30 Juni 2016: Ulang Tahun

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Juni 2016
Catetan Harian

Catetan Harian


Semoga menstimulasi konsistensi menulis....

Kategori Non-Fiksi

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
30 Juni 2016: Ulang Tahun

Kay,

Ijinkan aku menandai ulang tahunku ini dengan memulai catatan-catatan sederhana seperti ini. Semoga bukan karena ingin dianggap sok seleb, apalagi sok cool. Aku hanya ingin mengukuhkan satu tradisi baru untukku: menulis dan menulis, hingga tak ada lagi yang bisa ditulis. Karena setiap karya akan menemukan tempatnya sendiri, semoga tulisan sekecil apapun yang aku luncurkan ada gunanya, minimal untuk melatihku berucap kata, merangkai harapan, menguji sudut pandang. Mungkin juga karena aku sedang bekerja dan menikmati dunia tulis menulis ini.

Ijinkan aku menandai ulang tahunku dengan sekelumit fakta, bahwa di belahan bumi sana, masih saja ada orang yang sanggup merelakan dirinya membunuh manusia dan kemanusiaan. Ya, kemarin malam, di bandara Internasional Ataturk di Turki, seseorang membunuh dirinya sendiri dan lebih dari 30 orang di sekitarnya, entah untuk alasan apa. Namun, alasan apapun yang melatarinya, ini akan menjadi pembelajaran buat kita semua, bahwa di tengah upaya kita merawat keindahan kehidupan, masih saja ada orang yang merawat kematian.

Ijinkan aku menandai ulang tahunku dengan sedikit curcol, bahwa hingga umurku yang kesekian, aku belum menjadi apa-apa, dan siapa-siapa. Tentu jauh berbeda dengan seseorang bernama Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang berulang tahun di hari kemarin, sehari sebelum ulang tahunku. Orang satu ini menandai capaian yang luar biasa untuk Indonesia sebagai negara demokrasi. Ia adalah penanda penting betapa masih ada orang benar dan orang baik di negeri lebih dari 240 juta penduduk ini, tanpa mengabaikan bahwa setiap manusia memiliki kekurangannya sendiri.

Ijinkan aku menandai ulang tahunku hari ini dengan hingar bingar menjelang mudik lebaran. Ya, hari ini adalah hari ke-25 Ramadan. Jutaan manusia Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk pulang kampung alias mudik. Separo lebih manusia kota akan kembali ke kampung-kampung, berkontribusi untuk pemerataan hasil-hasil pembangunan. Triliunan rupiah dalam minggu-minggu depan akan tersebar secara natural ke kampung-kampung, berupa oleh-oleh, angpau, jajan pasar, biaya transportasi, dan seterusnya. Dan mudik bagiku bukan hanya mengenang masa-masa kecil dan remaja, berjumpa kawan-kawan lama. Mudik bagiku adalah semacam pengingat bahwa aku dilahirkan di rahim kampung nan indah dan damai, di tengah lingkungan yang meletakkan penghargaan terhadap manusia lain sedemikian tinggi, di tengah keluarga yang penuh energi positif. Mudik adalah saat di mana keangkuhan kota ditundukkan oleh ketulusan kampung. Dan mudik terutama bagiku adalah sungkeman kepada seseorang yang melahirkanku: Ibu.

Dan semoga malam tadi adalah malam lailatulqadar, malam seribu bulan.

Ijinkan aku menandai ulang tahunku kali ini dengan segenggam doa. Dan doa adalah semacam obat untuk merawat harapan. Semacam energi positif yang menguatkan mental para pemenang maupun pecundang, bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan lebih baik dari apa yang kita capai dan kita alami hari ini. Semacam upaya merawat kehidupan, karena serumit apapun arah dan isi hidup kita, ia perlu kita rayakan. Semacam secangkir kopi yang sudah kita cium aromanya, namun belum terhidang di depan kita.

Dan aku berdoa, semoga semua makhluk berbahagia.


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Kali ini saya suka tulisannya Pak Anict,
    Semoga di usiamu sekarang engkau bertambah bijak dan menemukan kedamaian.

    Salam dari timur Pak Anict.
    Dinan____

  • Fahd Pahdepie
    Fahd Pahdepie
    1 tahun yang lalu.
    Patut dirayakan dengan makan-makan...