OBROLAN DI CAFE ITU

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Agustus 2016
OBROLAN DI CAFE ITU

Aku memandangi secangkir coklat panas di hadapanku. Kupegangi pinggiran cangkirnya. Ini kebiasaanku dari dulu, aku suka memegangi cangkir yang panas. Entah, aku merasa panas yang menjalar ke tangan lalu perlahan merambat ke tubuhku bisa mengalirkan energi yang menenangkan. Sesekali aku memandangi ponsel di sebelahku, memastikan jika ada chat Whatsapp atau pun Line.

            “Aku tahu kamu sedang menunggu,” ucap laki-laki di depanku. Aku sempat melupakan keberadaannya sejenak. Aku sibuk dengan secangkir coklat panas dan kegelisahan yang tidak bisa kutepis kedatangannya.

            Dia pasti melihat air mukaku yang gelisah. Mengecek ponsel berulang kali dengan mendengus kesal, adegan yang kulakukan kesekian kali di depannya. Aku memaksakan tersenyum memandangnya sejenak. Kuperlihatkan bahwa aku baik-baik saja.

            “Sudah berapa kali kubilang, menikahlah denganku!” Dengan cepat kutatap matanya dengan nanar. Dia menatapku dengan serius, bahkan lebih terlihat dingin dari biasanya. Aku bisa mengartikan dia sedang meyakinkanku untuk memilih hidup dengannya.

            “Kak, bukan saatnya untuk membicarakan hal ini!” kataku tegas. Ada nada tidak biasanya dari ucapanku. Aku tidak pernah berbicara sedikit keras seperti saat ini. kutenangkan diriku dengan menyesap coklat panas yang masih mengepul.

            “Lalu kapan? Menunggumu menjadi wanita karier dulu?” suaranya lebih keras. Dan, lebih keras dari biasanya. Aku tahu dia orang yang tidak ingin ditandingi oleh siapapun. Selalu merasa unggul, begitulah aku menyimpulkan selama setahun menjalani hari dengannya.

            “Kak, aku tidak mengerti apa yang kakak ucapkan.” Kali ini aku mengalah. Memelankan suaraku. Menandingi orang yang selalu merasa hebat bukanlah jalan yang terbaik untuk meredam emosi. Ini bukanlah masalah kalah atau menang, tapi sebuah pengertian.

            “Kamu tidak perlu gelisah menunggu pengumuman kuliah, menikahlah denganku, akan kamu dapatkan semuanya. Aku mampu menghidupimu tanpa kamu harus bekerja. Aku bisa menjamin masa depanmu, bahkan anak-anak kita.” Dia meremas tanganku. Aku bisa merasakan bahwa dia serius mengucapkan janji-janji itu melalui sorot matanya. Pantas saja, dengan jabatan menterengnya di salah satu perusahaan pelayaran membuatnya begitu mudah menjajikan masa depan dengan bergelimangan materi kepadaku.

            Kutarik tanganku pelan. Kutundukkan kepalaku sejenak. Mengambil napas berulang kali. Menata hati untuk siap menghadapinya.

“Kak, apa aku salah jika memutuskan untuk kuliah?” Kuberanikan diri untuk mengangkat wajahku dan menatap matanya lagi.

“Tidak ada yang salah, Elif. Tapi untuk apa kamu membuang waktu selama empat tahun hanya untuk selembar ijazah, jika ujungnya kamu akan menjadi ibu rumah tangga?” Suaranya halus, tapi tetap saja terdengar lebih keras dan menohok hatiku.

Tenggorokanku tercekat mendengarnya. Kupikir, aku sudah tidak sepemikiran dengannya. Tapi bagiku, semua pasti bisa dibicarakan baik-baik.

