KETIKA MALAIKAT BERBISIK

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Agustus 2016
KETIKA MALAIKAT BERBISIK

Aku berlari kecil menghindari hujan sambil memayungi kepalaku dengan kedua tangan, meski percuma tetap saja tubuhku basah. Air berkecipak di kakiku. Membasahi celana jeans panjang yang kupakai. Setelah sampai di samping sebuah rumah kecil, aku berlari menuju bawah atapnya mencari perlindungan. Memiringkan badan agar tumpahan air dari atap tak mengguyur badanku. Berjalan pelan menuju pintu masuknya. Baru sampai di jendela yang sedikit terbuka, kuedarkan pandanganku ke dalam ruangan. Mataku mengerjap beberapa kali. Kulihat ada sekitar enam perempuan di dalam, lalu pandanganku beralih ke pakaian yang kupakai. Bukan karena basah, tapi aku merasa tidak pantas berpakaian kemeja kedodoran dan celana jeans bersanding dengan para perempuan berhijab syar’i.

            Ada perasaan berkecamuk dalam diriku. Kakiku ingin melangkah masuk, tapi hatiku berusaha keras menahannya. Aku menengadah  ke langit beberapa kali, berharap hujan akan cepat reda. Kuhembuskan napas dengan keras mencari-cari jawaban dari pertanyaan yang menggelayuti benakku. Pandanganku mengarah lagi ke dalam rumah itu, kulihat sepasang bola mata menangkap keberadaanku. Tak ingin dia menemukanku, aku berlari kecil menjauh dari rumah ini.

            “Shafia.” Langkahku terhenti mendengar suara yang tak asing dipendengaranku. Aku menoleh ke belakang. Mendapati sosok Afri di sana. Teman dari SMA-ku yang sekarang menjadi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Aku memutuskan masuk di Universitas yang sama dengannya di jurusan Ilmu Komunikasi.

            “Tidak masuk ke dalam?” tanyanya membuatku memerah karena malu telah kepergok melarikan diri. Tadi sore aku telah berjanji akan datang di Pena Pelita --komunitas menulisnya. Di rumah kecil itulah mereka sering berkumpul untuk mendiskusikan semua hal tentang menulis.

            Dia berjalan mendekatiku, aku berjalan kembali ke arahnya.

            “Afri gerimis, nanti baju kamu basah.” Kulingkarkan jemariku di pergelangan tangannya yang dibalut gamis hijau muda.

            “Kamu sudah berjanji akan datang,” ucapnya keras melawan suara angin yang beradu dengan rintikan hujan. Dia memayungi kepala dengan kedua tangannya.

            “Aku memang sudah datang,” balasku. Aku mengusap wajahku yang dibasahi air hujan berulang kali.

            “Lantas, kenapa tidak masuk dan pergi begitu saja?” Di tengah temaram lampu jalanan kulihat tatapannya tajam ke arahku.

            “Aku belum pergi, masih di sini.” jawabku. Aku menggigit bibir keras-keras merasa benar-benar malu dengannya. Dia teman yang kukenal begitu tegas dan selalu menepati janji.

            “Itu kalau aku tidak memanggilmu,” tegasnya.

            “Afri, lihat bajuku! Aku merasa tidak pantas berada di tengah-tengah kalian.” Kali ini aku yang menatapnya tajam. Tidak ada yang perlu kusembunyikan darinya.

            “Ada apa dengan bajumu dan baju kita?” Dia balik menatapku serius.

            “Kalian berhijab syar’i, sedangkan aku tidak.” Suaraku hampir tidak terdengar, tertiup angin yang disisakan hujan.

            “Jadi itu alasannya?” responnya sambil tertawa renyah. Aku mengerutkan kening melihat sikap anehnya.

            “Tidak ada yang lucu, Afri!” Aku heran melihatnya.

