Jam Si Penunjuk Waktu, Siapakah Penemunya???

Ani Disa
Karya Ani Disa Kategori Sejarah
dipublikasikan 18 September 2016
Jam Si Penunjuk Waktu, Siapakah Penemunya???

 

 “Sekarang semua sudah serba canggih, bung !” Mungkin perkataan seperti ini sudah sering terdengar di telinga kita. Tentu saja, di era yang serba modern ini, segala sesuatu sudah serba canggih dengan teknologi yang maju. Teknologi-teknologi maju bukan lagi hal yang tabuh bagi umat manusia pada saat ini. Sebut saja penggunaan komputer, gadget, atau robot, atau bahkan jam tangan.

Berbicara terkait sebuah jam, tentu benda yang satu ini mengambil peran yang sangat penting bagi umat manusia. Segala aktivitas manusia selalu terkait dengan waktu. Ketika kita hendak menunaikan shalat, maka tidak lagi pergerakan matahari yang diamati oleh umat manusia, kita cukup melirik kearah jam saja. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bahkan orang yang sudah lanjut usia sekalipun menjadikan jam sebagai tolak ukur agar segala aktivitas yang dilakukan bisa sesuai dengan waktu yang semestinya atau bahkan tepat waktu.

Allah SWT berfirman: ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-’Ashr: 1-3). Islam adalah agama yang mengajarkan bagaimana pentingnya waktu dan penggunaannya secara optimal. Di dalam Al- Qur’an, Allah SWT menamai empat surah dengan nama waktu, yaitu surah Al-Fajr, Surah Adh-Dhuha, Sura Al-Ashr dan Surah Al-Lail. Bahkan hampir seluruh aktivitas peribadahan kaum muslim terikat dengan waktu.

Sebuah syair Arab bahkan mengibaratkan waktu seperti pedang. ”Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha’haa qath’aka.”–Waktu laksana pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya, ia akan menebasmu. Tentu saja, waktu adalah aspek yang sangat penting bagi umat manusia sebab segala aktivitas mereka selalu terikat dengan waktu. Agar kita senantiasa mampu mengoptimalkan segala sesuatu tentu saja kita membutuhkan sebuah alat penanda waktu. Itulah jam.

Nah, kira- kira siapakah penemu benda yang sangat bermanfaat seperti seperti jam? Ketika pertanyaan tersebut terbersit dibenak kita, maka jawabannya tidak lain adalah ilmuwan muslim dan bukan bangsa Barat. Dari abad ke abad penemuan mereka terus mengalami perkembangan

Jam dengan ketepatan waktu adalah salah satu satu perkembangan yang paling signifikan dari peradaban Islam. Para ilmuwan muslim membuat automata inovatif dengan melakukan analisis matematika secara terperinci lalu kemudian menciptakan sebuah jam. 

Penemuan jam berawal dari ke X, seorang ilmuwan muslim bernama Ibnu Al-Haytham berhasil menemukan sebuah teknologi jam pertama berupa jam air yang memiliki silinder dengan lubang kecil di dasar sebagai penggerak utama untuk menginformasikan waktu. Sebagian silinder tenggelam ke tangki lain, yang mengandung air, dengan ‘resembleed’ sebuah ‘clepsydra inflow’, digunakan mengukur waktu dengan jumlah air yang mengalir. 

Pada Abad ke XI, Jam air ini, kemudian dikembangkan oleh seorang insinyur muslim bernama Alī Ibn Khalaf al-Muradi atau Al- Muradi. Jam air yang dikembangkan oleh beliau menggunakan automata. Sayangnya, naskah fenomenal buatan Al- Muradi dirusak. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk memahami persis bagaimana jam ini bekerja.

Pada abad ke XII, Abū Al-'Iz Ibn Ismā'īl Ibn Al-Razāz Al-Jazari atau yang dikenal dengan panggilan Al- Jazari adalah ilmuwan yang menjelaskan terkait mekanisme mesin jam secara eksplisit dalam risalah terkenal mekanika Al Jami bayn al ilm l amal al nafi fi al sina’at hiyal (A Compendium on the Theory and Useful Practice of the Mechanical Arts). Jam yang telah ditemukan oleh beliau adalah jam berupa jam air yang monumental yang dikenal yang dikenal sebagai sebagai Jam Kastil. Jam satu ini adalah salah satu jam termegah yang disebutkan dalam buku Al Jazari tersebut . tak hanya jam air, Jam Gajah al Jazari adalah mungkin yang paling terkenal dari jam dari peradaban Islam. Jam besar yang menggunakan air penggabungan antara teknologi Yunani, gajah India, sebuah phoenix Mesir, angka Arab dan Naga Tiongkok. Hal ini dimaksud untuk merayakan keragaman dunia.

 

Tidak sampai disitu saja kisah mencengangkan yang ditorehkan oleh ilmuwan muslim. Jam air ini terus mengalami perkembangan. 

Pada abad ke XII, sebuah jam air yang dioperasikan oleh tuas dan string tanpa mekanisme gigi rumit, terletak di sebuah kamar di menara Masjid Qarawiyyin. Ilmuwan yang mengembangkan jam air ini adalah Ibn Al Habbak al Tilimsani. Lalu selanjutnya jam tersebut disempurnakan kembali pada 1346-1348 oleh Abu Abdallah al ‘Arabi dan dilengkapi dengan rete astrolabic untuk membantu melacak bintang-bintang.

Tak hanya jam air saja penemuan hebat kaum muslim. Selanjutnya, pada abad ke XVI, Taqi Al-Din Ibn Ma’ruf menganalisa empat jenis utama dari jam. Keempat jam tersebut adalah Di antaranya, jam tangan, jam domestik, jam astronomi dan menara jam. Bahkan penemuan ini mewakili komputer mekanik awal. Banyak perangkat yang disebutkan di jamnya yang hadir pada jam saat ini dari seluruh dunia.

Lagi dan lagi, ilmuwan muslim telah menorehkan sejarah bagaimana hebat dan masyhurnya islam ketika berjaya dulu. Telah banyak ilmuwan muslim yang melakukan inovasi yang sangat memberikan sumbangsi hingga saat ini. 

Barat mungkin telah mengaburkan sejarah dan dunia mengenal Peter Henlein sebagai penemu dari jam. Namun sejatinya, jam telah ditemukan lebih dulu oleh ilmuwan muslim sedangkan Peter Henlein baru menemukan jam pada abad ke XVI. 

Wallahu A’lam Bish Shawab

 

 

Source(pict): praditamauliyadita.wordpress.com