“Kak, bukankah wanita itu dilihat dari kepandaiannya? Karena aku adalah wanita yang pertama kali menjadi sekolah untuk anak-anakmu. Aku dan anak-anakku tidak hanya membutuhkan uang untuk hidup, tapi juga ilmu yang bisa menuntun hidup kita menjadi lebih baik. Jika kakak menginginkan suatu saat nanti aku menjadi ibu rumah tangga, aku rela. Tidak ada yang buruk untuk mengurusi keluarga kecil kita. Hanya saja, berikan aku kesempatan untuk mencicipi manisnya mendewasakan diri melalui pendidikan.” Dia melemparkan pandangannya ke arah lain.

Aku tahu dia sudah tidak tertarik dengan obrolan ini. Aku sudah mengenal kebiasaannya. “Coba kakak jujur denganku! Sebenarnya ada hal lain yang kakak takuti, kan?” Aku tetap menatapnya, meski pandangannya belum juga beralih ke sepasang mataku.

Dia hanya tersenyum kecut dengan tetap memandang hiruk-pikuk jalanan di sebelah cafe –tempat kami berada sekarang. Di jendela samping kami duduk, padatnya jalanan di kota Jember dengan jelas terlihat. Beberapa saat kami diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku melihat ponselku lagi, belum juga ada kabar satu pun yang masuk.

Dia mengatur tempat duduknya. Menegakkan punggung, lalu membuang napas panjang. Ditatapnya lagi mataku. “Elif, aku takut jika kamu suatu saat nanti menjadi wanita karier, lalu kamu akan berpenghasilan lebih tinggi dariku, dan aku tidak berarti lagi untukmu,” jelasnya. Aku tertawa kecil mendengarnya. Dia mendelik kesal. Aku melihatnya, sontak kuhentikan paksa tertawaku.

Kuselipkan rambut sebahuku di telinga kananku. Menggaruk hidung yang tidak gatal, pertanda aku sedang memikirkan sesuatu. Aku sedang menata kata-kata yang tepat untuk menjelaskan.

“Kak, sudah kubilang. Aku tidak berniat menjadi wanita karier, aku hanya ingin menjadi orang yang berpendidikan. Bagiku, pendidikan itu penting. Tidak selamanya orang yang kuliah selalu untuk kerja, kan?” Aku memandangnya serius. Mencari jawaban yang kutunggu selama ini. Izin untuk kuliah.

Diteguknya coffe grande kesukaannya. Lalu diletakkan pelan-pelan cangkir berwarna putih itu. Dia menatapku untuk kesekian kali sambil menopangkan dagu di kepalan dua tangannya. “Kamu bisa bicara seperti itu sekarang, bisa saja nanti pikiranmu berubah. Bukankah pikiran seseorang bisa berubah kapan saja?”

“Aku tetap ingin kuliah, Kak,” jawabku mantap.

“Baiklah, jika itu keputusanmu. Lebih baik kita jalan sendiri di pilihan masing-masing.” Aku menatapnya tajam. Bibirku kelu dan tenggorokanku tercekat. Aku tak mampu menolak, bahkan mengiyakan ucapannya. Jantungku serasa berhenti berdetak. Tidak pernah kuduga dia akan mudah melepaskanku, hanya karena egonya. Dia masih mematung di depanku, sambil sesekali menyesap minuman kesukaannya.

Bip..Bip..Bip. Suara ponselku menyadarkanku, aku sedang menunggu saat ini.

From: Lucia

Cek website SNMPTN, pengumuman sudah keluar

Dengan cepat tanganku membuka webiste yang dimaksud Lucia. Aku mengetikkan nomor peserta dan tanggal lahirku untuk melihat hasilnya. Loading begitu lama, aku menggerak-gerakkan ponselku mencari sinyal. Tetap saja dalam keadaan loading. Beberapa saat kulihat warna merah saat ponsel kugerakkan di atas kepalaku. Kuturunkan cepat-cepat ponselku, dan kubaca pelan-pelan tulisan berwarna merah itu. Maaf Elif Lamira, Anda tidak lolos.

Aku merasakan kedua mataku hangat, lalu pandanganku kabur. Sepasang mataku sudah berkaca-kaca. Lalu ada aliran hangat membasahi tebing pipiku.

