Terima Kasih Om Fahri...

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Januari 2017
Terima Kasih Om Fahri...

Terima kasih Om Fahri.

Kali ini Anda berhasil mengalihkan perhatian kami dari kejenuhan wacana dunia persilatan yang itu-itu saja: Ahok dan bukan Ahok, Rizieq dan bukan Rizieq, mantan dan bukan mantan. Kali ini kami semua dibuat terhenyak oleh isu baru yang tentu saja Anda coba kait-kaitkan dengan ingar bingar di luar jendela gedung senayan nan nyaman.

Kali ini Anda berhasil menunjukkan kepada kami, betapa krusialnya problem cara berpikir dan cara memandang, sudut pikir dan sudut pandang. Betapa berpengaruhnya ratusan tahun dijajah orang, sehingga jangankan di tingkat masyarakat kebanyakan, di kalangan pejabat tinggi negara selevel Anda pun masih melihat profesi seseorang bisa direndahkan sedemikian rupa.

 

"Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela"

Terima kasih Om Fahri.

Keberadaban bangsa ini dibangun terseok-seok, penuh keringat, air mata, dan darah. Membangun kesadaran dan penghargaan terhadap segala jenis profesi, saat ini sedang sedikit memanen hasil jerih payah itu. Dalam konteks ini: bangsa ini telah mulai belajar: menyebut TKI sebagai pahlawan devisa, menyebut “pembantu rumah tangga”sebagai pekerja rumah tangga, mengubah Terminal 3 menjadi terminal yang lebih memanusiakan manusia, membenahi proses pengiriman buruh migran yang sarat pemerasan dan manipulasi, moratorium pengiriman buruh migran ke negara-negara yang tidak bisa memastikan perlakuan adil terhadap mereka. Tentu saja tak perlu mengajari Anda, Om Fahri, perubahan itu pada dasarnya bukan sekadar istilah, tapi lebih jauh dan lebih luas dari itu: perubahan cara memandang, cara berpikir.

Kini Anda menunjukkan kepada kami, bahwa perjuangan bangsa ini masih panjang. Semoga masalahnya adalah kawan-kawan aktivis dan pendamping buruh migran lupa menganggap Anda sebagai salah satu stakeholders mereka. Semoga mereka hanya salah sangka, dikira para anggota dewan yang terhormat itu sudah “melek”dengan sendirinya. Semoga kami hanya salah terka, bahwa tingginya tingkat ternyata tidak berbanding lurus dengan tingginya penghargaan terhadap manusia dan kemanusiaan.

 

"Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela"

Om Fahri, tentu saja saya subjektif. Tapi bagi saya: jika Anda hanya menyebut mereka “babu,” meski kami tetap mengurut dada, mungkin saja dengan segera kami memaklumi bahwa mungkin saja memang pendidikan dan kultur Anda sudah bawaan orok, alias mewarisi kultur poskolonial dan mental terjajah yang susah tergerus. Mungkin saja kami hanya bilang: “Oh, kadarnya memang baru segitu.” Mungkin saja.

Namun Anda tidak cuma menyebut mereka babu, tapi juga melakukan judgement yang sangat menghinakan, menistakan, dan sekaligus menodai para pahlawan devisa itu: menyebut mereka sebagai “mengemis”.

Om Fahri, cobalah belajar sedikit mendengar (eh, membaca) balasan langsung dari Halimah di Hongkong yang dimuat detik.com ini. Saya ikut sakit membacanya:

"Tahukah Bapak bahwa kami ini pekerja bukan babu. Kami mempunyai harkat dan martabat. Kami melakukan pekerjaan yang halal dengan setiap tetesan keringat kami, bukan hasil korupsi apalagi hasil mengemis! Perjuangan yang kami lakukan di sini telah memberikan penghidupan yang lebih layak bagi keluarga kami di kampung halaman, serta memberikan anak kami pendidikan dan jaminan kesehatan yang lebih baik.”

 

Sekali lagi, terima kasih Om Fahri.

Anda telah mengingatkan kepada kami bahwa sangat sayang jika energi kami semua ini dihabiskan hanya untuk memelototi pertarungan politik yang semakin tak rasional di Pilkada Jakarta ini. Terima kasih telah membuka lagi mata kami bahwa negeri ini terlalu luas, dan penduduk ini terlalu banyak, untuk hanya peduli terhadap persoalan Ahok, Rizieq, Ahok, Rizieq, Ahok, Rizieq, melapor, terlapor, melapor lagi, terlapor lagi.

 

Terima kasih telah membangunkan kami.