Nonton Pidato Politik

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Politik
dipublikasikan 15 November 2016
Nonton Pidato Politik

Sangat amat jarang saya nonton pidato politik secara langsung, untuk tidak mengatakan tidak pernah. Di kampung dulu, seringkali memang ada pidato pejabat kelurahan atau kecamatan di acara-acara pengajian umum, tapi ya itu pidato pejabat, begitu-begitu aja. Sesekali saya ikut kampanye dan nonton pidato politik orang-orang partai, namun tak jelas juga apa yang diomongin, karena di tiap acara kampanye, yang penting adalah pawainya, bukan pidato-pidatoannya.

Kali ini, Minggu, 13 November, saya berkesempatan menyaksikan langsung pidato politik dari seorang calon pemimpin muda yang bahkan baru masuk ke percaturan politik hanya beberapa bulan yang lalu.

Kampanye yang hingar bingar. Tentu saja. Saya tahu sebagian besar manusia yang hadir ini sudah menentukan pilihannya kepada jagoan ini. Sebagian yang lain sedang dirayu untuk mendukungnya. Saya duduk tidak terlalu jauh dari podium kecil yang didesain untuk pidato politik ini.

Ketika saatnya tiba, calon muda ini muncul menebar senyum, berbaju biru muda keunguan dengan beberapa singsingan, bercelana hitam. Mungkin celana jeans. Masih muda, dan memang bergaya muda.

Sekitar 45 menit ia berpidato. Sesekali diselingi celetukan. Sesekali diselingi candaan. Juga hingar bingar teriakan penonton dan yel-yel yang menghentikan pidatonya di tengah jalan. Gesture dan mimiknya meyakinkan sebagai orator. Tidak ada salah ucap. Emosi dan tone-nya terjaga. Substansinya mengalir runtut dan natural. Kecerdasan intelektualnya juga nampak.

Intinya, ini anak muda keren banget. Ruhut Sitompul benar belaka ketika bercerita bahwa ia pernah mempresentasikan seorang“calon pemimpin masa depan” ini di depan Presiden Jokowi.

Betul. Dia adalah Agus Harimurti Yudhoyono. Lupakan bahwa ia adalah putra mantan Presiden SBY. Lihatlah Agus sebagai Agus. Dan Agus adalah orator yang keren.

Sore itu dia berbicara tentang program-programnya, bagaimana logika program itu dijalankan, dan apa arti penting program itu bagi masyarakat Jakarta, sekaligus menjawab dengan canggih tudingan miring terhadap program semacam itu.

Dan tentu setelah bicara tentang berbagai-bagai, inilah yang saya tunggu-tunggu: apa yang dia bilang tentang kemajemukan dan keberagaman?

Kurang lebih menurutnya begini, berdasarkan daya tangkap saya:

“Jakarta adalah kota yang majemuk. Menjamin Jakarta yang aman, damai, dan menggaransi rasa aman bagi warganya bagi Agus adalah harga mati. Ini adalah tugas pokok. Agenda utama. Kita tak boleh terbelah hanya karena satu dua isu. Kemajemukan dan kebhinnekaan Jakarta hanya bisa dijaga ketika kita bersatu dan menjaga toleransi. Jangan sampai persoalan pribadi dibawa menjadi persoalan agama dan etnis. Konflik harus dipersempit, bukan malah diperluas. Jangan sampai ada kekerasan komunal.”

Hampir semua yang diucapkan secara padat itu adalah kata kunci penting di tengah hingar bingar menguatnya ancaman konflik dan kekerasan terkait kasus Ahok saat ini. Sangat tegas dan cadas. Dan ini adalah pernyataan yang sangat clear. Dan menempatkan soal ini sebagai tugas pokok dan agenda utama adalah sesuatu, pake bingitPolitically correct. An d socially correct.

Dan marilah kita melihat Pilkada Jakarta ini dengan sudut pandang yang positif. Semua kandidat masih punya peluang untuk menang, dan ada kemungkinan kalah.

Dan dalam konteks menjaga toleransi dalam kebhinnekaan ini, saya siap ikut mendukung Agus Yudhoyono. 

Dan dengan demikian, sudah benar belaka hari itu saya nonton pidato politik.

 

 

  • view 262