Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 16 September 2018   10:29 WIB
KEHILANGAN PERTAMAKU

                  Sore ini rasanya seperti kembali ditampar oleh sebuah obrolan singkat antara ibuku dan seorang anak perempuan yang ditemuinya di sebuah warung. Singkat cerita, ibuku dulunya mengenal dekat dengan ibu si perempuan ini, karena satu dan lain hal yang menyebabkan mereka jarang bertemu, yaitu jarak. Nyatanya karena jaraklah ibuku telah ketinggalan beberapa cerita mengenai ibu dari sang perempuan itu.

“Mau masak apa, mba, ibunya? Kok beli kelapa?” Tanya ibuku ke perempuan itu.

“Anu, budhe, mau masak opor. Ibu udah nggak ada, udah lama kok, budhe.” Jawab si perempuan itu dengan tegarnya.

“Innalillahi wainnailaihiroji’un. Maafin ya, mba, Budhe nggak tahu. Udah jarang main ke daerah sana.” Jawab Ibuku.

“Terus sekarang kamu tinggal di mana?” Tanya ibuku lagi.

“Masih di rumah yang lama, Budhe. Yang dulu di tempatin itu. Tapi paruhan, yang belakang yang dekat masjid udah dijual, Budhe.” Jawab si perempuan itu tadi, masih dengan tegarnya.

            Bagaimana nggak merasa ditampar ketika mendengar cerita seperti itu. Ia sudah kehilangan kedua orang tuanya saat seusiaku, dan kini tinggal sebatang kara. Ayahnya telah meninggal beberapa tahun silam, dan kakak laki-lakinya entah sekarang berada di mana. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku yang berada di posisi perempuan tersebut. Kehilangan keluarga intinya dan benar-benar hidup sendiri di sini. Rasanya hanya untuk membayangkannyapun aku tak sanggup.

***

 

            Kehilangan pertamaku yang masih aku ingat dengan jelas sampai saat ini adalah kehilangan sahabat kecilku, saat aku masih SD dulu. Aku dulunya tinggal bersama bersama Bulikku di daerah Weru selama 6 tahun, mulai dari kelas satu sampai aku lulus SD. Di Weru, aku mempunyai sahabat namanya Lina, Erlina Zuhria Rahmawati nama lengkapnya. Ia tetangga sebelah rumah Bulikku sekaligus kakak perempuannya teman SDku.

            Dia adalah sahabat pertama yang aku punya saat itu. Dia yang mengenalkanku ke teman-teman sekampung saat berada di sana. Dia yang mengajakku pertama kali pergi ke TPA, dia yang menemaniku saat berangkat sekolah dan dia yang mengajariku banyak hal yang hasilnya aku bawa sampai saat ini.

            Kami memang beda satu tahun, lebih tuaan dia. Namun perkara umur tidak jadi masalah untuk kita saat itu. Kami sering bermain bersama bahkan setiap harinya berjanjian mengenakan warna baju dan celana yang sama. Mengenakan model jilbab yang sama, mempunyai potongan rambut yang sama pula. Aku sama sekali tidak terganggu jika ada yang bilang kami seperti anak kembar. Kami malah senang dianggap mirip seperti itu.

            Saat salah satu dari kami dimarahi karena kami melakukan kesalahan, -dia dimarahi ayah ibunya dan aku dimarahi bulik dan paklikku-, salah satu dari kami pasti mencoba menenangkan, mencoba mendinginkan, everything gonna be okay, selalu hal itu yang kami tekankan.

                Masih jelas banget terlihat di ruang kenanganku, dulu dia dan adiknya pernah dimarahi sewaktu berada di atas rumah pohon yang pernah dibuat adiknya dan teman-teman lelakinya di atas pohon bambu dekat masjid. Ayahnya Lina yang mengetahui kami berada di atas, sudah meneriaki kami dari kejauhan, “sekalian saja bawa pakaian kalian dan beras ke atas sana, nggak usah pulang ke rumah.” Kami sangat ketakutan sekali saat itu, padahal itu baru kali pertamanya aku dan Lina naik ke rumah pohon yang dibikin adiknya.

