Bapak tua itu...

Angelina VT Isdiansyah
Karya Angelina VT Isdiansyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2016
Bapak tua itu...

Beberapa waktu lalu, sore hari tepatnya. Aku janji untuk bawa para jagoan kecilku ke taman. Terlihat di kejauhan mereka sedang asyik bermain bersama abinya. bahagia rasanya melihat anak-anak segembira itu.
"Senang ya, mereka masih lucu-lucu" tiba-tiba aja keluar suara sedikit berat dan bergetar dari sampingku.?

Seorang bapak yang usianya sekitar 70-an menurutku. pakaiannya cukup casual, kaos oblong, celana pendek, dibawah lutut. sandal jepit dari kulit. bila dilihat dari caranya?berpakaian, sudah pasti bapak ini dari kalangan orang berada. di tangan kirinya memegang kunci mobil dan handphone android masa kini.?Walaupun sepertinya terlihat masih gagah, garis kulit dan wajah beliau memang memperlihatkan usia yang menua.

Aku tersenyum dan mengangguk saat beliau mengucapkan kata-kata itu. mungkin beliau merindukan cucu-cucunya yang entah dimana.

"Apa do'amu, nak buat mereka?" tanyanya lagi.

"hmm.. tentu menjadi anak yang baik, sopan, jujur, taat beragama, membanggakan dan tidak membuat hal yang memalukan di keluarga dan masyarakat tentunya, pak." jelasku. kulihat beliau mengangguk. tersenyum. dan hening.

"semua orang tua akan begitu, nak. kita bekerja cukup keras agar mereka seperti anak-anak lain, agar mereka selalu berkecukupan, agar kelak mereka bisa berdiri tegak saat kita sudah tak lagi ada." ujar beliau sambil menerawang. entah apa yang diingatnya. kalau tebakanku, mungkin kenangan masa lalu bersama anak-anaknya.

"tiap orang pasti pernah mengalami masa sulit, nak. dulu, anak pertama sampai anak keempat bapak lahir dalam keadaan sulit. mereka lahir dirumah, tapi yang terakhir di rumah sakit loh. tapi dia juga yang lebih dulu menghadap Allah SWT." dia berujar dengan mata yang berkaca-kaca.

"innalillahi..."

"iya, sakit yang terlambat kami ketahui. karna anak itu pendiam, jarang ngeluh, kadang punya harta banyak gak buat kita serta merta bisa lakukan apapun. bahkan untuk anak sendiri" sesalnya.

"itu sudah janji anak bapak" jawab ku tersenyum untuk membesarkan hati beliau. beliau pun tersenyum dan mengangguk.

Bapak tua itu banyak cerita tanpa ditanya. mungkin beliau memang butuh teman untuk berkeluh kesah. sepanjang kami duduk berdampingan, banyak hal yang aku dapat dari bapak itu. anak pertamanya, bisnis jual beli kayu, anak keduanya kini di bandung, pengusaha konveksi, anak ketiganya seorang pegawai negeri, dan keempat satu-satunya anak perempuannya setelah yang bungsu meninggal, kini menjadi POLWAN.

Kalau dilihat dari cerita singkatnya, bapak ini termasuk berhasil mendidik anak-anaknya hingga bisa menjadi orang-orang berguna. tapi raut kesedihan diwajahnya tak bisa ia sembunyikan.?

"teruslah dekat dengan anak-anakmu itu, nak. sampai mereka besar, sampai mereka bisa berdiri dikehidupan mereka sendiri, tapi tak pergi jauh darimu"

"Insyaallah, pak" angguk ku.

"Saya ini kaya loh, nak. uang saya banyak di bank. milyaran, loh" katanya setengah tertawa.

"oh ya, pak" sambutku tersenyum nyaris tertawa kecil kaget mendegar?pernyataan beliau.

"Tapi, apa guna kita kaya, nak? saya berfikir, kaya begini saja saya jarang?dijenguk, hanya karna anak-anak itu sibuk dan berbagai macam alasan lainnya! apalagi kalau saya miskin tak berharta?"?

Hening. aku tercenung dengan pernyataan beliau. aku terdiam menatap bapak tua itu. beliau menerawang, matanya berkaca-kaca, ada setetes airmatanya, tepat diujung matanya. kemudian beliau menghapusnya. berdiri menuju penjual balon gas, membeli 2 buah balon berbentuk angry bird dan doraemon. kemudian menuju ke arah kedua jagoanku yang asyik bermain ayunan. memberikannya pada anak-anakku seraya membelai kepala mereka. tanpa sadar aku meneteskan airmata. Membalas lambaian tangan bapak tua itu yang hendak pamit. kulihat langkah kaki tuanya menuju mobil sport yang ku perkirakan harganya berkali-kali?lipat mobilku saat ini. berlalu, meninggalkanku di tempat duduk taman. dalam hening. dalam do'a, semoga kelak anak-anakku tetap seperti saat ini. Aamiin.

  • view 190

  • Asti Nurhayati
    Asti Nurhayati
    1 tahun yang lalu.
    Memang. Tidak sedikit anak yang tak menyadari bahwa terdapat hukum alam yang mengharuskan adanya pertukaran peran antara orangtua dengan anak. Topik ini sering membuatku merasa miris. Tulisannya bagus, Mbak Buat renungan hehe.