Lima Syukur untuk Pilkada DKI

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Project
dipublikasikan 04 Oktober 2016
Catetan Harian

Catetan Harian


Semoga menstimulasi konsistensi menulis....

Kategori Non-Fiksi

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Lima Syukur untuk Pilkada DKI

Kay,

Aku ingin mencatatkan satu kelegaan hari ini, setelah kemarin Jakarta penuh hingar bingar politik yang agak mengkhawatirkan. Ini karena polemik yang terjadi kemarin-kemarin adalah soal Ahok dan bukan Ahok, soal Muslim dan Non-muslim, dan memberi ruang yang cukup besar bagi kaum pembenci untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi isu-isu SARA.

Ya, hari ini setidaknya kita mencatat beberapa hal yang patut membuat kita menarik nafas lega, entah sementara atau seterusnya. Ini setelah terjadi perdebatan dan tarik menarik luar biasa antarpartai-partai yang berebut kuasa. Hasilnya, kemarin diumumkan calon-calon kandidat Gubernur DKI Jakarta yang bahkan tak terpikirkan oleh publik 2-3 hari sebelumnya: Calon pertama tentu petahana, yakni Ahok-Djarot. Ini juga hasil kocok ulang setelah PDIP secara resmi mendukung Ahok.

Calon kedua adalah Agus Yudhoyono-Sylviana Murni. Putra Sulung SBY ini tidak banyak yang menyebutnya sebelumnya, karena ia fokus berkarir di militer. Dan di ujung hari, entah kenapa tiba-tiba koalisi Partai Demokrat, PPP, dan PKB memunculkan namanya. Dan Sylviana Murni justru adalah penentu jika mereka terpilih, mengingat pengalamannya di birokrasi dan pemerintahan. Ia adalah mantan Walikota Jakarta Pusat dan sekarang Deputi Gubernur DKI Bidang Kebudayaan dan Pariwisata.

Calon ketiga adalah Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Ini betul-betul mengubah konstalasi, karena sebenarnya Sandi sudah digadang-gadang lama dan bahkan sudah mendeklarasikan pencalonannya bersama Mardani dengan Sandi sebagai Cagubnya. Sekarang malah dia jadi nomor dua, sementara nomor satunya adalah Anies, seseorang yang dianggap mewakili Islam yang lain daripada partai pengusungnya, yakni PKS.

 

Lalu mengapa lega, mengapa bersyukur? Tentu ada beberapa hal yang asyik dirayakan: 

Satu. Ketiga calon gubernur DKI ini bukan orang partai. Bukan kader partai. Ini sangat penting untuk dicatat, dan banyak sekali maknanya. Partai-partai yang bertarung seperti sedang mendeklarasikan kegagalan pengkaderannya. Bahkan PKS yang mendefinisikan dirinya sebagai Partai Kaderpun tak kuasa menahan godaan untuk mengusung bukan-orang-partai. Kalau agak positif melihatnya, Pilkada kali ini semakin membuat partai-partai politik berpikir dewasa dan realistis, bahwa pemimpin bisa lahir dari mana saja.

Dua. Cairnya ideologi yang diusung partai-partai politik. Sebenarnya ini bukan barang baru. Tapi kita harus menandai ini. Kita harus menandai dengan ucapan selamat tinggal kepada apa yang disebut sebagai ideologi partai. Mungkin memang saatnya para calon bicara soal program, bukan orientasi keagamaan. Cairnya ideologi ini juga ditunjukkan oleh pilihan PKS untuk mendukung Anies Baswedan, yang jelas tidak sekufu dengan Islam ala PKS.

Tiga. Ketiga calon yang maju, secara citra umum adalah orang baik atau orang bener. Setidaknya citra sementara. Minimal tidak memiliki cacat moral dan citra buruk. Tentu ada sedikit catatan. Ahok misalnya, memiliki catatan lain: suka marah-marahnya dilihat sebagian kalangan sebagai citra negatif. Sementara Anies, dianggap sebagai orang yang haus kekuasaan, karena setelah nyalon presiden, jadi menteri, lalu nyalon gubernur. Dan Agus, citranya adalah bawaan orok, alias politik dinasti. Artinya, jika bukan anak SBY, tak mungkin ia tiba-tiba menjadi calon. Untungnya bukan Ibas, yang sudah terlanjur punya beberapa catatan citra negatif di sepanjang karir politiknya.

Empat. Para kandidat kali ini terbilang orang-orang yang asyik. Wefie atawa foto bareng yang dilakukan keenam kandidat pada saat mereka bertemu untuk pemeriksaan kesehatan adalah foto yang fenomenal. Nampak bersahabat, akrab, dan tidak kaku. Ini foto yang sangat keren secara simbolis maupun substantif. 

Lima. Ketiga kandidat gubernur kali ini kebetulan ganteng-ganteng. Jadi akan asyik jadi bahan rumpian mamah-mamah muda. Ini akan meningkatkan awareness politik di semua elemen masyarakat. Pilkada DKI akan menjadi bahan obrolan di warung cabe dan bawang merah, di pasar ikan, di kalangan sosialita, dan tentu saja di kalangan orang-orang berdasi.

Jadi bersyukurlah, karena setelah berbulan-bulan semua orang merasa Gubernur DKI mendatang sudah ketahuan sebelum pelaksanaan Pilkada, saat ini kita tak bisa sembarangan menebaknya. Semua potensial kalah. Semua potensial menang.

 []

Dilihat 224