BROKEN HOME (Akhirnya Aku Mengerti)

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 Juni 2016
BROKEN HOME (Akhirnya Aku Mengerti)

 

                        Kebiasaanku yang sulit aku hilangkan adalah  melihat orang terlalu lama. Jika aku menemukan suatu hal yang unik, aneh, dan berbeda yang berhasil menyita perhatianku, aku akan melihatinya sangat lama. Misalnya, bertemu pengemis, orang cacat, orang bertengkar, dan lainnya. Maaf bukan maksudku orang cacat di sini aneh, hanya saja memang yang ada pada tubuh mereka berbeda dengan orang lain pada umumnya. Dan itulah yang menyita perhatianku. Bukan maksudku melihati mereka aku bermaksud untuk menghina atau merendahkan. Aku iba terhadap mereka dan banyak sekali pertanyaan menggelayuti benakku tentang mereka.

            Beberapa hari yang lalu, tanpa sadar pandanganku tertuju pada seorang gadis kecil yang masih SD. Dia lahap sekali memakan makanan berbukanya. Tidak ada yang aneh pada dirinya. Dia bukan pengemis, bukan orang cacat, dan hanya sedang makan. Ada hal lain yang membuatku memandanginya. Dia adalah anak broken home. Apakah ada yang salah dengan anak itu? Kurasa tidak. Terlahir dari broken home bukanlah suatu hal yang diinginkan siapapun. Dia hanya mengikuti pilihan kedua orang tuanya.

            Kalau boleh jujur, dari dulu aku tidak bisa berempati terhadap anak broken home. Aku kasihan kepada mereka. Tapi tidak terlalu berempati sampai benar-benar iba lalu meneteskan air mata. Padahal aku tergolong orang  yang mudah tersentuh hatinya. Semenjak SMP, banyak sekali dari teman-temanku yang menjadi anak broken home. Mereka bercerita bagaimana kehidupannya. Mulai dari pertengkaran kedua orang tua, pisah rumah, sampai hidup dengan ayah tiri yang ternyata lebih bahagia. Aku hanya terenyuh, tapi sesaat.

            Kehidupanku berbanding terbalik dengan mereka. Jika mereka merasakan kerinduan kebersamaan keluarga, aku tidak. Sudah setiap hari keluargaku berkumpul seperti layaknya keluarga pada umumnya. Setiap pagi berangkat sekolah aku menyalami kedua orang tuaku dan pulang sekolah melihat mereka lagi. Tidak ada yang kurang di antara keluargaku, meski aku terlahir di keluarga yang sederhana. Hal inilah yang membuatku merasa kebahagiaan keluarga adalah hal yang lumrah. Untuk apa diidam-idamkan, atau bahkan dirindukan. Toh, bertemu kedua orang tua itu rasanya ya biasa saja. Tidak istimewa bagiku.

            Apalagi saat masuk SMA. Aku sekolah di salah satu SMK negeri di Kediri. Banyak sekali teman-temanku yang terlahir dari anak broken home. Mulai dari ditinggal ayahnya menikah lagi, ditinggal ayahnya entah kemana, atau resmi bercerai. Semua cerita dari mereka sampai ke telingaku. Ada yang sempat menangis setelah melihat film bersama tentang anak yang melarikan diri dari rumah. Karena dia juga sempat melarikan diri karena ibunya akan menikah lagi. Berat memang untuk dijalani. Tapi sungguh! Aku tidak bisa berempati lebih dalam lagi kepada mereka. Padahal dia menangis di depanku. Ya, karena memang aku tidak benar-benar mengalami hal seperti mereka. Semoga saja tidak akan pernah.

            Lalu seiring berjalannya waktu, aku harus masuk kuliah. Aku kuliah di luar kota dan bisa dibilang jauh dari kampung halaman. Aku tidak pernah kepikiran akan jauh dari orang tua itu seperti apa, menjalani hidup mandiri di kota orang itu bagaimana. Sama sekali tidak. Aku hanya berpikiran bagaimana nanti aku akan menjalani kuliahku, apakah mata kuliahnya sulit, dan apakah aku mampu mengikuti? Hanya itu.

            Ada hal aneh yang terjadi dalam perasaanku. Perasaan yang tidak aku undang dan tidak bisa aku tepis. Tiba-tiba menghinggapi hatiku. Awal keberangkatan untuk melakukan OSPEK biasa saja. Aku diantar ayah sampai Surabaya, lalu ke Jember sendiri. Berpisah dari Surabaya aku berpamitan dengan ayah sambil menangis sesenggukan. Tiba-tiba air mata itu meleleh dengan sendirinya.  Beberapa lama saat aku sendiri dalam perjalanan, ada perasaan kehilangan. Ya, ini terdengar berlebihan sepertinya. Aku hanya pergi kuliah beberapa bulan saja. Tapi aku baru sadar. Aku memulai kehidupan baru tanpa orang tua. Semua harus kujalankan seorang diri. Mulai dari urusan kuliah, urusan rumah tangga, bahkan keuangan. Setiap ada masalah tidak serta-merta aku bisa mengatakan kepada orang tua. Aku benar-benar dituntut mandiri di sini.

