Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 16 Juni 2016   11:55 WIB
Tukang Warteg Sedunia, #KamiTidakTakut

Bukan baru kemarin agama kami lahir. Agama kami ini sudah berumur lebih dari 1400 tahun. Bentangan sejarah itu kami lalui dengan berbagai tantangan dan rintangan, serta prestasi dan kegemilangan. Ada masa-masa emas, ada pula masa kegelapan.

Karena itu pula, ketahuilah, puasa Ramadan ini juga sudah melekat pada ajaran agama kami lebih dari 1400 tahun. Jangankan warteg, warung remang-remang dan warung plus tari perutpun sudah menjadi bagian dari godaan puasa kami selama ini.

Puasa kami ini adalah ibadah yang bermakna ganda: sosial, sekaligus individual.

Secara sosial, puasa ini melatih kepekaan kami terhadap penderitaan, kemiskinan, dan kelaparan sesama di luar sana. Semakin kuat godaan puasa kami, makin pekalah kami terhadap si papa dan si miskin. Semakin ingin [baca; ngeces] terhadap iklan sirop dan es buah di TV di siang hari, semakin pahamlah kami arti sebuah adagium falsisme: keinginan adalah penderitaan.

Secara individual, puasa ini juga menggembleng kami untuk menahan diri dari segala godaan, entah godaan dari luar ataupun dari dalam diri kami sendiri. Semakin banyak godaan datang, semakin terujilah puasa kami. Semakin banyak warung buka di depan kami, semakin terbiasalah kami dan semakin menaiklah level keimanan kami.

Maka, dengan ini kami hendak menyatakan kepada tukang Warteg sedunia. Bukalah warungmu lebar-lebar. Nggak pake korden-kordenan. #KamiTidakTakut

Adapun di luar sana ada yang main razia dan sweeping, itu hanya sebagian kecil kaum yang lemah imannya. Bagi mereka, jangankan korden warteg yang tampak seperti kekasih pujaan memanggil-manggil, kuncir rambut juga tampak seperti putu ayu. Kadangkala, orang-orang seperti mereka ini nekat Azan maghrib sendiri sebelum waktunya karena tak tahan lapar.

Adapun kenyataan bahwa razia itu diatur oleh Pemerintah Daerah, anggap saja memang ada sekelompok orang yang lemah iman sedang dalam posisi menentukan hidup orang sekampung. Maafkanlah mereka.

Lagipula, jikapun ada, aturan itu nampak lucu sekali karena beberapa hal:

Pertama, warung tidak boleh buka siang hari. Boleh bukanya setelah jam 3 atau jam 4 ke atas. Padahal nih ya, jam-jam seperti itu justru adalah jam rawan bagi yang lemah iman. Yang ada, mereka berhasil menahan diri dari Subuh sampai Asar, begitu menjelang Maghrib, semua pintu warung terbuka dan mereka seperti punya alasan untuk membatalkan puasa. Tentu sah saja mereka batal, karena logika para pengambil kebijakan adalah: jika warung buka, maka akan menggoda mereka yang berpuasa. Jika mereka tergoda dan batal puasanya, maka yang salah adalah pemilik warung yang buka.

Kedua, ketahuilah, jika menurut mereka yang membatalkan puasa hanyalah makanan yang tersaji di piring yang dimasak oleh tukang warteg, maka mereka perlu sekolah Madrasah atau didaftarkan untuk ikut pesantren kilat. Mereka kira buah-buahan di minimarket, di pasar, di toko buah modern dengan gambar yang super menggiurkan itu tidak bisa dipakai untuk membatalkan puasa? Mereka kira es krim walls, paddle pop, dan sejenisnya di minimarket-minimarket itu tidak lebih mengundang daripada bunyi pertemuan antara sendok dan piring di warung berkorden? Mereka pikir pisang-pisang yang ditata berjajar sedemikian rupa di pasar itu tak bisa membuat orang berimajinasi tentang segarnya es pisang ijo?

Nah, lalu apa? Mereka mau tutup semua warung, lalu azan maghrib baru dibuka secara bersama? Mereka mau tutup semua aktivitas di indomaret, alfamart, pasar-pasar tradisional, dan semua aktivitas ekonomi yang berhubungan dengan perut dan masakan?

 

Jadi, sekali lagi, kepada tukang Warteg sedunia, #KamiTidakTakut.

Karya : Anick Ht