Cerita tentang Wanita Senja

Rasyd El-Farizy
Karya Rasyd El-Farizy Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 September 2016
Cerita tentang Wanita Senja

Tuhan mencipta senja dengan segala keindahannya. Namun aku benci senja. Mungkin kamu menganggapku aneh atau diluar kebiasaan karena orang – orang pada umumnya tergila – gila atau bahkan rela hingga ke ujung dunia demi mendapati saat – saat sang menari hilang ‘ditelan bumi’. Ya bila kau menganggapku anti mainstream itu tak mengapa, karena toh setiap orang berhak memilih dan berpendapat, bukan ?

Akan kuberi tahu alasanku kenapa aku membenci senja. Pada awalnya aku juga seperti orang kebanyakan, ya senja adalah salah satu waktu favoritku. Kesukaanku pada senja bertambah sejak aku mengenalmu, dan pada akhirnya jua kebencianku akan senja juga karenamu. Kita pertama kali berjumpa saat senja, dan mungkin itu adalah saat terbaik dan terindah dalam hidup selain ketika aku Alhamdulillah terlahir di dunia dengan selamat dari keluarga yang luar biasa.

“Aku selalu suka senja, karena disana Tuhan menciptakan mahakarya-Nya.” Katamu waktu itu.

Aku diam, tersenyum, setuju denganmu.

“Coba lihat ? kurasa, ketika senja tiba, langit adalah lukisan terindah yang pernah kulihat. Senja yang merah merona, langit dengan corak biru dan jingga sungguh luar biasa” Katamu kembali.

“Hmm ya itu karena ga ada manusia yang sanggup melukis di langit, hanya Tuhan yang mampu. Kurasa kamu juga salah satu mahakarya Tuhan juga lho haha” kataku.

“Haha iya juga sih, Alhamdulillah makasih lho yaaa” katamu sambil tersenyum manis sekali.

Sejak saat itu senja adalah waktu yang paling kutunggu, karena saat senja tiba aku tahu kau ada disana. Walau kita tak ada di tempat yang sama saat dia tiba, namun aku tahu kita menganggumi keindahan yang sama.

Selalu kumulai hari dengan bersemangat, sembari menunggu senja tiba aku banyak melakukan kebaikan. Seperti pesanmu saat itu.

“Ketika senja ga ada apa yang kamu lakukan?”

“Entahlah, hal biasa mungkin” jawabku.

“Lakukanlah hal – hal baik, pria besar”. Pria besar, dia memanggilku dengan sebutan itu.

Ketika kutanya “Itu karena badanmu yang besar, oiya tapi juga karena hatimu juga besar haha” katanya sambil terkekeh waktu itu.

Mungkin banyak pria – pria yang memiliki badan relatif besar  namun hati atau jiwa mereka tak sebesar badannya, pernah suatu kali ku berifikir. Kau suka bercerita banyak, tentang keinginanmu yang kadang tak bisa kau dapatkan, tentang segala keluh kesahmu yang katamu sering tak beruntung, segala macam nasihat dan semangat darimu dan entahlah cerita – cerita yang selalu dengan senang hati kudengarkan. Ya, bersamamu saat senja, kurasakan ketenangan sekaligus kegelisahan, kegelisahan tentangmu wanita senja,  akankah nanti kau akan ikut menghilang bersama hilangnya sang senjakala.

“Kau tahu, setelah sekian lama mengembara, akhirnya kali ini kutemukan wanita yang berbeda. Kamu itu wanita super!”, kataku.

“Emangnya aku wonder woman ?” kamu terkekeh.

“Haha ya kamu wonder womanku, wanita senja! Kamu tahu, peranmu sungguh luar biasa dalam hidupku. Ya walaupun belum begitu lama kita saling mengenal, hadirmu adalah semangatku, inspirasiku, pokoknya berkatmu hal – hal positif dan kebaikan – kebaikan selalu kuusahakan !” kataku.

“Hmm masa sih ? Alhamdulillah deh ikut seneng haha”.

“Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata

Ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya

Mungkinkah kau tahu jawabnya”

Lagu berdua saja payung teduh mengalun syahdu menemani kebersamaan kita saat itu.

Suatu sore kamu mengajakku ke pantai, ingin lihat senja untuk terakhir kali katamu.

“Eh kamu tahu, senja itu adalah waktu perpisahan. Tuhan mengajarkan perpisahan bukanlah sesuatu yang menyedihkan dan patut disesali. Ketika senja pergi, malam dengan segala kegelapannya telah menanti. Malam yang gelap sekali pun bukan sesuatu yang buruk. Kegelapan malam jadi indah karena hadirnya bintang – bintang yang menghiasi langit, sinar rembulan walau tak seterang sinar mentari, cahayanya adalah pelita di malam hari. Bahkan ketika malam, kelap - kelip kunang – kunang yang beterbangan adalah sesuatu yang cantik, bukan?” katamu.

“Senjaku sempurna karnamu, malamku juga walaupun tak ada cahaya setitik pun masih ada cahayamu yang selalu jadi pelitaku.” Kataku.

Namun kenyataannya berbeda, malamku terasa lebih kelam dari biasanya. Terang cahaya tak ada apa - apanya dibanding setitik cahaya yang datang darimu. Itu pertemuan terakhirku denganmu. Kamu menghilang, seperti senja yang tenggelam hilang “ditelan bumi”.

“Kamu laki – laki baik, tapi aku tak cukup baik bagimu”. Itu kata – kata terakhirmu.

Aku malah berpikir sebaliknya. Kamu yang baik, dan aku adalah pria yang penuh dengan hal - hal yang tidak baik. Namun entahlah, manusia memiliki logikanya masing - masing. Padahal cinta adalah keajaiban yang menembus batas - batas logika. Peran sang maha cinta disini mungkin hanya sedikit saja, sehingga logika kita masih bekerja secara berbeda.

Kini entah hanya perasaanku saja atau memang nyata, senja dengan segala keindahannya tertawa, mengolokku, seakan dia telah menasehatiku dan kuanggap angin lalu saja. Dan pada akhirnya dia benar. Senja hanya mengingatkanku padamu. Kutitipkan rindu ini pada senja, namun dia menolak ! Ah harus kuapakan rindu ini ? Rindu yang tak kuat aku memikulnya. Akhirnya senja selalu kulewatkan. Tak pernah sudi lagi aku bertemu dengannya. Aku tak membencimu, karena itu adalah pilihanmu yang tak bisa aku memaksanya.  Aku hanya membenci senja ! Karenanya kembali mengingatkanku padamu, dan itu sungguh menyiksaku !

Lagu menuju senjanya payung teduh kali ini yang kudengarkan, mungkin karena liriknya cukup pas dengan keadaanku saat ini.

  • view 1.3 K