bener. Ia menuliskannya dengan begitu baik aku menilainya. Setelah hari itu aku melihat. Ia akan punya masa depan bagus kalau dia bisa istiqomah dengan jalan berkisah itu. selamat berproses. Ingin rasanya mengatakan itu kepadanya.

            Masih saja tidak ada hal istimewa yang kutemukan. Aku menganggapnya dia menyukai tulisanku atau seseorang yang suka menulis. Semua masih kuanggap seperti biasa. Aku sengaja tidak melukiskan jempol di status tersebut, karena  tidak ingin dia tahu aku membacanya.

            Setelah hari itu, dia memberikan jempol untuk beberapa statusku (padahal sebelumnya tidak pernah) yah, meskipun hanya sekali atau dua kali.  Dia juga tidak lagi sungkan melayangkan komentar di statusku. Tapi hanya untuk status yang penting untuk dikomentari, misalnya kebijakan E-KTP pada Oktober mendatang. Meskipun kami yah bisa dibilang lebih mengenal daripada dulu, tapi dia tidak genit seperti lelaki lain yang meminta pin BBM atau nomor Whatsaap. Dia tetap seperti dulu. Berkomentar jika perlu.

            Tiga hari kemudian, saat berselancar di beranda instagram, aku menemukan akun yang namanya mirip dengannya. Kulihat profilnya, ternyata itu benar dia dan aku sudah memfollownya sudah lama dan aku lupa. Penasaran, apa saja foto yang diunggahnya, aku melihatnya satu-persatu. Saat melihat foto kedua, dan membaca captionnya. Aku menelan ludah berulang kali, mataku membulat, dan berkali-kali kuulangi membaca captioonya.

            Seperti inilah captionnya:

            Hari ini atas karyamu aku kagum. Entah di lain hari.

            Setidaknya sepengetahuanku terhadap karya itu lebih panjang wakt.

            Apalagi ketika karyamu itu tulisan

            Kamu sedang bekerja untuk keabadian

            Begitu kiranya orang sebelumku menjelaskan

            Dan bila rasa ini muncul atas karyamu untuk keabadian bermula

            Semoga itu sejalan dengan visimu

            Namun, biar aku memastikan dulu

            Memastikan rasa yang tidak dan jangan mudah untuk diumbarkan

            Sekian dulu dan menulislah #MemastikanRasa

            Kulihat dia memposting foto kertas yang bertuliskan "Biar aku memastikan dahulu" itu tiga hari yang lalu. Sama saat dia membuat status dan mengirimkan pesan di facebookku. Aku merasa dia menyimpan rasa, entah rasa apa. Kagum mungkin, benih cinta. Ah, pikiranku terlalu jauh. Aku mencoba meyakinkan pada diriku sendiri, bisa jadi itu untuk orang lain. Toh, teman-temannya yang suka menulis juga tidak hanya aku. Mungkin dia memposting itu saat bertepatan dengan mengirimkan pesan untukku. Begitulah, aku berusaha untuk tidak baper.

            Apapun yang dia rasakan. Sekali pun itu bukan untukku, dan hanya aku yang terlalu baper. Tapi ada satu hal yang membuatku mengerti, yaitu sikapnya memastikan rasa. Dia mencintai seseorang, tapi dia tidak mengumbar perasaannya. Dia lebih memilih diam dan memastikannya pelan-pelan.

            Semenjak aku membaca caption-nya, aku menjadi semakin hati-hati memposting kata-kata dan foto. Aku merasa mengumbar perasaan di media sosial itu akan membuat terpeleset. Bang tere liye bilang, mengumbar perasaan di media layaknya membiarkan air mengalir yang akan mempelesetkan kita.

             

  • view 166