KETIKA HIDAYAH SELALU DATANG TEPAT WAKTU

Anifiya Tri Purnami
Karya Anifiya Tri Purnami Kategori Renungan
dipublikasikan 2 bulan lalu
KETIKA HIDAYAH SELALU DATANG TEPAT WAKTU

Nduk, Ndukk, Bangun, Nduk. Ibu ada berita bagus buatmu.” Sang Ibu buru-buru meletakkan tenggok bakul jamunya di tempat biasanya, lalu menghampiri sang anak yang masih tidur.

Ada apa tho, Buk?” Tanya sang anak dengan mata masih terpejam, dan nyawa yang belum semua terkumpul.

Begini, lho, Nduk. Tadi Buk.e lewat tempatnya Budhe Tien, di sana ada temennya Budhe Tien yang tempo hari bawa mbak Anggun bias jadi Guru itu, lho.

Yaaaa, lha terus, Bu?” Jawaban sang anak masih dengan malas-malasan.

Tadi, Beliau tanya apa kamu mau kerja di Bank tempat dia kerja, ndak? Bank Tokio-Tokio itu, lho, nduk.” Sang Ibu tidak segera melanjutkan perkataannya, ia menunggu respon sang anak. “Katanya nanti suruh dateng ke sana, nduk. Suruh bawa CVmu, sekalian kamu tanya-tanya nanti di sana.” “Ya, nduk, ya?” Lanjutnya.

“Ya, nanti tak pikir-pikir dulu, Buk” Sang anak, kembali menarik selimutnya.

“Gajinya besar, lho, nduk, kerja di sana.” Sambung Ibunya, sembari membujuk agar anaknya mau.

***

Tepat satu minggu setelah wisuda, Ami masih menikmati masa transisinya. Dari mahasiswa menjadi seorang jobseeker alias pengangguran –pencari kerja dari satu job fair ke job fair lainnya. Sehari-hari kalau tidak ada keperluan untuk ke kampus mengurusi berkas-berkas ijazah dan surat-surat tektek bengek lainnya itu, ia hanya di rumah, tidur, mandi, makan, main, tidur, mandi, makan, main, -on repeat. Sekali-kali ia membantu ibunya memasak, ngepel, nyapu, nyuci, atau yang lainnya, seperti membelikan udang rebon di warung, itupun dengan usaha berkali-kali sang ibu menyuruhnya. Ami tergolong orang yang malas, tapi tidak kebangeten. Ia masih ingat pengorbanan Ibunya yang setiap pagi dan sore menggendong tenggok berkeliling kompleks dari satu rumah ke rumah yang lain, demi mengumpulkan seribu-dua ribu uang hasil jualan jamu dan rempeyek rebon. Maka dari itu, sebisanya iya membantu meringankan pekerjaan di rumah.

Ami tinggal di rumah kontrakan yang telah ditinggali ibu dan ayahnya sejak 35 tahun silam. Rumah kontrakan ini sudah seperti rumah sendiri. Pemiliknya sudah tidak pernah meninjau lagi rumah kontrakan ini, sekarang Beliau memilih tinggal di Sukoharjo, Kota sentral produksi jamu itu, yang sekaligus kota asal tempat tinggal Ami. Meski sudah tidak pernah mengunjungi kontrakan ini lagi, bukan berarti kontrakan ini menjadi hak milik keluarga Ami, setiap tahun sekali Ayah dan Ibu Ami mengunjungi pemilik kontrakan ini, selain untuk membayar uang kontrakan juga ingin menyambung tali silaturahmi.

Meski hanya sepetak berukuran 2x3m, jika hujan banyak atap yang bocor, ditambah tikus yang bercicit-cuit beratraksi setiap malamnya, kontrakan ini lumayan nyaman untuk ditempati. Mau tinggal di mana lagi, lha wong kontrakan sekarang mahal-mahal, belum lagi kalau kondisi lingkungan yang tidak bersahabat. Tinggal di Kampung Baru menurutku cukup nyaman, tetangga sekitar sangat ramah-ramah. Selain itu, karena tempat tinggalku di belakang sekolahan, banyak jajanan murah meriah yang dapat ia nikmati, yang bisa mengobati rasa rindunya dengan masa ketika dulu masih duduk di bangku sekolah.

                “Piye, nduk, mau ndak ke tempatnya Budhe Tien?” Tanya sang Ibu.

                “Aku barusan dah cek di webnya, Buk, Lewat Internet. Yang dibuka tuh bagian talent recruitmen program e, Buk. Aku ndak minat di situ, lagi pula kerja di perusahaan Jepang biasanya harus ada sertifikat N2, lha aku tes N3 kemarin saja gagal, kok.” Jawab Ami, sambil menolak halus permintaan Ibunya.

                “Nggak ada salahnya dicoba dulu, tho, nduk. Siapa tahu nanti kalau dibawa sama orang dalem bisa masuk tanpa pake sertifikat itu” Bujuk Ibunya.

                Beberapa menit tidak ada sautan jawaban dari Ami, pun dari Ibunya. Suasana jadi hening.

                Lalu dengan berani Ami mengungkapkan alasan yang sebenarnya, yang mengganggu pikirannya sedari tadi.  “Buk, aku ini dari kecil di sekolahin siapa tho, Buk? Dari beasiswa, kan? Kuliah juga dari Beasiswa, kan? pake uang rakyat Indonesia, lho, Buk. Lha masa setelah selesai kuliah mau kerja buat orang Jepang. Aku merasa nggak bertanggung jawab kalau begitu, Buk. Aku merasa ngga punya rasa balas budi kalau aku egois mau kerja di perusahaan Jepang.” Ami terdiam, sang Ibu juga belum memberikan respon.

