26 Agustus 2016: Untuk Wiji Thukul

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Project
dipublikasikan 26 Agustus 2016
Catetan Harian

Catetan Harian


Semoga menstimulasi konsistensi menulis....

Kategori Non-Fiksi

1.4 K Hak Cipta Terlindungi
26 Agustus 2016: Untuk Wiji Thukul

Kay, anakku…

Ketahuilah, negeri ini masih menyimpan sekian banyak misteri yang terkubur oleh sejarah. Terkubur oleh menimbunnya masalah demi masalah yang datang setiap detik, setiap menit. Sebagian masalah itu tentu saja ada solusinya. Ada orang-orang yang memang ditakdirkan untuk menangani masalah-masalah. Tapi sebagian yang lain, akan senasib dengan rongsokan masalah yang terkubur dan terpendam begitu saja, menyisakan getir.

Mungkin ada belasan, atau mungkin ratusan, atau ribuan, nyawa manusia Indonesia yang hanya bisa dikenang oleh beberapa keluarga terdekatnya. Mungkin mereka juga sudah turut mengubur ketidakjelasannya dan tak sempat, atau tak mampu bertanya lagi: di mana ayahku? Di mana ibuku? Di mana Pakdheku?

Hari ini adalah hari ulang tahun salah seorang yang hebat dalam sejarah peradaban kita. Ia salah seorang menginspirasi bergulirnya perubahan sejarah bangsa ini. Seorang buruh-penyair yang pada zamannya terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap rezim militeristik yang memperlakukan kekuasaan sebagai sesuatu yang dipuja, dengan cara apapun, termasuk menghilangkan sesama atau nyawa sesama.

Ya, hari ini adalah ulang tahun Wiji Thukul. Ia lahir 26 Agustus 1963. Hanya Tuhan yang tahu berada di mana dia sekarang. Mungkin ada sekelompok orang yang tahu, tapi menyembunyikannya, membenamkannya, menguburnya sebagai misteri sejarah.

Entah sampai kapan misteri Kang Wiji ini akan terungkap. Entah sampai kapan orang-orang yang ditinggalkan itu harus bertanya lagi: di mana mereka semua? Setega itukah sejarah mengubur anak kandungnya? 

Anakku…

Aku ingin merekam salah satu kegetiran yang tersampaikan ke publik melalui putri Kang Wiji ini. Tentu bukan semata kepiluan dan kegetiran yang ingin aku sampaikan. Rekaman ini adalah upaya untuk menolak lupa. Rekaman ini adalah salah satu upaya untuk merawat rasa peduli, bahwa negara ini, dan terutama para pecundang yang bersembunyi di balik lembar sejarah, masih berutang kepada banyak orang.

Negara ini, dan terutama para pecundang yang bersembunyi di balik lembar sejarah, adalah pihak yang harus bertanggung jawab terhadap pertanyaan anak-anak bangsa: di mana sejarah itu kausembunyikan?

Inilah tulisan Fitri Nganthi Wani di akun Facebooknya hari ini. Ia adalah putri Kang Wiji yang juga sangat gigih memperjuangkan kejelasan nasib bapaknya: 

 

Ada yang mungkin belum pernah kuceritakan tentang mengapa aku begitu emosional bila disenggol soal peristiwa bapakku. Ini cuma tentang pertemuan terakhir kami. Iya, pertemuan terakhir yang terjadi setelah berbulan-bulan lamanya kami tak bertemu karena bapak harus berpindah-pindah dari pelariannya yang belum bisa kumengerti dengan jelas karena keterbatasan usiaku yg masih anak-anak.

Waktu itu, bulan Desember di Jogja. Bertepatan dengan tanggal ulang tahun adikku, lalu hari raya Natal. Bapak tidak seperti biasanya, ia begitu memanjakanku, menuruti apa saja jajanan yang ingin kubeli sewaktu di Malioboro (sampai-sampai aku mengatakan padanya: "mengko duitmu entek lho, Pak." Tapi bapak malah tertawa dan menciumku), menuruti ke mana saja aku ingin pergi (waktu itu pengen ke Kaliurang & Parangtritis), tidak marah sama sekali ketika aku ngompol di motel (padahal umurku sudah 8th waktu itu), dan memberikanku selimut unik & buku cerita yang banyak.

Begitu berkesan bagi anak seusiaku pengalaman kali itu. Begitu indah. Aku merasakan bapakku adalah bapak terbaik di dunia. Hingga sampailah pada perpisahan kami di Stasiun Tugu. Aku baru menyadari bahwa bapak tidak ikut pulang ke Solo. Bapak hanya mengantar sampai pintu masuk, lalu ketika kereta berjalan aku berteriak menangis sekencang-kencangnya. Aku bertanya pada ibu kenapa bapak tidak ikut? Ibu tidak bisa menjawab. Aku menangis sejadi-jadinya tapi ibu menahanku. Aku tidak boleh ngeyel mengejar bapak karena kereta sudah jalan. Aku marah, sedih, dan merasa sangat lemah waktu itu. Tak kusangka itulah pertemuan terakhir kami. Benar-benar tak kusangka SAMPAI SEKARANG bahwa itulah pertemuan terakhir kami! 

Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa. Namun ada yang beda ketika aku tiba-tiba teringat bapak lagi, ibu yang kadang sudah kelelahan menenangkanku sampai harus memanggil Mbah dan Budheku untuk membantu membuatku baik kembali. Dan ternyata itu bukan hal yang sepele.. Lambat laun aku berubah menjadi aneh. Aku jadi malas sekolah, aku jadi takut bergaul, aku jadi lamban berpikir, aku jadi sangat pemalu, aku jadi gampang sedih tanpa sebab yang jelas, aku jadi sangat cerewet dan berapi-api ketika sudah bertemu teman yang cocok (walau tak lama kemudian mereka meninggalkanku), aku tidak bisa terlalu lama jauh dari rumah, dan aku tidak bisa menangis di depan ibu karena ibu pernah mengatakan aku tidak boleh menangis. Aku merasakan perubahan yang sangat nyata. Aku sering merasa seolah waktu berhenti ketika mengingat soal bapak lagi, aku merasa sepertinya umurku masih 8 tahun terus!

Aku adalah anak kecil yang gila tapi tak terlihat gila. Setiap apa yang membuatku tertarik adalah yang selalu berhubungan dengan bapak. Pertumbuhanku terganggu oleh pikiran-pikiran tentang bapak. Aku mengagungkan bapak sekaligus membencinya. Aku merindukan bapak sekaligus ingin melupakannya. Aku menjadi anak kecil yang tumbuh dengan gangguan-gangguan psikologis yang tak nampak. Rasanya tidak enak. SANGAT TIDAK ENAK. Aku seperti dikendalikan oleh pertemuan terakhir itu. Dibuat bahagia sekaligus dijatuhkan sampai remuk. Aku dipaksa keadaan agar tak bisa melawan. Namun hatiku menolak patuh. :'(

...

...

...

Kuhabiskan sekalian perasaanku biar semakin cepat membaik. Semoga ini status galau terakhir di hari ini. 

Maaf ya teman-teman. Boleh unfollow. :')_