Olenka 2

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Puisi
dipublikasikan 29 Januari 2016
Olenka, Generasi yang Hilang

Olenka, Generasi yang Hilang


Sepenggal kisah pergulatan antara tradisi, modernitas, dan agama.

Kategori Puisi

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
Olenka 2

Olenka,

maafkan kami

pelan meluntur penghargaan kami

terhadap Ammatoa[5]

tak lagi teguh memegang pesan To Rie Akra’na[6]

kami tak kuasa menolak sesuatu bernama negara

kami tak sadar akan sampai sejauh ini

 

Olenka,

jika kau tahu

semua ini karena kami, para orang tua ini

lemah tak berdaya

menghadapi sesosok jejadian bernama kekuasaan

 

kami hanya tahu bercocok tanam

sejak leluhur, setengah leluhur,

hingga kakek-kakek kami

kami hanya tahu

ada satu kuasa di atas kuasa manusia

tak tertandingi

penjaga alam raya ini

penjaga hutan penghidupan kami

To Rie Akra’na yang menitip Pasanga ri Kajang

tuntunan hidup kita

 

kami hanya tahu mencinta hutan

merawat kehidupan

menjaga borong karama[7]

dan batu tagentung[8] di dalamnya

 

kami hanya tahu berbagi kasih

semua adalah sesama

sesama adalah saudara

saudara adalah sejiwa

 

abbulo si papa allemo sibatu tallang si pahua manyu siparampe dan lingu sipakainga” [9]

 

5 Ammatoa adalah penyebutan terhadap orang pertama suku Kajang yang menerima pesan-pesan suci (wahyu dalam bahsa Islam) dari To rie Akra’na. Pesan-pesan suci itu yang kemudian disebut Pasanga ri Kajang yang wajib ditaati, dipatuhi, dan dilaksanakan oleh masyarakat Ammatoa. Jika Pasanga tidak dilaksanakan, diyakini akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Pada generasi berikutnya, pemimpin adat Tanah Toa selalu disebut sebagai Amma Toa.

6 Percaya kepada To Rie Akra’na adalah keyakinan yang paling mendasar pada komunitas Tanah Toa Kajang. To Rie Akra’na adalah penamaan terhadap zat Yang Maha Kuasa. Istilah ini sudah ada sebelum datangnya Islam, namun pertemuan dengan Islam membuat istilah ini disamakan dengan istilah Allah atau Rabb dalam Islam. Hanya saja, menurut mereka, Tuhan tidak disebut langsung dengan nama Allah karena mereka bersikap sangat hati-hati, tidak mau menyebut nama Allah secara sembarangan.

7 Istilah ini berarti hutan keramat, yang luasnya hampir separuh luas desa Tanah Toa Kajang. Hutan ini lestari karena mereka memegang teguh aturan adat yang berkaitan dengan penjagaan lingkungan. Bukan karena denda sebanyak tallu lasa’ (sekitar Rp. 1.200.000,-) bagi warga yang menebang pohon atau membunuh hewan di dalam hutan tersebut, namun mereka juga takut terkena kutukan karena melanggar Pasanga ri Kajang. Kutukan ini bisa berupa penyakit atau berhentinya air yang mengalir di lingkungan Tanah Toa Kajang. Pemanfaatan pohon di dalam hutan hanya boleh dilakukan dengan aturan adat yang sangat ketat dan harus mendapat persetujuan pemangku adat. 

8 Istilah ini berarti batu tergantung. Di borong karama diyakini terdapat batu tagentung yang suci, bahkan dipercaya setara dengan hajar aswad yang ada di Ka’bah.

9 Ini adalah salah satu kandungan Pasanga ri Kajang yang artinya bukan hanya menunjukkan adanya kesatuan antara manusia dengan sesama manusia, tetapi juga menunjukkan ikatan yang satu antara manusia dengan makhluk yang lain termasuk lingkungannya.

  • view 216