            Seketika dihentikan tertawanya. Dia mengambil napas pelan. “Tidak ada ketentuan pakaian di antara kita. Asal bebas dan sopan, Shafia.” Ditepuknya bahuku. Aku tahu itu. Tapi coba bayangkan jika ada orang berpenampilan berbeda dengan yang lain. Dia tampil mencolok. Pasti dia merasa malu. Apalagi aku tidak suka dijadikan pusat perhatian. Semua pasang mata pasti memandangiku.

            “Aku merasa malu,” jawabku pelan sambil menunduk.

            “Kita tidak pernah mempermasalahkan pakaian, ada anggota kita yang tidak berjilbab. Kebetulan hari ini dia tidak bisa hadir,” jelasnya. Aku bernapas lega. Aku hanya tersenyum simpul mendengar penjelasan Afri.

            Setidaknya, bukan aku satu-satunya yang tidak berhijab. Bahkan, mereka tidak mempermasalahkan aku berhijab atau tidak. Ingin rasanya aku menertawai diriku sendiri. Ini komunitas menulis, bukan komunitas agama Islam yang mengharuskan setiap anggotanya berjilbab. Aku sudah berpikiran terlalu jauh.

            “Sekarang tidak ada alasan untuk kamu pergi, kan?” Dia tersenyum jahil menatapku.

            “Afri.” Aku menyikut lengannya. Pipiku bersemu merah seperti tomat matang dibuatnya.

            “Ayo masuk! Kita sudah terlalu lama berdua di bawah rintikan hujan. Ini bukan hal yang romantis.” Digenggamnya tanganku. Aku menurut dan mengikuti langkah kakinya.

            Kulihat ada papan bertuliskan Komunitas Pena Pelita di samping pintu masuk. Aku memasuki ruangan kecil ini sambil mengusap baju dan rambutku yang basah. Memasuki ruangan ini membuat hawa hangat mengaliri tubuhku. Ruangan ini terasa sangat hangat meski tidak ada penghangat ruangan. Kusalami dan kuperkenalkan diriku kepada enam perempuan yang begitu anggun dengan gamis dan jilbab panjangnya. Mereka semua tersenyum ramah kepadaku. Keadaan baik-baik saja. Tidak seperti yang kubayangkan, akan ditertawakan atau bahkan ada bisik-bisik salah satu dari mereka saat melihat pakaianku yang basah ini. Aku serasa menjadi korban sinetron yang sering melihat ibu-ibu rumpi menggosipkan tetangga. Seharusnya aku tahu, mereka tidak seperti itu.

            Ada beberapa rak buku yang berjejer. Mataku melihat buku yang tersusun rapi satu-persatu. Ada kegembiraan menyeruak saat melihat buku-buku terrsebut adalah buku sastra. Tulisan-tulisan kecil dalam jarak satu meter itu masih bisa kubaca. Beberapa judul novel Best Seller di Indonesia terjejer rapi di sana.

            “Shafia suka novel?” Suara lembut perempuan berpakaian motif bunga-bunga di sampingku membuatku menoleh.

            “Iya, Hanna.” Aku tersenyum tipis ke arahnya.

            “Kamu boleh meminjamnya.” Senyumku semakin lebar mendengarnya. Aku memandang rak buku di samping kiriku lagi. Dari novel lama sampai baru semua ada. Serial Lupus, beberapa novel Pramoedya Ananta Toer, N.H Dini, Marah Rusli, Habiburrahman el-Shirazy. Bahkan, tentang sastra jawa dan sejarah sastra ada di sini. Ah, bahagianya jika aku tinggal di rumah kecil ini. Pasti betah bermalam-malam ditemani novel-novel itu.

            Tanpa mereka sadari, di tengah-tengah diskusi aku memandangi mereka satu-persatu. Bagiku, mereka terlihat lebih cantik dan anggun mengenakan pakaian semacam itu. Meski mereka bersikap biasa kepadaku, tapi setiap memandang diriku sendiri aku merasa malu. Ingin rasanya aku berlari meninggalkan tempat ini. Tapi pesona mereka membuatku lupa dengan niatan itu. Aku membayangkan diriku sendiri memakai pakaian seperti mereka. Apakah sudah pantas? Kugelengkan kepalaku berulang kali untuk mengusir lamunanku.

