Zakir Naik? Maaf, Saya Tak Tertarik..

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Agama
dipublikasikan 06 April 2017
Zakir Naik? Maaf, Saya Tak Tertarik..

Mungkin dia memang pintar. Memory di otaknya setara supercomputer yang menghapal teks-teks beberapa kitab suci sekaligus angka-angka dan halaman detailnya. Jajaran argumen yang “fasih” juga siap meluncur dari mulutnya kapanpun untuk menghantam lawan bicara hingga tak bisa berkata-kata. Retorikanya juga serasa sedap didengar.

Mungkin dia juga jenius. Ahli bedah dalam arti kedokteran, namun juga ahli bedah kelemahan lawan, sehingga konon ada beberapa kasus lawan debatnya berubah arah menjadi pendukungnya.

Mungkin bagi mereka-mereka yang selama ini menganggap relasi antar agama adalah relasi perang, relasi persaingan untuk saling menjatuhkan, relasi pukul memukul, dia adalah semacam superhero bertameng yang layak disorakin sebagai dewa penolong. Kehadirannya menancapkan semacam perasaan menang, perasaan benar, dan perasaan berhasil menjungkalkan lawan di seberang sana.

Tapi maaf, saya tak tertarik.

Terlepas dari soal materi dan substansi ceramah dan debatnya yang masih sangat bisa diperdebatkan panjang dan lebar, juga isu tak sedap yang juga menjadi kontroversi yang mengiringi popularitas dia terkait rekayasa muallaf dan sebagainya, saya tetap tak tertarik.

Buat saya, Islam hadir di dunia ini untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, tanpa harus menegasikan potensi kebaikan dari sumber lain. Islam datang tidak dalam keadaan nol sejarah. Telah ada warna lain yang juga memproduksi kebaikan, keadaban, dan tentu seiring dengan telah hadirnya juga keburukan dalam sejarah. Warna Islam hadir di tengah warna lain yang sudah ada, yang tentu saja memiliki keindahannya sendiri.

Sejarah Muhammad SAW bagi saya adalah sejarah keteladanan kebaikan, keadaban. Terlalu banyak contoh di mana beliau mengalahkan lawan ideologis dengan memenangkan hatinya, bukan dengan mengganjal atau menjatuhkan musuhnya.

Adapun perang dalam Islam, saya percaya itu adalah bagian dari tren sejarah eksistensi agama-agama yang berkalang berkelindan dengan politik kekuasaan. Itu bukan bagian dari substansi ajaran agama. Kalaupun ada sebagian ajaran agama kita tentang perang, itu karena konteks sejarahnya memang mengharuskan Islam meresponnya. Sekali lagi, karena Islam tidak hadir di titik nol sejarah. Toh juga bisa ditelusuri, bahwa spirit perang dalam teks keislaman intinya adalah membela dan mempertahankan diri.

Bagi saya, spirit menaklukkan dan menjatuhkan lawan, jikapun ada, itu bukan inti ajaran agama Islam. Islam bisa menang tanpa menegasi yang lain. Tanpo ngasorake.

Jadi maaf, saya tak tertarik dengan Zakir Naik.

Saya lebih tertarik kepada orang-orang yang dengan susah payah menyusun tenun perbedaan menjadi harmoni yang menyejukkan. Orang-orang yang menikmati perbedaan sebagai sarana untuk mewujudkan kemenangan bersama sebagai manusia. Orang-orang yang tertatih-tatih melawan narasi-narasi kebencian yang bertebaran kian menggila, dengan cinta dan tradisi saling berbagi kasih.

Saya lebih tertarik kepada orang-orang yang memahami dan memanfaatkan agamanya untuk merawat manusia dan kemanusiaan, merawat dan melestarikan alam, dan mengasihi seluruh makhluk ciptaan. Orang-orang yang dengan agamanya mereka menghargai hidup dan kehidupan, menebar senyum dan energi positif kepada seru sekalian alam. Orang-orang yang karena keberagamaannya, tetangga mereka menjadi nyaman dan bahagia, bukan hidup dalam rasa curiga, ketakutan, dan kekhawatiran.

Kebetulan, saya juga pernah “memutus” satu urat dalam tubuh saya bernama kebencian. Semoga urat itu tidak tersambung lagi dan memproduksi kebencian demi kebencian terhadap sesama. Bagi saya, agama itu memanusiakan manusia, memenangkan manusia. Bukan mengalahkannya. Bukan melecehkannya.

Jadi sekali lagi maaf, saya tak tertarik.

  • view 2.4 K