PENYAKIT LEBIH MENAKUTKAN DARI TUHAN

Anik Cahyanik
Karya Anik Cahyanik Kategori Motivasi
dipublikasikan 19 Juni 2016
PENYAKIT LEBIH MENAKUTKAN DARI TUHAN

*Kisah ini aku bagi hanya kepada orang yang tidak mengenalku. Karena selama ini aku menutup-nutupi hal ini dari orang sekitarku, kecuali ayah dan beberapa teman dekatku*

            Aku tidak pernah menyangka ini terjadi dengan hidupku. Ini semua berawal dari dua bulan yang lalu saat aku memaksa dokter memberikan surat pengantar untuk rontgen dan USG. Selama ini aku telah di PHP banyak dokter. Sudah hampir dua tahun perutku dililit rasa sakit yang tidak berkesudahan, sampai aku harus opname dua kali. Dokter spesialis dalam yang beberapa kali kudatangi tidak mengatakan apapun. Dia mematok harga mahal hanya untuk memberiku obat. Hasil rontgen, USG, dan Lab setahun lalu juga menunjukkan hasil yang normal. Lalu pada bulan April 2016 rasa sakit itu hilang timbul di perutku. Berulang kali aku berinisiatif untuk periksa ke rumah sakit langgananku, tapi selalu kuurungkan. Kupikir, pasti mereka hanya memberikan obat, tanpa kepastian sebenarnya aku sakit apa. Saat itu aku juga sedang batuk hampir lima bulan tak kunjung sembuh. Sudah minum obat apapun dan pernah konsultasi ke dokter, juga belum membuahkan hasil.

            Dugaanku benar. Dokter hanya menyarankan aku menjaga pola makan yang teratur dan menjaga kebersihan makanan. Kali ini kesabaranku sudah berada di ujung. Aku tidak puas dengan jawabannya. Aku mengajukan diri untuk rontgen dan USG. Lalu dokter bilang hal itu tidak perlu dilakukan. Aku tetap bersikeras untuk melakukan pengecekan terhadap kesehatan. Akhirnya, dokter mengalah dan memberikan surat pengantar. Dengan segera aku menuju ke ruang rontgen. Sayangnya, aku hanya bisa melakukan rontgen saja. Karena dokter USG saat itu sudah habis waktu tugasnya, USG akan dilakukan besok. Karena terkendala masalah biaya, aku hanya melakukan rontgen.

            Tanpa ada firasat apapun aku memberikan hasil rontgen tersebut kepada perawat yang sedang jaga. Aku menunggu antrian dokter di luar. Napasku tersengal-sengal. Akhir-akhir ini aku memang merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Mudah lelah dan napasku sering sesak. Batuk yang sudah lama tidak kunjung sembuh juga mengganggu tidur malamku. Tapi aku tidak pernah berpikir macam-macam tentang hal ini.

            Setelah namaku dipanggil, aku masuk ruangan dokter dengan biasa saja. Aku duduk di depan dokter. Kulihat dokter sedang melihat hasil rontgenku dengan sesekali menggelengkan kepala. Aku kebingungan melihatnya. Apakah ada yang salah dengan hasil itu?

            Dokter menatapku tajam lalu menghembuskan napas panjang. Beliau membetulkan posisi duduknya, lalu melipat tangannya di atas meja. “Adik, maaf.” Kata-katanya terputus. Membuatku semakin berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya diam dan melihatinya tanpa henti. “Di paru-paru adik ada banyak sekali cairan, cairan ini harus di sedot.” Aku tidak mengerti dengan ucapannya. Mendadak otakku sulit sekali mencerna kata-katanya. “Saya sakit apa, Dok?” tanyaku polos. “Adik sakit TBC.” Serasa ada benda keras yang menjatuhi kepalaku. Pening sekali rasanya mendengar kenyataan ini.

            Keadaanku masih baik-baik saja. Aku masih bisa tertawa dan bergurau di depan teman-temanku sepulang dari rumah sakit. Tidak ada yang berubah. Besoknya aku harus izin kuliah, karena harus datang ke puskesmas rujukan rumah sakit langgananku untuk menjalani pengobatan.