Hampir tiga puluh menit aku hanyut dalam diskusi sastra bersama mereka. Aku terpaku mendengar penjelasan Yuna, salah satu diantara mereka yang sudah berhasil menembus penerbit Mayor. Novelnya sudah beredar di pasaran sekitar dua bulan lalu. Dia memberikan tips menulis yang membuatku semangat untuk menulis lagi.

            Setelah diskusi selesai, aku masih belum beranjak dari tempatku. Aku masih betah berada di sini. Tempat hangat yang dikelilingi buku. Surga kecil para penikmat sastra.

            “Tempat ini bekas taman baca, Shafia. Sebagian buku didapat dari pemberian pemilik lama. Kami juga ingin membuka taman baca lagi.” Afri seperti bisa membaca pikiranku. Mungkin sedari tadi dia melihatku yang tidak henti-hentinya memelototi satu-persatu buku di rak.

            “Ini untuk kamu.” Tiba-tiba Yuna menyodorkan sebuah bingkisan ke arahku.

            “Ini apa, Yuna?” Aku mengerutkan kening menerimanya. Kutatap sebuah buku yang masih bersegel plastik berjudulkan Aku dan Hijrahku serta gulungan kain lembut bertalikan pita merah jambu.

            “Itu novelku.” Yuna tersenyum ke arahku. Kupandangi beberapa saat Cover buku yang kugenggam saat ini.

            “Terima kasih. Aku sangat suka novel, apalagi ini langsung dari penulisnya. Apakah ada tanda tangannya?” godaku. Pipinya merona merah mendengar celotehku.

            “Aku belum seterkenal itu sampai-sampai memberi tanda tangan di novelku.” Suaranya lembut. Aku memandangnya sekilas lalu beralih ke kain hijau muda yang diberikannya. Seperti jilbab.

            “Lalu ini?” Aku menunjukkan kain yang diberikannya.

            “Ini jilbab untuk kamu.” Sesaat aku tertegun.

            “Untuk apa kamu memberikan jilbab untukku?” Aku masih memandangi jilbab yang sekarang berada di tanganku.

            “Untuk kamu pakai. Untuk apalagi?” Jawabannya malah membuatku semakin bingung dengan maksudnya.

            “Yuna, anggota di sini tidak harus berjilbab, kan?” tanyaku sedikit keras. Aku ingin mendapat kepastian darinya. Jika memang diharuskan aku merasa dipaksa untuk memakai sesuatu yang bagiku belum pantas untukku. Aku masih belum siap untuk mengenakannya.

            “Oh, tidak, Shafia. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku memang suka memberikan beberapa jilbab kepada temanku. Teman-teman di komunitas ini jumlahnya masih sedikit, sehingga aku juga membagi-bagikan novelku kepada mereka.” Raut wajahnya berubah seperti ketakutan. Aku tahu dia terlalu lembut untuk mendengar suara kerasku.

            “Iya, aku mengerti, Yuna. Jangan terlalu takut begitu denganku.” Aku tersenyum untuk membuatnya tidak semakin tegang di depanku.

            “Sudah pukul delapan malam, Shafia,” ucap Afri. Kulihat arloji yang melingkar di pergelangan tanganku.

            “Kamu kos di mana?” tanya Yuna.

            “Di jalan Sedayu, Yuna.”             

            “Terlalu jauh dengan pondok kami.” Yuna menatap Afri.

            “Baiklah, aku pamit sekarang. Masih ada hal yang harus kuurus. Terima kasih untuk hari ini dan bingkisannya, Yuna.” Aku menepuk pelan lengan Yuna, membuatnya terkesiap.

            “Iya. Seringlah main ke tempat kecil ini,” ucapnya. Aku beranjak dari tempat dudukku. Berjalan pelan keluar dari tempat mungil bercat hijau muda.