“Elief, kamu kenapa?” suara Kak Eros membuatku cepat-cepat menghapus air mataku. Tanpa sadar aku meletakkan ponselku di atas meja. Dia segera meraihnya. Aku kaget dan merebut ponselku.

“Kamu sudah dengan pilihanmu.” Dia pergi begitu saja meninggalkanku tanpa ucapan selamat tinggal. Hanya seuntai kalimat yang begitu menyayat hatiku. Baiklah, hidup adalah pilihan. Dan, ini adalah pilihanku.

***

Di sudut cafe ini aku kembali. Sama sekali tidak ada rasa trauma untuk ke sini, bahkan saat ini aku berada di tempat duduk yang sama seperti saat itu. Namun, tidak dengan orang yang sama. Aku sendiri bersama pilihanku.

Kali ini aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Usahaku selama sebulan ini, bergelut dengan buku dan soal-soal akan membuahkan hasil yang memuaskan. Aku yakin pilihanku untuk tetap melanjutkan pendidikan adalah pilihan yang tepat. Tidak ada yang perlu disesali. Tidak, aku sama sekali tidak pernah menyesal.

Jauh dalam hati kecilku, sebenarnya ada rasa takut yang menggerogoti keoptimisanku. Aku harus bersaing dengan ratusan ribu orang di ujian tulis tahun ini. Aku bukanlah orang yang menonjol di akademik. Tidak ada yang bisa memastikan aku akan diterima di kampus perjuanganku.

Sungguh, ini bukan masalah harga diriku di depan Kak Eros, bukan itu. Tapi hati kecilku yang sudah menjerit, meneriakkan impianku selama ini. Betapa besar keinginanku untuk mengenyam bangku kuliah. Betapa aku ingin menjadi orang yang bisa memutus tali kebodohan di negeriku sendiri. Ya, meski aku tahu tidak selamanya orang tidak kuliah itu bodoh. Tapi, melanjutkan pendidikan itu penting.

Kulihat arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Jarum pendeknya menunjuk angka lima. Sudah saatnya, gumamku.

Kubuka website SBMPTN dengan cemas. Kutunggu putaran loading di ponselku. Sesaat kemudian aku sudah berhasil membuka laman pengumuman. Selamat Anda diterima di PTN pilihan Anda. Silahkan melakukan verifikasi di website PTN tersebut. Aku tersenyum simpul membacanya.

Bip..Bip..Bip

From: Kak Eros

Bagaimana pengumuman SBMPTN hari ini?

Aku mengerutkan kening membacanya. Darimana dia tahu aku telah mengikuti ujian tulis ini? Dan sepenasaran itukah dia ingin mengetahui tentang diriku? Semenjak kepergiannya saat itu tidak ada kabar lagi tentangnya. Dan, hari ini menghubungiku hanya untuk menanyakan hal itu. Entahlah, itu tidak penting lagi.

To: Kak Eros

Aku diterima, Kak.

From: Kak Eros

Congratulation!!!

Kumasukkan ponselku ke dalam tas rajut hijauku. Aku menyesap pelan-pelan coklat panas. Kulihat ada senja yang menggelayuti langit. Hari hampir berganti malam, dan aku telah berganti menjadi sosok gadis yang beranjak menjadi dewasa.

Bukan semata-mata untuk selembar ijazah aku melakukan ini, tapi aku sadar tangan ini harus bertindak. Kutahu tanah airku sudah merdeka dari penjajah sebelum aku dilahirkan. Tapi nyatanya, negaraku masih dijajah kebodohan dan kemiskinan. Negaraku dijajah oleh warga negaranya sendiri yang bermalas-malasan. Negara yang kubanggakan ini dinodai oleh para tikus berdasi. Para cendekiawan yang menggunakan kepintarannya untuk membodohi negaranya sendiri.

Dengan mengenakan jas almamaterku, dengan melangkah pasti aku memasuki gerbang kemerdekaan. Di sini aku telah berhasil memutus tali kebodohan. Langkah kecil yang telah kumulai untuk memutus tali kebodohan yang lebih besar.J

uga bisa dibaca di sini

  • view 230