Demo Taxi: Inikah Wajah Kita?

Anick Ht
Karya Anick Ht Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Maret 2016
Demo Taxi: Inikah Wajah Kita?

Anarkisme para sopir taxi dan pihak-pihak yang merasa terancam, tersingkir, dan dirugikan oleh keberadaan moda transportasi online hari ini bisa dibilang sudah sangat mengerikan. Kita seperti menonton drama di sebuah negeri di mana orang biasa harus membenci dan memusuhi orang biasa, sementara orang-orang yang tak biasa berdebat dan berdiskusi di ruang-ruang ber-AC yang sejuk.?

Ironis? Ya, ini memang negeri penuh ironi. Mungkin kerusuhan hari ini adalah representasi wajah kita. Mental kita yang pernuh kekerasan. Ketidakpuasan terhadap sesuatu, dengan sangat mudah kita ekspresikan dengan vandalisme. Apalagi jika kita merasa aman ketika melakukan itu, entah karena ramai-ramai, entah karena memang tidak hadirnya alat kekuasaan yang bisa mencegahnya.

Mungkin kemarahan para sopir taxi itu dipicu oleh semangat ?mencari teman sebagai korban?, atau memperluas jejaring pihak yang dirugikan. Atau lebih parahnya, mereka menganut asas: ?barji barbeh? alias bubar siji bubar kabe. Seakan mereka mau bilang: Kalo gw jadi korban, loe harus jadi korban juga dong..?

Lalu kepada siapa kita harus berempati? Atau siapa itu korban?

Pengusaha Taxi konvensional: jelas mereka terancam bangkrut. Banyak sopirnya pindah menjadi sopir taxi online. Sudah banyak armada yang menganggur. Bahkan saya sempat menemukan mobil taxi dipakai untuk berjualan kopi di pinggir jalan di Kalimalang. Bertahuan-tahun mereka menikmati kehidupan sebagai juragan taxi yang tentu penghasilannya miliaran, namun tiba-tiba mesin uang itu terancam hilang dari depan mereka, tinggal menghitung waktu. Beberapa pengelola taxi sebenarnya sudah bergabung dengan taxi online.

Sopir Taxi konvensional: jelas penghidupan mereka terancam, jika masih bertahan untuk menjadi sopir taxi konvensional. Sebagian sopir beralih profesi, sebagian lain bergabung dengan transportasi online. Namun tentu saja tidak semuanya bisa memilih pindah. Yang bertahan harus terancam dengan sepinya pelanggaan dan penghasilan yang menurun drastis. Nah, dalam demo ini, mereka yang tidak bersolidaritas terhadap aksi, yang kebetulan lewat, menjadi sasaran amuk dan perusakan.

Pengemudi transportasi online: jelas mereka menjadi sasaran tembak. Baik pengemudi transportasi mobil, maupun motor seperti Gojek dan Grab bike. Setelah banyak ditolak dan dipukuli ojek pangkalan, sekarang dalam demo ini mereka menjadi korban langsung. Padahal, banyak dari mereka yang menemukan harapan penghidupan baru setelah adanya transportasi online ini. Banyak juga yang mengorbankan profesi lamanya untuk beralih menjadi aktivis Gojek maupun Grab Bike. Tiba-tiba mereka dihadapkan pada tuntutan sekelompok masyarakat untuk menutup aplikasi yang menjadi basi pekerjaan mereka.

Pengelola transportasi online: jelas mereka adalah inovator teknologi. Kemajuan teknologi ini tak bisa dibendung. Buat konsumen, kehadiran mereka tentu mengurangi beban hidup mengingat harga yang dipatok mereka jauh di bawah moda transportasi konvensional. Tentu mereka bak pahlawan. Dan mereka adalah pelaku sejarah yang berkontribusi mengubah peradaban. Ketika segala inovasi dilakukan, lalu berujung pada dilarang model aplikasi ini, habislah kemajuan teknologi. Dan terancam pula inovasi dan ekonomi kreatif kita.

Di mana kita harus berdiri? Tentu semua bisa dianggap menjadi korban. Semua bisa dianggap dirugikan. Nah, politik regulasi adalah seni memilih dan merumuskan kebijakan yang resikonya paling kecil dalam mengorbankan dan merugikan orang, dengan berbagai kepentingannya.

Memang rumit? Entahlah. Yang jelas, kekerasan seperti yang terjadi kemarin adalah penanda, bahwa masyarakat kita masih belum dewasa.

  • view 164