            “Shafia, hati-hati!” Afri melambaikan tangan ke arahku. Aku juga melambaikan tangan ke arah mereka dan tersenyum simpul. Mereka mengantarkanku sampai ke depan.

            Aku berjalan pelan menjauh dan semakin menjauh dari rumah kecil itu. Kulangkahkan kaki dengan gontai. Bertemu mereka membuatku memikirkan satu hal yang selama ini sering kutanyakan pada diriku sendiri. Sampai sekarang aku belum juga menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Melihat mereka mengenakan jilbab panjang membuatku tenang.

            Setelah semua urusanku selesai, kulirik arlorjiku, jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Aku memang sudah terbiasa pulang malam karena urusan organisasi atau kerja kelompok. Aku berbelok ke gang Mawar, air hujan menggenang di aspal yang sudah berlubang. Suasana gang sempit ini sepi dan remang-remang. Untunglah, tidak ada segerombolan laki-laki yang nongkrong di pinggir-pinggir jalan. Aku paling tidak suka berjalan melewati mereka. Merasa malu dan risih mendengar mereka bersiul-siul menggoda setiap perempuan yang lewat.

            . Akhir-akhir ini, aku merasa ngeri pulang sendiri di malam yang larut. Semenjak maraknya berita pemerkosaan, di dekat gang kosku sering ada segerombolan laki-laki yang sedang nongkrong. Entah, apa yang sedang mereka lakukan di malam yang semakin larut ini. Meski selama ini aku tetap baik-baik saja melewati mereka, tapi aku tetap takut.

            Kakiku mulai gemetar. Tulang-tulangku ngilu melihat ada bayangan banyak orang di depan warung yang remang-remang. Mereka lagi, gumamku. Aku tidak pernah menatap mereka. Aku selalu menunduk jika berjalan melewatinya. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku menghentikan langkah. Mengumpulkan keberanian untuk melewati mereka lagi. Aku takut kali ini mereka bisa bertindak lebih. Kutenangkan diri sejenak. Terbesit dalam pikiranku untuk mengambil jilbab yang diberikan Yuna. Setelah berpikir keras, entah kenapa yang kuingat adalah kain lembut itu. Kupakai jilbab itu dengan peniti yang kucari-cari di dalam tasku. Untung saja aku memakai baju panjang hari ini. Aku berjalan pelan memberanikan diri melewati mereka. Mereka diam. Tidak menggodaku atau bersiul seperti biasanya. Aku hanya mendengar mereka berbisik-bisik seperti mengobrol. Aku bernapas lega. Kutatap aspal yang masih basah. Pikirku, apakah mereka tidak menggodaku karena aku berjilbab?

            Tenggorokanku tercekat beberapa saat. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aliran darahku serasa seperti deburan ombak pantai, mengalir menjalari seluruh tubuhku yang membeku karena angin malam yang disisakan hujan. Ada perasaan yang tidak bisa kudefinisikan. Aku merasa selama ini belum siap untuk berjilbab. Bagiku orang yang berjilbab harus benar-benar mantap dengan niatnya, dengan cara menjaga setiap sikapnya. Aku menunda setiap keinginan itu datang. Sekarang, serasa ada malaikat yang sedang membisikiku bahwa tak ada waktu lagi untuk menunda. Ada suara yang menggema-gema di gendang telinga lalu menelusuri setiap sudut hatiku. Bisikan itu lembut menggantung di dinding hati yang sudah terpenuhi oleh berbagai macam pertanyaan tentang jilbab.

Setelah sampai kamar kosku, aku mematut di depan cermin. Memperhatikan diriku yang masih berbalut jilbab. Ada buliran hangat yang jatuh menghujani pipiku. Aku mengusapnya, butiran itu jatuh lagi. Lalu aku membiarkannya membasahi pipiku begitu saja. Aku membiarkan diriku menangisi hal yang sama sekali belum aku mengerti. Sudah saatnya, gumamku. 

Bisa juga baca di sini

  • view 214