Kartini, Stella, dan Saya

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Tokoh
dipublikasikan 21 April 2016
Kartini, Stella, dan Saya

 

Kartini Kepada Stella: 

 

Akan agama Islam, Stella, tiada boleh kuceritakan. Agama Islam melarang umatnya mempercakapkannya dengan umat agama lain.

Lagi pula, sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya? Quran terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun jua. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab.

Orang diajar di sini membaca Quran, tetapi yang dibacanya tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah semacam itu. Orang diajar di sini membaca, tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya itu. Sama saja engkau mengajar aku membaca kitab bahasa inggris, aku harus hafal semuanya, sedangkan tiada sepatah kata juapun yang kau terangkan artinya kepadaku.

Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati, bukan Stella?

Dan “hati baik” itulah yang terutama.

Agama itu maksudnya akan menurunkan rahmat kepada manusia, supaya ada penghubung silaturrahim segala makhluk Allah. Sekaliannya kita ini bersaudara, bukan karena kita seibu-sebapak, ialah ibu bapak kelahiran manusia, melainkan oleh karena kita semuanya makhluk kepada seorang Bapak, kepada-Nya, yang bertakhta di atas langit.

Ya Tuhanku, ada kalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, karena agama itu, yang sebenarnya harus mempersatukan semua hamba Allah, sejak dari dahulu-dahulu menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, jadi sebab perkelahian berbunuh-bunuhan yang sangat ngeri dan bengisnya.

Orang yang seibu-sebapak berlawanan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan yang esa itu. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai-cerai. Karena berlainan tempat menyeru Tuhan, Tuhan yang itu juga, terdirilah tembok membatas hati yang berkasih-kasihan.

Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!

 

=====

 

Anick HT kepada Kartini:

 

Mbah Tini 

Perkenankan aku, buyutmu ini, menjadi saksi sejarah dari catatan terserakmu sekira 116 tahun yang lalu itu.

Aku bersaksi bahwa apa yang kau-resahkan lebih dari seabad lalu itu tak jua bergeser, atau bahkan jika kautahu, ia bergeser ke arah yang lebih mengkhawatirkan. Lebih dari seabad Mbah. Ya, tentu saja ini lucu bin menyebalkan.

 

Mbah Tini,

Bangsa ini bersyukur, 41 tahun sepeninggalmu, berdirilah negeri bernama Indonesia ini. Para pendiri negara ini berkomitmen bersama membangun sebuah negara yang memosisikan semua warganya secara setara.

Pesan kuatmu bahwa beragama apapun kita sesaudara rasanya terwakili oleh mereka yang mendeklarasikan Indonesia sebagai negara majemuk.

Namun hari ini, di sini, Mbah Tini, aku tertular resahmu, galaumu...

Andai kautahu, agama yang sejatinya menyejukkan pemeluk maupun orang lain yang bersentuhan dengannya, tiba-tiba bisa menjadi monster menakutkan yang bisa menggilas siapapun yang dianggap berbeda atau menyimpang.

Andai kautahu, sebagian umat beragama di sini selama belasan tahun hidup terasing di negeri sendiri. Sebagian lainnya bahkan mati terbunuh, lalu dilupakan begitu saja. Hanya karena mereka berbeda. Ya, hanya karena perbedaan keyakinan; sesuatu yang fitri.

Andai kautahu, ketika pendulum peradaban dunia sedang mengarah kepada penghargaan yang setinggi-tingginya kepada manusia dan kemanusiaan, keseharian kita di sini diwarnai dengan upaya sekelompok orang untuk mengembalikan peradaban ke jurang terbawah dengan membuat parit pembatas yang kian menyempit dan antiperbedaan.

Ketika warga dunia lain sedang berbondong-bondong untuk memecahkan misteri demi misteri alam raya ini, dan mencari planet lain untuk ditinggali, di sini, di bagian planet yang makin menua ini kita masih disibukkan dengan urusan definisi agama dan kriteria sesat.

 

Mbah Tini,

Sepertimu, aku juga galau ketika angka populasi pemeluk suatu agama ternyata mampu melahirkan satu ironi dan diskriminasi panjang bertajuk mayoritarianisme, lalu memproduksi korban demi korban bagi pemilik angka minor.

Galau karena 116 tahun sepeninggalmu, kepongahan dan kedunguan masih mengungkung alam pikir sebagian manusia Indonesia, sehingga pernyataan retorik nyinyirmu masih dan semakin relevan: "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!"

Mbah Tini, aku galau ketika "hati baik" yang kau bilang itu menjadi barang yang semakin langka di negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Aku galau ketika angin kebebasan yang kauperjuangkan selama ini sudah kita raih, namun kita malah abai memanfaatkannya. Justru para demagog itulah yang banyak mengambil keuntungannya.

 

April 2014

=====

 

Catatan: surat ini pernah saya bacakan di sebuah acara peluncuran buku di TIM, 2014 yang lalu