Teruntuk Kawanku Muslim Amerika

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Politik
dipublikasikan 11 November 2016
Teruntuk Kawanku Muslim Amerika

Kawan, tanpa kaucerita sesuatu, akupun sudah tahu dan cukup merasakan kesedihanmu. Ya, kau sedih, itu pasti. Juga kawan-kawan lain di sana. Tentu sebabnya adalah kemenangan Trump.

Dan tentu bukan kemenangan itu melulu yang menampar kita hari ini. Tapi lebih pada apa yang ada di balik kemenangan itu. Kemenangan itu juga menunjukkan dengan pasti, bahwa rakyat Amerika belum selesai belajar berdemokrasi. Mungkin kecuali demokrasi prosedural. Bahwa kedewasaan peradaban tidak menjadikan manusia-manusia di dalamnya otomatis juga dewasa dalam menyikapi perbedaan.

 Beberapa hari lalu kami di sini masih merasa bahwa Trump akan sendirian dengan jargon rasisme dan arogansinya. Ia akan ditinggalkan karena masih membawa sentimen ras, agama, dan warna kulit untuk mendulang suara. Kami berpikir bahwa anasir kebencian atas dasar perbedaan alamiah sudah tak laku lagi di Amerika yang super itu.

Ternyata kami salah, kawan…

Ternyata warga Amerika tak sedewasa itu. Ternyata kebencian masih laku di sana. Rasisme masih digemari. Penyingkiran terhadap kaum minoritas masih digandrungi. Dan Islamofobia bukan saja masih menjangkiti sebagian dari mereka. Bahkan pelan-pelan menular menjalar.

Tentu kami di sini juga tahu. Sebagian penyakit ketakutan itu juga diakibatkan oleh saudara-saudara kami di sini, yang berislam secara keras dan simbolik. Yang konon memperjuangkan Islam namun tanpa sadar menjatuhkan citra Islam. Mereka menebar benci dan bahkan menumpahkan darah manusia lain, atas dasar perjuangan itu.

Tentu kami di sini tahu, media mainstream lebih suka memberitakan manusia yang menggigit anjing daripada sebaliknya. Tentu termasuk media di Amerika tempatmu tinggal. Berita kekerasan atas nama agama di sini dengan cepat menjadi hingar bingar di sana, sementara orang-orang Islam ramah yang sejak lahir telah menganut Islam ramah, dan bahkan selama belasan tahun kemudian mereka berjuang untuk menyebarkan Islam yang toleran, jarang sekali diekspose di sana. Meskipun, berbusa-busa kita meyakinkan mereka bahwa muslim pentungan sejenis itu tak lebih dari 5 persen dari muslim Indonesia yang cenderung toleran.

Kawan, tentu kami di sini ikut sedih.

Betapa para penebar benci di sini menemukan justifikasinya dengan kemenangan Trump di sana. Dengan mudah mereka akan berteriak lantang bahwa toleransi, HAM, dan demokrasi adalah jargon-jargon kosong, bahkan di Amerika sana yang dianggap sebagai negara pionirnya. Bahwa warga Amerikapun berdiri seiring dengan Trump yang “memusuhi Islam”.  

Rasa takut dan rasa dimusuhi inilah yang menjadi minyak yang dituang dalam percikan api yang memang dirawat oleh sekelompok orang. Rasa takut inilah yang menjustifikasi mereka untuk melakukan teror dan kekerasan kepada kelompok lain yang dianggap mengancam.

Dan rasa takut inilah yang juga ditebar oleh Trump sehingga kau dan temen-temen di sana saat ini sedang mencari pojokan tempat berlindung. Dan kami tahu betul, bukan kemangan Trum semata yang membuatmu merasa khawatir. Kemenangan Trump bisa jadi akan meletupkan kebencian yang sangat di kalangan pendukungnya, dan orang-orang yang memang sudah memiliki api kebencian di dalam dirinya.

Kawan…

Betapapun, kematangan demokrasi Amerika sedikit banyak membuat kami tidak sekhawatir itu. Tidak sekhawatir menyaksikan kawan-kawan minoritas di sini yang sudah diperlakukan diskriminatif dan tak adil sejak ia dilahirkan. Hingga hendak dikuburkan pun mereka masih harus dipisahkan dengan “kuburan orang normal”.

Kawan, hidup terus berjalan. Hadapilah kebencian dengan cinta. Tunjukkan bahwa Islam yang benar adalah Islam yang penuh kasih, penuh kedamaian. Tunjukkan pada mereka bahwa potensi kekerasan dan kebencian ada di semua agama, bukan khas Islam. Tunjukkan pada mereka bahwa  manusia tidak boleh dibenci dan dimusuhi, hanya karena berbeda agama, ras, atau warna kulit.

Kawan, ajarilah kami di sini untuk juga mencintai kelompok-kelompok yang lebih kecil. Semoga kampanye-kampanye Trump yang penuh kebencian hanya selesai di tingkat kampanye.

[]

  • view 359