                “Dari dulu, buk. Aku nggak pernah punya niatan mau kerja di Perusahaan Jepang. Ya, aku belajar di Sastra Jepang bukan berarti aku harus kerja di Perusahaan Jepang, tho, Buk. Aku belajar bagaimana kebudayaan Jepang itu, bagaimana mereka menjaga dan melestarikan budayanya, bagaimana etos kerja orang Jepang, sikap dan tingkah lakunya. Aku menyerap yang baik-baik, Buk.” Jelasnya, dengan mata berkaca-kaca.

                Mendengar semua ujaran anaknya, Sang Ibu sangat tercengang, dengan sangat kecewa Ibunya berkata, “Yawis, lah, nduk. Yang mau kerja kamu, yang tahu mana yang terbaik juga kamu, Ibu nurut saja sama kamu. Ya, tadi, kan, seenggaknya ada yang mau bawa kamu buat bekerja, kamu di kasih jalan, kalau dia nggak tahu kamu lulusan UI dan anaknya pinter, nggak mungkin juga ditawarin, nduk.

                “Iya, Buk. Maafin Ami, ya, Buk. Nanti bilang saja sama Beliau, aku juga sudah daftar-daftar di perusahaan lain, Buk.

                Bukan hanya itu saja yang ingin Ami katakan kepada Ibunya. Selain karena tidak mau bekerja di perusahaan Jepang, Ami juga tidak mau jika kerja dibawa-bawa orang seperti itu. Tidak adil, menurutnya. Dia malu jika baru mau kerja saja sudah melewati jalan yang curang. Dia ingin mendapatkan pekerjaan dengan hasil usahanya sendiri, seperti halnya untuk masuk sekolah dulu, dia selalu bisa masuk sekolah favorit dengan usahanya sendiri tanpa mengeluarkan uang untuk pihak sekolah, atau kasarannya tidak memberikan ‘pelicin’ kepada pihak sekolah seperti yang dilakukan kebanyakan para orang tua yang menginginkan anaknya dapat bersekolah di sekolah favorit.

***

                Sehari-dua hari setelah kejadian penolakan kemarin, sang Ibu jadi jarang berbicara kepada Ami, ia masih sedikit kecewa dengan keputusan anaknya yang menolak untuk bekerja di Bank Of Tokyo Mitsubishi.

***

                “Mas, di mana? Udah pulang, kan? Ngopi, yuk!” Ami mengajak kakak sepupunya, yang baru saja pulang, setelah dipindahtugaskan untuk bekerja di Tulung Agung.

                “Oke, OTW.” Balas, Mas Mukti.

***

                “Udah daftar kerja di mana aja, Mi?” Tanya Mas Mukti kepada Ami yang membonceng di sepeda motornya.

                Udah di beberapa perusahaan sih. Aku bingung, kemarin dapet tawaran suruh kerja di Bank of Tokyo, cuman…”

                “Jangan, jangan di Bank.” Tukas Mas Mukti buru-buru.

                “Ish, dengerin dulu, iya, Ami nggak mau, Mas. Tapi Ibuk kayaknya masih kecewa karena Ami nolak, deh.” Ujar Ami.

***

                Ami dan kakak sepupunya memutuskan untuk ngopi di kedai kopi yang terletak di salah satu mall di Depok. Di sana ia menceritakan semua kegundahan yang ia pikirkan selama ini. Semenjak di Depok, kakak sepupunya itu lah teman ngopi sekaligus tempat sampah semua unek-unek yang disimpan oleh Ami. Kakak sepupunya tersebut  hanya selisih dua tahun dengan Ami.

                “Alasan kamu nggak mau kerja di perusahaan Jepang itu tadi keren, sih.” Ujar Mas Hari. “Mas mau cerita nih, jadi mas punya temen, dia udah menikah, punya mobil mewah, rumah mewah, apapun kebeli kalau dia pengen sesuatu, cuman satu masalahnya, rumah tangganya berantakan, dia nggak tahu kenapa, perasaan semua kebutuhan keluarganya tercukupi

                “Terus setelah dia ngobrol sama beberapa rekannya, dia baru sadar. Hasil jerih payahnya bukan dari jalan yang halal. Dia waktu itu kerja di salah satu Bank ternama, posisinya juga udah jadi atasan. Akhirnya dia memilih resign dari pekerjaannya itu.”

                “Kerja itu, kan, juga Ibadah, Mi. Kalau kerjanya bukan dari jalan yang halal ya nggak berkah, lah, hasilnya. Ingat, Setiap jiwa tidak akan mati sampai rezekinya sempurna. Kalau udah ada jaminan kaya gitu, kenapa khawatir” Ucap sang kakak.

                Ami sudah berkaca-kaca, sebelumnya ia tidak pernah kepikiran sampai sana. “Iya, sih, Mas. Pantas aja ya, banyak lowongan pekerjaan di Bank-bank, tes masuknya kata seniorku juga nggak susah, gaji besar, jenjang karir juga jelas. Alhamdulillah, Mas. Aku dapet pencerahan malem ini, untung juga aku belum apply di Bank ‘stand  alone’ itu.

***

 

Note:

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.”

(HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).[1]

 

 

 

[1] Muhammad Abduh Tuasikal. muslim.or.id/25596-renungan-bagi-yang-ingin-melamar-kerja-di-bank.html. Diakses 2 Februari 2017, pukul 19.45

Dilihat 98