Rumah Sakit Tertua di Dunia, Bukti Kejayaan pada Masa Islam

Ani Disa
Karya Ani Disa Kategori Sejarah
dipublikasikan 21 Juli 2016
Rumah Sakit Tertua di Dunia, Bukti Kejayaan pada Masa Islam

‘Orang miskin dilarang sakit’ demikianlah ungkapan yang sangat pantas disandangkan dalam kehidupan saat ini. Hal ini ibarat sebuah slogan tersirat dimana mahalnya biaya berobat ke rumah sakit bagi rakyat dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah, menjadi hambatan mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Rumah sakit hanya menjadi pusat perawatan bagi orang yang mampu saja. Dunia kesehatan bahkan lebih diperparah dengan adanya isu vaksin palsu. Potret dunia kesehatan saat ini masih menggambarkan buruknya taraf pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Hal ini justru sangat berbanding terbalik bagaikan langit dan bumi jika kita melihat kembali sejarah keemasan Islam di masa lalu. Dimana Pada saat itu, peran institusi kesehatan mampu memberikan kontribusi bagi kemaslahatan umat. Biaya kesehatan baik berobat ataupun bentuk pelayanan masyarakat justru gratis. Peradaban islam memang dikenal sebagai peradaban dimana para penguasa memiliki kepedulian tinggi terhadap rakyatnya, maka tak heran jika berdirinya rumah sakit pada masa itu beserta pelayanannya merupakan bukti bagaimana kemaslahatan umat saat itu menjadi salah satu hal krusial bagi pemimpin pada saat itu.

Pada masa kejayaan islam, tercatat telah banyak institusi kesehatan seperti rumah sakit telah berdiri. Rumah sakit yang didirikan pada saat itu hampir tersebar di setiap kota yang dimana rumah sakit tersebut selain berfungsi sebagai sarana untuk merawat pasien juga sebagai tempat bagi para dokter untuk mengajarkan ilmu medis bagi mahasiswa dan orang-orang yang ingin mengembangkan ilmu medisnya. Bahkan konsep yang dikembangkan pada masa itu hingga kini masih memberikan banyak pengaruh.

Sebenarnya, cikal bakal didirikannya rumah sakit berawal dari masa Rasulullah SAW. Ketika berperang, Rasulullah SAW selalu membawa pasukan yang berperan sebagai tim medis yang membawa perlengkapan medis yang lengkap guna untuk merawat para pasukan yang terluka di medan perang. Rumah sakit pada awalnya dikenal dengan nama ‘Bimaristan’ yang dalam bahasa persi berarti rumah pasien

Di dalam sejarah tercatat banyak terdapat rumah sakit- rumah sakit yang cukup terkenal, misalnya Al-A’dudi yang didirikan di Baghdad pada tahun 371 H. Dalam perkembangan zaman, muncullah rumah sakit Al-Nuri yang didirikan pada masa pemerintahan khalifah Al-Walid Bin Abdul Al-Malik dari dinasti Umayyah pada abad ke-7 Masehi di Damaskus. Inilah rumah sakit yang dalam sejarah tercatat sebagai rumah sakit yang pertama kalinya menggunakan system rekam medis.

Rumah sakit terkenal lainnya pada masa adalah rumah sakit Al fusta yang didirikan oleh Ahmad Ibn Tulun di Mesir tepatnya di kota Fustat (sekarang Kairo) pada tahun 872 M. Rumah sakit ini dulunya dibangun dengan biaya yang sangat mahal, namun semua pasien mendapatkan pelayanan kesehatan gratis tanpa ada pungutan biaya sepeserpun, ditambah lagi gaji dan biaya operasional serta biaya perawatan dan obat-obatan, semuanya ditanggung oleh negara. Tak hanya itu, ruang inap bagi pasien wanita dan lelaki pun terpisah, perpustakaan yang disediakan juga sangat lengkap. Dan yang lebih hebatnya lagi, Rumah sakit Al-Fusta memiliki ruang perawatan kesehatan mental yang merupakan fasilitas yang langka ditemukan pada era modern saat ini.

Di sisi lain, kehidupan bangsa barat masih terkategori sangat tertingal. Kehidupan mereka masih terkesan sangat kental dengan hal yang berbau takhayul, bahkan pengobatan medispun masih dikaitkan dengan hal yang berbau takhayul. Mereka baru mendirikan rumah sakit pertama yaitu tepatnya di Paris Sembilan abad kemudian setelah kaum muslim mendirikan rumah sakit.

Pasien rumah sakit di Paris dipaksa untuk tinggal di satu lingkungan, bahkan tiga atau empat atau bahkan lima pasien terpaksa tidur bersama disatu tempat tidur dengan penyakit yang berbeda-beda. Selain itu, orang mati dipindahkan di luar bangsal selama dua puluh empat jam setelah kematian mereka.

Sebagaimana dilukiskan oleh Florence Nightingaale, rumah sakit yang didirikan oleh bangasa Eropa masih sangat kotor dan menjijikkan. Dinding-dinding rumah sakit masih ditumbuhi jamur dan alga yang berada di sela-sela puing-puing, zat-zat organik, darah kering, dan kotoran-kotoran lainnya.

Hal yang sangat berbeda yang ditampakkan oleh kaum muslim saat itu ialah majunya peradaban kaum muslim bahkan dalam bidang kesehatan , dimana bangunan arsitek dari rumah sakit sangat megah dan bersih serta jauh dari kata “kumuh”. Selain itu, rumah sakit – rumah sakit yang dibangun pada masa kejayaan islam sepenuhnya berasal dari wakaf. Ilmuwan Hossam Arafah mengatakan dalam tulisan yang berjudul “Hospital in Islamic History” bahwasanya karakteristik rumah sakit islam ialah melayani pasien tanpa memandang asal usul, etnis, suku, maupun agama. Semua berhak menerima perawatan medis tanpa perlu membayar biaya layanan rumah sakit. Umat muslim dan penguasa pada saat itu mewakafkan harta mereka semata-mata untuk kepentingan sosial dan agama. Walhasil, dana wakaf yang sangat besar lebih dari cukup untuk membiayai pembangunan dan operasional rumah sakit.

Demikianlah bagaimana hebatnya pelayanan kesehatan pada masa islam berjaya dulu yang tentu saja mampu menyejahtrakan umat.

Namun bagaikan langit dan bumi, pada saat ini demi mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjamin, tak jarang harus memakan biaya yang cukup mahal. Tentu saja lahirlah istilah ‘Orang miskin dilarang sakit’ atau istilah ‘sehat itu mahal’. Hal ini tidak mengherankan sebab pemerintah terkesan bersikap acuh terhadap rakyatnya. Para penguasa yang tamak sibuk melakukan usaha memperkaya diri dengan melakukan suap, pencucian uang, korupsi, dan lainnya.
“Seorang Imam adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya” (HR al-Bukhari dari Abdullah bin Umar) []
Wallahu a'lam bish-shawab