             Yang kami tahu saat itu hanya senang bisa mempunyai rumah pohon seperti anak-anak yang ada di televisi. Saat itu memang sedang booming sinetron yang anak-anak remajanya mempunyai rumah pohon sebagai markas mereka. Dan itulah yang kami rasakan saat itu, kami senang mempunyai markas sendiri. Kami tanpa memikirkan bagaimana bahayanya jika kami terjatuh atau hal berbahaya lainnya menimpa kami saat berada di atas sana. Akupun juga tak luput kena marah dari bulikku karena ikut-ikutan mengunjungi rumah pohon itu. Setelah kejadian itu, aku dan Lina sudah tidak berani lagi untuk menaikinya.

           Lina juga pernah mengajakku untuk sekolah di Pondok Pesantren, kami telah memikirkan banyak hal, kami telah berangan-angan akan tinggal di kamar yang sama ketika mondok nanti. Hal-hal menyenangkan seperti itulah yang selalu kami bicarakan ketika aku menginap di rumah Lina. Aku kerap diajak Lina untuk menginap di rumahnya karena ia kesepian, ayahnya terkadang dinas malam di sebuah rumah sakit, dan ibunya seorang guru yang sering kali ada urusan di sekolahannya, kakak laki-laki pertamanya sedang mengenyam bangku sekolah di Solo, dan tinggalan ia dan adik laki-lakinya yang seumuranku saja di rumahnya.

                 Untuk mengurangi rasa kesepiannya, terkadang ia mengajakku belajar bersama di rumahnya. Dan kamipun membentuk kelompok belajar. Jika lelah belajar, kami sering kali naik sepeda onthel bersama untuk beli mie thek-thek, atau sekedar main karambol dan yang kalah dalam permainan ini akan kami riasi wajahnya dengan bedak yang kita taburkan ke meja karambolnya.

              Jika tidak ada jadwal belajar bersama, Lina juga sering ikut belajar di rumah Bulikku. Aku paling tidak bisa melupakan kenangan yang satu ini. Saat kami belajar bersama dan aku sedang diajari Matematika oleh Simbahku, Simbah Harto. Lina memuji-muji Simbahku dan memberinya julukan “Mister Ahli Matematika” karena memang Simbahku memang jago sekali hitung-hitungan meskipun usianya sudah senja. -nanti kalau ada waktu akan aku ceritakan pula mengenai simbahku ini.

                Aku juga masih mengingat saat aku lari terbirit-birit ketakutan sehabis pulang tadarusan malam, karena dia menakut-nakutiku dengan suara nyaring ala kuntilanak. Pun ketika dia mengajariku berkali-kali untuk menyanyi dengan suara dua, ketika menyanyikan lagunya Siti Nurhaliza Cintaku bukan di atas Kertas, dengan jengkelnya akhirnya dia menyerah karena aku selalu gagal dengan suara keduaku. Lalu kamipun tertawa sepanjang jalan pulang sekolah. Aku juga masih ingat ketika aku, dia, mba Nurul, mba Ulfah dan teman-teman lainku lainnya ikutan dance gerak dan lagu untuk memeriahkan acara 17an di kampung kami. Lina selalu mengajariku jika gerakanku kurang luwes dipandang. Dan yang aku suka, dia selalu berani apa adanya, tanpa pernah menutup-nutupi apa kekurangannya dan apa kelebihan.

           Rumah Bulikku dan rumah Lina depannya sama-sama area persawahan, tak jarang aku dan dia ikut menonton anak laki-laki bermain layang-layang di sawah. Saat musim panas tiba, setiap sore kami juga ikut bermain Gobak Sodor bersama teman-teman laki-laki lainnya di halaman depan rumahnya Doni, Lina sangat lihai untuk menerobos benteng pertahanan lawan. Alarm pulang kami ya, kalau sudah mendengar adzan berkumandang. Tak jarang kami berdua kena marah dari orang tua kami karena kelayapan seharian hingga lupa makan dan tugas di rumah.

