1 Juli 2016: Sang Politisi

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Juli 2016
Catetan Harian

Catetan Harian


Semoga menstimulasi konsistensi menulis....

Kategori Non-Fiksi

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
1 Juli 2016: Sang Politisi

Kay,

Aku ingin menandai hari ini dengan sepenggal kisah tentang seorang politisi kita, seorang Wakil lembaga tinggi negara. Ia bernama Fadli Zon. Karena seringnya bertindah lucu, orang-orang sering meledeknya dengan panggilan Zonk. Setelah sekian kelucuan (termasuk dukungannya terhadap Donald Trump, calon presiden AS yang rasis dan memusuhi Islam), minggu ini ia meramaikan lagi jagat media dan sosmed dengan kelucuan tingkat tinggi.

Tiba-tiba beredar surat resmi dari Setjen DPR kepada KBRI di Amerika Serikat (KJRI New York) sana, berisi permintaan penjemputan dan pendampingan untuk anak beliau yang akan mengikuti sebuah program Stagedoor Manor Camp seharga lebih dari 70 juta selama sebulan. Program ini adalah semacam program pelatihan untuk para entertainer. Surat resmi kenegaraan, meminta KBRI untuk menjemput dan mendampingi anaknya selama di luar negeri.

Sampai di sini sebenarnya banyak orang masih memaklumi, meskipun sudah lumayan lucu. Orang masih menganggap agak wajar permintaan tolong seperti itu, mengingat negeri tujuan itu sedemikian jauh, dan tentu dia sayang sama anaknya yang sudah dewasa itu. Yang kemudian tak kalah lucu adalah: setelah suratnya beredar di sosmed dan media mainstream, ada surat berikutnya yang ditujukan ke Menteri Luar Negeri Kita, yang maksudnya mengklarifikasi surat sebelumnya. Ia seakan menunjukkan bahwa ia bijak, dan bersedia mengganti ongkos penjemputan yang sudah dikeluarkan oleh pihak KJRI di sana, lebih bahkan. Dia menghitung ongkos sekitar 1,3 juta, dan dia akan mengganti dengan 2 juta. Selebihnya untuk tips sopir.

Surat kedua yang sok bijak inilah yang kemudian melambungkan namanya menjadi politisi terlucu di negeri ini. Sementara orang protes atas pemanfaatan jabatan untuk kepentingan di luar kepentingan jabatan dan negaranya, ia justru memahami protes itu sebagai protes terhadap keluarnya dana yang tak seberapa itu untuk anaknya. Ia menganggap bahwa masalah penjemputan anaknya hanyalah soal ongkos jemput dan ongkos sopir. Dan mungkin menganggap bahwa urusan KJRI di sana hanyalah soal jemput menjemput. Lebih lagi, ia menganggapbahwa salah satu  urusan Menteri Luar Negeri adalah untuk menyampaikan dana penggantian ongkos penjemputan anaknya.

Tentu kasus Fadli Zon ini juga menandai bertambahnya tingkat ketidakpercayaan publik terhadap pejabat negara, terhadap politisi, dan terhadap orang partai.

Tapi aku ingin menandai juga, bahwa hari ini banyak reaksi berlebihan terhadap kasus Fadli Zon ini. Banyak orang kemudian meledek Fadli, hingga mencaci anak gadisnya itu dengan sangat misoginis dan merendahkan. Menurutku, tidak ada yang salah menjadi anak pejabat. Tidak ada yang salah anak seorang pejabat menikmati kekayaan ayahnya. Tidak ada masalah bagaimana cara anak pejabat menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri.  Ayahnya memanfaatkan jabatan untuk kepentingan anaknya, itu yang salah. Jika kemudian banyak media mengusut kehidupan pribadi anak Fadli Zon, lalu mengolok-oloknya sedemikian rupa, itu sangat patut disesalkan. Anak pejabat bukanlah pejabat itu sendiri. Ia masih memiliki masa depan yang panjang. Ia akan memiliki dunianya sendiri, yang bisa jadi sangat berbeda dengan dunia dan kehidupan ayahnya.

Tambahan kecil: hari ini aku nonton Rudy Habibie, kisah pergulatan dan cinta BJ Habibie ketika kuliah di Jerman yang disutradari Hanung Bramantyo. Film ini keren. Menurutku lebih keren daripada Habibie Ainun. Demikian.

  • view 206