Gamang...

Angelina VT Isdiansyah
Karya Angelina VT Isdiansyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Februari 2016
Gamang...

? ? ? ? ? ? Cukup lama ku pandangi punggung itu. Sudah lama aku terbiasa bersembunyi dibalik punggung itu. Dada bidang si pemilik punggung itu selalu menghangatkan tiap malam yang ku punya. Mengantarkan ku pada mimpi-mimpi indah yang selalu ku nanti di tiap malamnya. Ah! Baru saja subuh tadi aku masih terpesona pada punggung yang penuh khusyuk dalam untaian do?a-do?anya. Baru subuh tadi, aku masih percaya bahwa dia adalah imamku, pemimpin yang akan membawaku menuju surga-Nya. Dia yang selalu tak pernah melepaskan tiap do?anya untukku, untuk anak-anak kami.

? ? ? ? ? ? ?Tentu saja aku harus percaya padanya. 10 tahun kami jalani semua rintangan bersama. 10 tahun kami menyatukan asa agar mampu meraihnya hingga ke puncak. 10 tahun kami lalui agar dapat senyum kami selalu mengembang dan mengucap syukur pada pemberian sang Pencipta pada kami yang lebih dari cukup. 10 tahun dengan kesabaran dia membimbingku dalam tiap sujudnya.

??????????? Ah! Lagi-lagi aku menerawang ke langit-langit kamar. Kemana kepercayaan itu menguap? Kenapa begitu cepat kepercayaan itu menghilang? Cukupkah karena alasan itu? Cukupkah yang ku lihat menjadi penyebab runtuhnya sebuah kepercayaan yang ku bangun selama ini? Kepercayaan yang ku bangun dengan begitu kokohnya! Kepercayaan yang kurajut dengan benang bernama do?a.

? ? ? ? ? ? ?Pagi ini ku lihat kekasih hatiku sedang tergesa-gesa. Sedikit ia bersuara meneriakan beberapa benda untuk minta diantarkan ke dalam mobil. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Ku lihat dia masih berkutat sebentar di depan komputer di ruang kerjanya. Komputer lama yang tak pernah mau ia singkirkan meski zaman telah berubah. Tentu saja ia punya sebuah laptop. Sambil bercakap-cakap pelan via ponsel dan membuka beberapa arsip. Teriakan putra-putri ku membuatnya lebih cepat beringsut dari layar monitor, berlari kecil seraya mengecup keningku dengan lembut, dan melambaikan tangan sambil terus berbicara dengan seseorang di ponselnya.

??????????? Setelah mereka pergi, aku menyinggahi ruang kerja suamiku. Disana ada remah roti bakar yang berhamburan. Kopinya pun sudah habis diminum. Ku ambil tissue untuk membersihkan sisa makanan itu sambil melirik layar monitor. Kebiasaan suamiku selalu lupa mematikan komputernya bila tergesa. Tapi kali ini berbeda. Dia lupa keluar dari email pribadi dan akun facebooknya. Dahiku mengeryit heran. Suamiku? Ku ingat beberapa tahun lalu, dia mengatakan tidak begitu menyukai facebook. Dia memang memiliki akun facebook tapi enggan membukanya.

??????????? Entahlah, apakah sang Maha Mengetahui sedang membimbing tangan dan mataku? Ku lihat kotak masuk pada emailnya dengan hati bergetar. Jantungku tidak lagi berirama serasi. Dadaku seperti menerima beberapa gumpalan asap hingga sulit bernafas teratur. Beberapa menit yang lalu sebelum dia pergi ke kantor, ada pesan untuk facebooknya. Perlahan ku buka facebooknya, ku buka pesan. Dan? kosong! Apa ini? Tertera sebuah pesan yang terakhir di terimanya tahun lalu. Mata ku terasa panas. Ada sesuatu disana? Kembali sengaja ku buka emailnya dengan lebih teliti. Ku cocokkan tanggal-tanggal pemberitahuan pesan-pesan itu. Pesan yang berlangsung sejak enam bulan yang lalu. Ya Allah? pemberitahuan itu ada. Tapi tak sedikitpun tertera di facebooknya.

? ? ? ? ? ??Kini Kristal itu berjatuhan. Aku menangis! Tapi untuk apa? Untuk siapa? Karena apa? Kenapa tangisan ini pun tak berhenti. Malah semakin menjadi. Kemana aku selama ini? Apa gunanya kepercayaan yang kuberikan selama ini? Ataukah hanya aku yang kurang perasa? Terbuai oleh semua sikap manis yang ia tunjukkan. Sikapku yang mana yang menyalahi hubungan kami? Hei, sudah 10 tahun, bukan?

??????????? Dengan sekuat tenaga tetap ku buka beberapa email yang masuk bertahun-tahun lalu. Tepat dua hari sebelum pernikahan ada seorang wanita yang masih mengirimkan email padanya. Yang mengatakan hatinya masih terpaut pada suamiku dan sulit melupakannya. Mengirimkan beberapa foto dan beberapa lagu yang harus di dengarkan tiap mereka saling merindukan. Email yang berlangsung hingga usia pernikahan menginjak tahun kedua kemudian menghilang. Sungguh cantik wanita itu.

??????????? Lalu, siapa pengirim pesan melalui facebooknya? Pria atau wanita? Kenapa harus dihapus? Ah sudahlah! Ku tutup semua yang ku lihat. Ku matikan layar monitor itu dan bergegas berbenah seperti biasa meski semua sudah hancur. Hancur berkeping-keping tak tersisa.

??????????? Disini, di tepi tempat tidur, ku pandangi lagi sosok lelaki yang menemani hariku, membahagiakan tanpa celah. Ku beranikan diri sore tadi bertanya sepulang kantor. Dia hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ah, sudahlah! Itu sudah cukup menjadi jawaban.

??????????? ?apa yang salah padaku? Apa karena kita dijodohkan? Bukankah kau menerimanya?? tanyaku dengan mulut bergetar seraya menahan perihnya rasa sakit di hatiku. Suamiku hanya menggeleng perlahan. ?sehari setelah pernikahan aku sungguh jatuh cinta padamu, kau tak sebanding dengan wanita-wanita yang selama ini kutemui. Kepadanya, aku hanya meluangkan waktu mendengar curahan hati nya? jawab suamiku, dengan menahan tangisnya. ?hingga hari ini? Untuk apa?? Tanya ku lagi. Dan kali ini kami benar-benar diam.

?

??????????? Aku beranjak dari duduk diamku sedari tadi. Mengemasi beberapa pakaian, ku lipat rapi ke dalam tas. Untuk pertama kali setelah 10 tahun. Ku ajak anak-anak berlibur. Aku merindukan suasana kampung yang tenang. Entah ini benar atau tidak. Aku hanya ingin sedikit melegakan nafas yang sesak, mengelus dada yang bergetar, mengatur kembali irama jantung agar degupannya senada. Mendinginkan mata yang terasa panas dan mulai menyipit karena Kristal yang tak pernah berhenti. Entah karena apa. Sayang, izinkan aku pergi? sejenak saja!

  • view 145