            Dari situ aku sadar, mungkin ini yang dirasakan teman-temanku saat kehilangan kebersamaan pada keluarganya. Aku pergi lalu pulang lagi, masih kulihat kedua orang tuaku utuh dengan kebersamaannya. Tapi rasanya sangat rindu dan ah sulit sekali untuk dijelaskan. Bisa saja tiba-tiba aku menangis saat malam karena merindukan kedua orang tua. Tapi ada hal yang bisa aku syukuri, selama ini aku pergi, saat pulang aku tetap bisa mendapatkan kebersamaan keluarga. Sedangkan temanku yang broken home, mereka tak akan lagi mendapatkan kebersamaan bersama orang tua kandung mereka lagi. Miris memang.

            Aku teringat dengan peristiwa yang sudah lama sekali. Peristiwa ini terjadi saat aku masih SD. Saat aku belum terlalu tahu apa itu broken home. Tetangga belakang rumahku sedang melaksanakan pesta pernikahan, gadis yang sedang dinikahkan adalah anak broken home yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Ibu kandung gadis itu juga sudah menikah dengan pria lain. Pada penikahan adat jawa ada yang namanya temu manten dan sungkeman. Temu manten di sini yaitu mempelai wanita akan dipertemukan dengan mempelai pria. Setelah melakukan prosesi pelemparan beras kuning, pemecahan telur dengan kaki, pembasuhan kaki, dan penukaran bunga mayang, mempelai pria dan wanita akan dipapah oleh ayah wanita menggunakan selendang. Lalu akan didudukkan di atas dekor berdua. Setelah itu mereka akan melaksanakan prosesi sungkeman. Sepasang pengantin akan sungkem dengan kedua orang tua mempelai bergantian. Nah, masalahnya di sini adalah pengantin wanita meminta saat sungkeman yang duduk berdua adalah kedua orang tua kandungnya. Bukan orang tua tiri atau lainnya. Tapi beberapa menit sebelum prosesi di mulai, ibu gadis itu belum juga datang. Di situlah gadis tersebut menangis histeris. Tapi akhirnya ibunya tetap datang meski terlambat. Acara sungkeman juga dilaksanakan dengan orang tua kandungnya.

            Simple memang. Hanya sungkem. Tapi di acara pernikahan sekali seumur hidupnya, upacara yang begitu sakralnya akan terasa kurang jika tidak disaksikan sendiri oleh kedua orang tua.

            Sekarang aku mulai mengerti dan merasakan apa yang mereka rasakan. Meskipun hal yang kurasakan tidak fatal seperti mereka. Aku pernah mendengar bahwa sesuatu akan terasa berarti jika tinggal kenangan. Aku tidak menginginkan hal itu. Jika dulu aku merasa kebersamaan keluarga bukanlah hal yang istimewa, sekarang aku mulai bisa merindukannya. Dan aku tidak akan membiarkan kebersamaan keluarga yang masih diberikan oleh Allah ini aku biarkan begitu saja.

            Lalu aku sempat berpikir, apakah sebelum bercerai sepasang orang tua tidak pernah berpikir lagi tentang nasib anak-anaknya seperti apa? Apakah mereka tidak bisa menekan keegoisan mereka sedikit saja demi kebahagiaan anak mereka? Apakah mereka tidak takut memberikan kenangan yang buruk pada ingatan anak mereka?

            Tapi itu semua hanyalah pertanyaanku sebagai orang yang hanya masih menjadi anak. Mungkin orang tua punya alasan sendiri melakukan itu. Kadang orang dewasa memang seperti itu, masalahnya terlalu rumit dan sulit untuk dijelaskan. Yang jelas, sampai kapanpun orang tua selalu melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Memang istri dan suami bisa digantikan dengan yang baru, tapi tidak dengan ibu ataupun ayah.

            *Terima kasih untuk Allah yang melahirkanku dari keluarga yang penuh kasih sayang. Kehidupan sederhana kami sudah lebih dari cukup. Terima kasih untuk kedua orang tua yang selama ini masih bertahan dengan rumah tangganya. Sehingga kami (aku dan kedua kakakku) bukanlah anak broken home yang haus akan kasih sayang.*

  • view 1.8 K