              Saat musim menanam padipun kami juga pernah ikut nyemplung ke sawah langsung. Saat itu pak Daliman, -guruku saat di madrasah, tengah mencabuti bibit padi di area pesemaian. Kami berdua iseng menghampiri ingin membantunya. Pak Daliman pun membolehkan dan dengan sabarnya mengajari kami mencabut bibitnya, dengan hati-hati pula agar akarnya tidak tertinggal di tanah. Lalu kami juga diajari cara menanam padinya. Kami sangat senang saat itu karena telah diberi kesempatan oleh Pak Daliman. Itu pertama kalinya aku dan Lina merasakan menanam padi sendiri. Selama ini kami hanya tahu tinggal makan saja. Tanpa tahu bagaimana susahnya menanam padi. Oleh karena itu, aku dan Lina lalu berjanji akan selalu berusaha menghabiskan nasi yang telah tersedia di piring kami. Aku sangat senang hari itu. Banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan bersamanya dari guruku itu.

            Dalam keadaan susahpun, Lina juga selalu berusaha membuatku tidak merasa sedih. Kala itu masih tahun 2006, aku tengah duduk di kelas lima SD. Hari itu hari Sabtu, aku ingat betul aku mengenakan seragam pramuka, karena pagi harinya aku ada jadwal piket karena bagi yang kelas enam akan mengadakan ujian. Tepat setelah gempa yang berpusat di Jogja dengan kekuatan 5,9 Skala Richer itu, aku mendapati rumah-rumah di daerah Weru banyak yang ambruk. Sekolahanku alhamdulillah tidak ambruk, hanya saja almari-almari, meja kursi dan buku-buku berserakan. Gedung sekolahan MTS yang berada satu kompleks dengan sekolahanku ada yang ikut ambruk juga.

            Saat itu sempat ada isu Tsunami dari Gunung Kidul, Ayahnya Lina sibuk memasukkan televisi, pakaian, dan barang berharga lainnya ke dalam mobil untuk kami mengungsi nantinya. Aku sangat cemas saat itu, bagaimana jika ini benar-benar akan menjadi akhir dari hidupku, dalam keadaan aku tidak bersama orang tuaku saat itu, aku mengkhawatirkan kalau kejadiannya seperti Tsunami di Aceh tahun 2004 silam.

                Aku duduk berdua di dekat sungai depan rumah Lina. Kami berdua menatap dua buah gunung yang terpampang jelas di depan kami, gunung Merbabu dan gunung Merapi, dengan wajah sedih kami masing-masing.

            “Nggak usah takut, ada aku.” Ucapnya pelan sambil merangkulku. Ia benar-benar paham apa yang aku takutkan saat itu

            “Aku sedih, Lin. Hari ini aku ulang tahun, tapi malah ada musibah seperti ini.” Jawabku sambil menahan air mata.

Dia tidak langsung merespon kata-kataku.

            “Selamat Ulang Tahun, ya. Ini buat kamu. Kata orang-orang, daun semanggi yang berhelai empat lambang keberuntungan, lho. Berdoa aja, biar kita semua dapet perlindungan” Katanya sambil mengasihkan daun semanggi yang baru saja dipetiknya di tepian sungai depan kami duduk ini.

***

 

            Belakangan ini aku sadar, isu tsunami yang disebarkan saat itu adalah isu yang dibuat oleh orang-orang jahat yang akan menjarah rumah-rumah yang kosong ditinggal penghuninya.

            Beberapa hari pascagempa itu, Lina datang ke rumah Bulikku dan aku diajak ke halaman depan rumah. Tiba-tiba ia menaburi dedaunan di kepalaku yang dibawanya di kepalan tangannya, -ala-ala mengasih surprise ketika ulang tahun. Kemudian dikeluarkannya sebuah kotak kecil dari saku celananya. Ia memberiku jepit rambut warna ungu berbentuk bintang. Aku bahagia sekali saat itu karena Lina menyiapkan kado spesial untuk mengurangi rasa sedihku.

***

 

        Saat kelulusan SD, Lina akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di MTS saja, karena ayah ibunya mengkhawatirkan jika ada hal-hal seperti gempa itu terulang lagi. Jogjakarta, Gunung Kidul dan sekitarnya menjadi sebuah kawasan yang harus dihindari untuk bepergian saat itu.

            Intensitas bermain kamipun berkurang saat kami tidak lagi di sekolahan yang sama –meskipun masih satu kompleks. Ditambah aku yang tengah duduk di kelas enam SD, juga tengah belajar lebih giat lagi untuk ujian kelulusan.

