Indonesia Bangkit: untuk Seorang Kawan

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Mei 2016
Indonesia Bangkit: untuk Seorang Kawan

Ah, kawan. Tentu kau sudah tahu, negeri ini dibangun dari gabungan antara puing-puing, reruntuhan, keringat para jelata, dan darah-darah yang berserakan. Negeri ini dibangun dari skenario keserakahan satu menuju keserakahan berikutnya. Negeri ini disusun dari keringat para bedebah dan politisi culas yang berebut kue kekuasaan. 

Mari kita bicara tentang ratusan ribu pekerja paksa dan romusha yang seluruh hidup dan keringatnya didedikasikan untuk membangun pondasi negeri ini, tanpa penghargaan apapun. 

Mari kita bicara tentang darah tercecer dari orang-orang biasa yang hanya tahu bahwa Belanda harus dilawan dengan bambu runcing atau apalah, dan sedepa sebelum bambu runcing dilontar, timah panas sudah menembus dada mereka. 

Mari kita bicara tentang ribuan warga Sulawesi Selatan yang dibantai oleh sesuatu bernama Westerling, hanya beberapa tahun setelah negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya. 

Mari kita bicara tentang para perempuan yang hidup di atas luka, geisha, dan perempuan persembahan sejenisnya. Sejarah telah mengantarkan tubuh dan nyawa mereka menjadi bagian dari keberlangsungan penjajahan atas negeri ini. 

Mari kita bicara tentang para manusia yang dibantai oleh tetangga sendiri atawa teman sendiri hanya karena dianggap tak bertuhan alias komunis. 

Mari kita bicara tentang manusia-manusia yang dikorbankan karena penataan kota, penataan kali, atau sekadar memberi ruang lahirnya etalase-etalase kaca penjual gengsi. 

Mari kita bicara tentang para penganut agama dan kepercayaan yang dikorbankan hanya karena mereka meyakini sesuatu yang tidak diyakini oleh lebih banyak orang di sekitarnya. 

Ah, kawan, seandainya mereka semua tak menjadi korban, maka sejarah kita akan menemukan jalan yang lain. Anak cucu mereka yang menjadi korban tentu akan berbeda hidupnya, bahkan anak cucu mereka yang tak sempat dilahirkan, mungkin akan menjadi salah satu tetangga kita, Lurah kita, atau bahkan Presiden kita. 

Kawan. Terserah kau saja. Mau kaubawa bangkit dari reruntuhan mana Indonesiamu ini, kalau sekadar meminta maaf atas kesalahan masa lalumu saja kau merasa berat. []

 

Thumbnail diolah dari sini