Terima Kasih Omar Mateen

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Agama
dipublikasikan 14 Juni 2016
Terima Kasih Omar Mateen

Omar Mateen yang semoga berbahagia,

Terima kasih telah menjadi penanda penting kontestasi kebencian ini dengan tindakanmu yang dikategorikan sebagai penembakan yang paling mematikan dalam sejarah modern Amerika Serikat. Terima kasih telah membuat kami tersadar, bahwa pekerjaan kami masih panjang.

Terima kasih telah mengingatkan kami betapa tipisnya batas antara kehidupan dan kematian. Bahwa nyawa bukan sekadar menjaga kadar kolesterol ataupun kadar gula. Nyawa juga adalah terkait soal siapa kita, apa orientasi seksual kita, dan soal kapan kita berada di mana.

Terima kasih telah menunjukkan kepada kami betapa kebencian bisa sangat menumpulkan pikiran manusia. Mungkin karena ada sedikit kait mengait antara kau dengan ISIS, para pendukung ISIS akan segera bersorak dan mengklaim tindakanmu sebagai bagian dari prestasi mereka. Dengan segera kau akan dianggap sebagai pahlawan “Islam” yang mewakili tugas kenabian mereka.

Dan karena itu pula, ketahuilah Omar, simpati juga datang dari orang-orang di Indonesia sini, sebuah negeri yang lahir dan besar karena perbedaan dan keragaman. Sebuah negeri yang mengagung-agungkan perdamaian, kesantunan, dan laku welas asih.

 

Entahlah Omar, 

Apakah saya yang tumpul memahami logika pembenaran atas tindakanmu itu, ataukah memang ajaran agama kami yang memang membentuk kawan-kawan seagama saya itu menggumpalkan kebencian sedemikian rupa sehingga membunuh 50 orang membabibuta dianggap tidakan mulia?

Sebegitu bodohkah saya yang tak menemukan alasan yang cukup dalam agama yang saya pahami, meski hanya untuk membenarkan perilakumu itu? Apalagi memuliakanmu.

Terima kasih Omar. Tindakanmu telah sekali lagi mengingatkan kepada kami, bahwa bumi yang semakin tua ini tak kunjung membuat penghuninya dewasa untuk memanusiakan manusia.

Terima kasih telah mengingatkan saya kepada sang guru bangsa, Gus Dur, yang telah mewanti-wanti bahwa “Agama harus disandingkan dengan kemanusiaan. Jika tidak, ia akan menjadi senjata fundamentalistik yang memberangus kemanusiaan.”

Semoga Allah mengampunimu Omar. []