Olenka 6

Olenka 6

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Project
dipublikasikan 11 Agustus 2016
Olenka, Generasi yang Hilang

Olenka, Generasi yang Hilang


Sepenggal kisah pergulatan antara tradisi, modernitas, dan agama.

Kategori Puisi

1.9 K Hak Cipta Terlindungi
Olenka 6

Olenka,

tiada tahu aku harus apa

bagaimana

 

kami tahu Ammatoa tak meninggalkan kita, allinrung[13]

pun jika mati

kami tahu, kematian hanya jembatan manis[14]

bukan kematian itu yang kami takutkan

bukan rasa sakit pula

 

tapi kami terikat tuah, meski bersyarat

Amma Toa Bohe Sallang[15]

terima para muslim sebagai tamu

mereka saudara kita, Olenka

 

juga kaum berkayu salib[16]

bertamu pula sebagai sesaudara

 

andai kau tahu, Olenka

syarat itu kini tergerus

kita tak punya kuasa

 

andai kau tahu, Olenka

kita ini Patuntung[17]

tapi Islam

kita ini Islam

tapi juga Patuntung

 

andai kau tahu, Olenka

mereka yang punya kuasa

menera jati diri kita

selayak manusia Kajang[18]

selayak muslim setengah

apatah Islam sesat[19]

 

mereka yang punya pena

menulis identitas kita

kita ini sahaya

 

========

13 Allinrung adalah istilah yang dilekatkan pada Ammatoa pertama, yang artinya beliau tidak mati tapi hanya tidak tampak dalam pandangan mata biasa. 

14 Selain Pasanga, tradisi lisan Tanah Toa juga memiliki kelong nyanyian) yang salah satunya adalah Ikelong bassing yang biasanya digunakan untuk ritual kematian, seperti

                  Tala jammengi matea, mallikanaji rianja

                  ee… malingkanaji rianja

                  Karianja bede bori ri suruga

                 
Pammempoan ri suruga ee… pamempoang ri suruga

                  (kematian bukanlah sesuatu yang pahit

                  Sebab kita hanya berangkat ke alam

                  Berikutnya. Alam di mana terdapat surga.

                  Tempat tinggal di surga…

                  Tempat tinggal kita di surga) 

15 Syamsurijal Adhan mengutip AA Cence (The Patuntung in Mountain of Kajang, 1931) yang menceritakan tentang masuknya Islam pertama kali. Waktu itu Amma Toa Bohe Sallang menerima Islam dengan beberapa syarat, antara lain hanya boleh mengembangkan dua hal; kalatting (bacaan untuk orang meninggal) dan sura nikah (surat nikah, mengurus pernikahan), itupun dilakukan di luar ilalang embaya. 

16 Tentang para pekabar injil yang juga disebut zending ini, ada penelitian khusus yang dilakukan oleh Chris de Jong berjudul Ilalang Arenna. 

17 Meski disebut juga tradisi Pasanga, merujuk pada kepercayaan terhadap Pasanga ri Kajang, tradisi Kajang atau bahkan tradisi di beberapa daerah lain seperti Gowa, Takalar, Banteng, Bulukumba secara umum disebut sebagai kepercayaan atau keyakinan Patuntung.

18 Dalam salah satu catatan kakinya, Syamsurijal Adhan mengungkap cerita menarik: “Ada satu buku yang ditulis oleh Yusuf Akib pada tahun 1980-an berjudul Potret Manusia Kajang. Melihat judul tersebut, warga Komunitas Kajang merasa bahwa judul tersebut mengesankan bahwa mereka seakan-akan dekat dengan manusia purba dan manusia primitif. Seakan-akan seperti masyarakat yang masih terbelakang yang perlu dibangun dan dididik.”

19 Titik kompromi dan proses dialog kultural antara ajaran Islam dan keyakinan Patuntung membuat sebagian kelompok Islam menganggap komunitas Kajang sebagai komunitas muslim yang cenderung melenceng dan sesat. Ada juga peneliti yang mendefinisikan masyarakat Kajang sebagai masyarakat yang “mengaku beragama Islam tapi tidak berpegang teguh terhadap Alqur’an dan hadis.”

 

  • view 270