            “Kapan adik tahu sakit TBC?” tanya dokter di puskesmas saat itu.

            “Baru kemarin,” jawabku pelan.

            “Adik harus minum obat ini selama enam bulan. Ingat! Sehari diminum tiga tablet sebelum tidur malam. Jangan sampai pengobatan ini terputus. Karena apabila adik tidak melanjutkan pengobatan ini, kumannya akan semakin banyak.” Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. Meski sebenarnya aku merasa ngeri dengan obatnya yang besar besar.

            Tiba-tiba ada seorang ibu yang kurasa juga dokter. “Adik ini sakit TBC, ya? Kenapa tidak memakai masker?” tanyanya. Aku hanya memandangnya tanpa menjawab pertanyaannya.

            “Iya, Dek. Jangan lupa memakai masker!” ucap dokter di depanku. Lalu ibu tadi berbicara lagi. “Jangan sampai lupa pakai masker, TBC itu menular.” Deg. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aliran darahku serasa berhenti. Bibirku kelu dan tenggorokanku tercekat. Ucapan ibu tadi sangatlah sederhana tapi menohok hatiku. Apakah aku hampir sama dengan penderita AIDS yang menulari penyakit bahaya? Dan aku juga termasuk manusia yang pantas untuk dijauhi. Aku merasa mataku berkaca-kaca, tapi sekuat tenaga aku menahannya.

            Sepeninggal dari puskesmas aku lebih banyak diam. Di perjalanan pulang di bonceng temanku, berulang kali aku menghapus air mata yang tumpah begitu saja.

            “Kamu kenapa? Keluar dari puskesmas kok lesu, gitu?” Suara temanku sedikit teriak. Jalanan memang ramai saat ini.

            “Tidak ada apa-apa,” ucapku berbohong. Suaraku sedikit serak karena tangis yang kusembunyikan. Entah dia sadari atau tidak.

            Sesampainya di kos, aku menutup jendela dan kamarku lalu tidur. Aku menumpahkan segala kemarahanku. Meski kadang aku bertanya pada diriku sendiri, kepada siapa aku harus marah? Kepada Tuhan atau kakakku? Kenapa harus kakak?

            Ya, karena dialah orang pertama yang mempunyai penyakit TBC di keluargaku. Dia tidak melanjutkan pengobatannya, karena setelah enam bulan menjalani pengobatan, dia tak kunjung sembuh. Bahkan, dokter menuduhnya tidak meminum obat. Hasil lab terakhirnya menunjukkan kuman di paru-parunya tidak mati sedikitpun. Dia frustasi, dan bertahun-tahun memutuskan hidup dengan tetap membawa penyakit itu.

            Aku merasa dia egois. Dia sudah merugikan banyak orang, atau mungkin hanya aku. Meski kadang aku juga berpikir lagi. Suami dan anak-anak yang serumah dengannya tidak tertular, sedangkan aku yang jauh dengannya malah tertular. Aku hanya bertemu dengan dia enam bulan sekali. Aku berada di kota perantauan untuk kuliah. Mustahil sekali rasanya aku bisa tertular.

            Kujalani hari dengan biasa. Setiap hari menggunakan masker, meski banyak teman-temanku bertanya. Aku hanya menjawab sedang batuk, karena sesekali aku memang masih batuk. Mereka percaya begitu saja. Percaya atau tidak aku tidak peduli, dan tak ingin menjawab lebih jauh lagi. Aku takut mereka tahu penyakit menularku, mereka akan menjauhiku. Beberapa teman dekatku juga kuminta menyembunyikan hal ini. Setiap malam kulewati dengan tangisan sambil menelan obat-obat. Sakit di perutku tak pernah datang lagi. Dan aku bersyukur akan itu.