            Tiba-tiba ada kabar bahwa Lina dirawat di rumah sakit yang berada di Solo, dan harus beberapa kali kontrol sepulangnya dari rumah sakit tersebut. Beberapa kali dari orang-orang dewasa, aku mendengar bahwa Lina sempat tidak sadarkan diri dan tidak mengenali orang-orang yang menjenguknya. Aku sedih sekali dan takut, jika Lina juga akan melupakanku. Sebelum Lina dibawa ke rumah sakit, memang sempat beberapa kali kami bercengkrama bersama dan dia bilang, “Apa iya, sih? Kok aku nggak ingat, ya. Yang mana, sih?” Namun aku tidak peka akan hal itu.

            Sepulangnya dia dari rumah sakit, dia sudah bisa main ke rumah Bulikku. Saat itu aku tengah menjemuri pakaianku, -aku memang dibiasakan oleh Bulikku untuk mandiri sedari dini.

            “Kamu inget namaku siapa?” Tanyaku dengan polosnya.

            “Inget lah, kamu Anifiya Tri Purnami, saudaranya Regy.” Jawabnya sambil cengengesan.

            “Em, ini berapa?” Tanyaku sambil menunjukkan dua jariku ke depan.

            “Dua. Hahaha” Jawabnya.

            “Kalau hari ini, hari apa?” Tanyaku lagi, seperti menanyai anak kecil.

            “Em, Kamis. Eh bener enggak, ya. Kamis apa Rabu, ya?” Jawabnya minta diyakinkan.

         Aku senang karena Lina masih mengenaliku, tapi aku juga sedih, karena Lina tidak seingat dulu. Aku membantunya mengingat-ingat nama teman-teman dekat kami. Dan di sela-sela obrolan kami dia selalu bilang. “Aku nggak apa-apa, ini buktinya aku sehat. Aku udah sembuh, kok.” Jawabnya seperti menenangkanku.

             Beberapa hari setelahnya dia kembali dibawa ke rumah sakit, dan saat itu aku tahu, dia terkena Leukemia. Aku tidak bisa menjenguknya ke rumah sakit, kalau tidak ada yang mengajakku, usiaku saat itu masih kecil. Aku dan teman-teman TPA hanya bisa mendoakannya dan menunggunya pulang. Sepulangnya dia dari rumah sakit nanti aku dan teman-teman berencana akan langsung menjenguknya.

             Kondisi kesehatan Lina saat itu sudah sangat kritis, dia tak lagi mengenali temannya, pun denganku. Dia hanya tersenyum saat melihatku dan memegang tanganku dengan erat. Aku tahu, banyak yang ingin ia bicarakan, namun tidak bisa diucapkannya. Aku dan temanku mengajaknya mengobrol, tetapi ia hanya membalasnya dengan senyuman.

 ***

               Setelah ujian kelas enam selesai. Aku pulang ke rumahku yang ada di Watulumbung. Sembari mencari-cari info sekolahan untuk aku melanjutkan SMP di Tawangsari. Tiba-tiba ada kabar dari Bulikku lewat ponsel kakakku. Kabar yang membuatku tercengang, kabar yang membuatku langsung lemas dan tidak sanggup berkata-kata lagi.

“Nduk, kancamu Lina wis dipundhut karo sing Maha Kuoso iki mau.”[1]

            Mendapati pesan seperti itu aku langsung meminta kedua orang tuaku menemaniku ke rumah Bulik untuk melayat ke rumah Lina.

            Nyatanya senyum yang dia berikan saat pertemuan kita itu adalah senyum terakhir darinya. Senyum yang mengisyaratkan salam perpisahan yang tak sanggup ia utarakan, senyum perpisahan yang tak ingin sebenarnya ia berikan.

           Meskipun tak ada kenangan foto saat kita bersama, namun kebaikanmu dan semua kenangan baik kita akan selalu abadi, Lin. Bahagia selalu di sana, ya. Terima kasih karena telah memberiku berhelai-helai kebahagiaan, lebih dari empat helai daun semanggi yang kamu berikan saat ulang tahunku. Terima kasih telah mengajariku untuk selalu sabar dan baik kepada orang lain, meskipun orang itu tidak baik terhadap kita. Terima Kasih atas semuanya, ya, tenang di sana, teman kecilku.

 

           

 

           

           

           

           

           

 

 

[1] “Nduk, temanmu Lina sudah diambil sama Yang Maha Kuasa ini tadi.”

Karya : Anifiya Tri Purnami