Benarkah Kita Bebas Beragama?

angkasa raya
Karya angkasa raya Kategori Agama
dipublikasikan 03 Februari 2016
Benarkah Kita Bebas Beragama?

hati-hati si anu sesat karena shalatnya begini dan tidak begitu.

Seorang teman kuliah, dulu pernah mengaku sebagai bagian dari LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Pengakuan dilakukan secara sembunyi dan rahasia seolah dirinya telah melakukan tindakan amoral sehingga takut diketahui orang lain. Rasa takutnya tentu saja beralasan mengingat bangsa kita gemar sekali memberi label pada apapun yang berbeda dari dirinya, dari tafsir mayoritas. Kalau untuk urusan agama, labelnya hanya ada dua; sesat & tidak sesat. Masih ingat kisah para penganut Syiah di Sampang yang terusir dari kampungnya sendiri? Atau perusakan dan pembakaran Masjid Ahmadiyah oleh warga setempat? Belum lagi tindakan semena-mena yang dilakukan atas nama agama ketika kaum minoritas ini melakukan ritual? yang dianggap berbeda.

Tidak perlu jauh-jauh ke Sampang atau menonton TV untuk tahu seperti apa intolerannya (dan sotoynya) masyarakat kita. Beberapa waktu lalu? seorang teman dalam sebuah group Whatsapp mengirim gambar roti bertuliskan "Bahaya Syiah", padahal akan lebih tepat jika tulisannya? "Rasa Coklat". Sosial media membuat penyebaran informasi menjadi kian mudah, termasuk informasi yang tak jelas kebenarannya karena kita terlalu malas memastikan sumbernya. Tidak jarang penyebaran tautan dari situs berita yang memang dibuat untuk memprovokasi atau lebih tepat memfitnah (?). Padahal jika mau berpikir kritis sedikit saja bisa disadari persentase kebenerannya sama seperti kandungan buah dalam minuman kaleng berwarna-warni. Alias hampir nihil. Jadi cerdas-cerdaslah jangan dulu terhanyut, percayalah, tidak ada satupun berita atau artikel yang dibuat oleh media bersebrangan tanpa memangku kepentingan untuk menjatuhkan.

Indonesia merupakan negara dengan penduduk islam terbesar di dunia. Mayoritas penduduk islam adalah Ahluh Sunnah, sisanya adalah yang berpura-pura sebagai ahluh sunnah. Biar aman, biar tenteram. Padahal Bhinneka Tunggal Ika, katanya, tapi perbedaan di negara ini seperti virus asing yang kalau tidak ditumpas seolah akan melemahkan keseluruhan tubuh. Seolah kita adalah imun yang melindungi dengan menyerang. Di Negara yang sebetulnya hetero tapi rasa homogen ini, perbedaan seolah tidak memiliki tempat. Maka akan menjadi sial bagi siapapun yang memiliki pemahaman? berbeda.

Jadi apakah kita bebas beragama?

atau jangan-jangan kita bebas menggunakan agama. Maksudnya bebas menggunakan agama sebagai alasan perbuatan anarkis. Bebas sampai bablas.?

Sebagai manusia yang dianugrahi akal oleh Sang Pencipta. Akal dan hati tentu saja. Sebetulnya tidak perlu mengalami untuk sekedar memahami, atau jika memang akal kita tidak sampai untuk paham, paling tidak hati kita punya belas kasih untuk tidak serta merta melukai. Tidak perlu menjadi minoritas untuk tahu rasanya jidat kita dilabeli sesat dan diadili sepihak kan? Atau perlu? Semoga kesoktahuan yang kita miliki masih terbentur hati nurani untuk menyakiti. Karena, bukankah kita bebas beragama? Kecuali jika memang sudah mengantungi tiket masuk surga, Yaaah Monggolah.

:?

?Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.? (Pasal 28E ayat (1) UUD?1945)

?

?

?

  • view 87