            Seiring berjalannya waktu, aku menerima ini semua. Belajar mengikhlaskannya. Dan mencoba melupakan perihal kakakku. Ayah bilang, semua penyakit berawal dari pikiran kita. Pikiran buruk kita yang bisa membuat kekebalan tubuh kita menurun dan bisa terserang penyakit apapun. Dengan berat hati aku menyetujuinya, karena aku juga pernah membaca artikel tentang itu. Satu hal lagi, ibuku tidak tahu tentang penyakitku. Ayahku menyuruhku untuk menyembunyikannya dari ibu. Karena ibu adalah orang type pemikir. Aku menurutinya, demi kebaikan ibu yang sudah banyak beban pikiran lain selain aku.

            Saat liburan pulang ke rumah, setiap malam aku diam-diam meminum obatku. Aku sembunyikan obatku di tempat yang tidak mungkin dijamah ibu, bawah kasur. Meski beliau sempat heran kepadaku, kenapa aku bolak-balik dari rumah ke tempat kuliah. Aku meyakinkannya bahwa aku ada acara kampus. Padahal aku sedang ada jadwal lab dan mengambil obat. Ayah juga menyakinkan ibuku bahwa aku harus tetap balik ke perantauan saat ibu selalu memintaku membatalkannya. Ibu bilang kasihan kepadaku, setiap bulan harus bolak-balik padahal sedang liburan. Aku selalu menjawab, aku sudah biasa melakukannya.

            Suatu ketika, saat hatiku terasa sesak terpenuhi gejolak amarah yang tidak bisa aku luapkan. Aku menangis sesenggukan tanpa alasan. Tiba-tiba teringat dengan satu hal yang jarang sekali kupikirkan. Kematian. Hal yang bagiku masih jauh dari umurku. Aku merasa kematian hanya untuk orang tua dan orang yang sedang sakit keras. Padahal ituu salah besar. Kematian tidak melihat umur dan siapapun dia.

            Sekarang aku tidak bisa lagi berjalan terlalu jauh, bersepeda terlalu ngebut, dan berlari terlalu kencang. Karena napasku mudah tersengal-sengal. Di saat itulah kadang aku berpikir, perlahan-lahan kemampuan bernapasku terganggu. Setahuku TBC merupakan penyakit mematikan, meskipun bisa disembuhkan. Air mataku meleleh mengingat itu. Aku tak bisa berkata apapun. setelah berbuka puasa tadi, aku menghabiskan waktu di tempat sholat. Seisi rumah sedang tarawih. Aku tidak bisa tarawih, karena kakiku kaku terlalu banyak duduk di depan komputer. Tiba-tiba air mataku keluar begitu saja saat aku melafalkan ayat-ayat suci Al-quran. Suara bacaanku pun sudah tidak begitu jelas. Hanya sesenggukanku yang semakin lama semakin keras. Aku menangis histeris mengingat masa yang bernama kematian. Aku takut jika nyawaku diambil tiba-tiba oleh pemilik hidupku.

            Ada hal yang kusadari saat ini. Aku sudah jarang menemui Allah. Jarang sekali melakukan ibadah-ibadah seperti dulu. Aku semakin jauh denganNya. Saat ini aku begitu mengingatNya, bahkan bayanganNya semakin dekat denganku. Itu semua karena aku mengingat kematian. Lalu aku berpikir, apakah kematian lebih menakutkan daripada Allah? Bukankah kematian tidak perlu ditakuti? Karena kematian akan pasti mendatangi setiap orang. Dan satu-satunya yang harus ditakuti adalah Allah.

            Jujur. Aku saat ini marah. Kenapa Allah memberi penyakit ini kepadaku. Kenapa harus aku? Aku memejamkan mata mengingat semua yang terjadi selama ini. Lalu tiba-tiba ada malaikat yang membisikkan kepadaku dan berkata, “Karena Allah tidak pernah salah memilihmu.” Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menumpahkan segala amarahku melalui tangisan ini. Dengan polosnya aku berkata, “Jika aku pilihanMu untuk menjalani ini semua, jadikan aku pribadi yang kuat dan sabar. Aku ikhlas.” Kuusapkan kedua tanganku pada wajahku.

            Jika aku tidak diberi penyakit ini oleh Allah, mungkin aku juga akan lupa akan kematian.

  • view 147