Balada Temu Kangen

Angelina VT Isdiansyah
Karya Angelina VT Isdiansyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Mei 2016
Balada Temu Kangen

Sekali lagi ku lihat wajah kucelnya, terpekur menatap isi lemari pakaian sedari pagi tadi. Matanya nanar menatap dari atas ke tengah lalu ke bawah kemudian ke samping terus melirik pakaian-pakaian tergantung layu. Terdengar helaan nafas putus asa ke sekian kalinya.

“abang nggak usah pergi aja ya, dek?” untuk ke sekian kalinya mata sayu itu kembali menatap ku dengan ucapan yang sama. Betapa begitu mengiris hatiku kata-kata itu terdengar.

“pergilah bang, siapa tahu di sana abang bisa bertemu teman yang memberi peluang baik untuk abang” kembali aku membujuk pujaan hatiku seraya mengelus punggung hangatnya. Sungguh betapa aku bersedih atas kehidupannya bersama ku. Karena aku, ia menjadi seperti sekarang. Seorang pemuda yang dulu kekar dan hidup berkecukupan, kini terbuang dari keluarga terhormatnya demi memilih ku seorang gadis yatim piatu yang tak jelas asal-usul nya.

 “kenapa bang? Abang malu? Tidak siap?” tanyaku perlahan. Pertanyaan yang ku simpan selama beberapa hari setelah undangan reuni itu tiba di rumah. Dia hanya tersenyum lalu beranjak menuju halaman depan, meneruskan pekerjaannya memperbaiki sepeda motor pelanggan. Seandainya saja, ia tak berkeras memilihku, sudah tentu sekarang sekolahnya tinggi. Minimal ada saja titel sarjana melekat di belakang namanya. Tidak seperti sekarang, hanya lulusan SMA yang punya bengkel kecil hasil pinjaman koperasi desa. Sedangkan aku hanya mampu membuka warung makan kecil-kecilan di samping rumah. Mungkin saja benar, ia malu bertemu teman-temannya yang terdengar sukses. Padahal, ia termasuk salah satu anak penyumbang dana terbesar di yayasan tempatnya sekolah dulu. Atau mungkin ia menyesal.

“bang, abang menyesal dengan kehidupan sekarang?” tanyaku sekali lagi. Kali ini mataku terasa panas.

“dek, nggak ada yang abang sesalkan… apalagi malu… maafkan sikap abang kalau itu menjadikan prasangka dalam hati adek” kali ini dia menyusulku di teras depan seraya mengusap-usap punggung tanganku. Terasa tangannya yang tak sehalus dulu tapi tetap terasa hangat. “abang cuma belum siap kalau-kalau ketemu Ayah di sana… abang masih bersedih kalau ingat Ayah belum mau menerima kita, sedangkan abang terus memohon pada Allah SWT kalau hati Ayah digerakkan agar mau menganggap adek sebagai menantunya dan mau menengok dua cucunya… bukankah silaturahim itu penting, dek?” jelasnya panjang lebar. Suara tegas terdengar dari bibirnya meskipun bergetar. Kali ini mataku benar-benar tak mampu menahan bendungan yang begitu besar. Isakku terdengar. Sungguh aku berjanji pada diriku sendiri akan menyerahkan seluruh hidupku padanya. Pada seseorang yang begitu rela menghabiskan waktu hidupnya untukku.

“sudahlah, dek. Tak perlu menangis… abang tidak apa” ucapannya selalu menenangkan. Satu-satunya cara mengobati hati hanya dengan ziarah ke kubur mama nya. Kata abang, kalau saja mama masih hidup, dengan pasti aku akan diterima. Mama sangat bijaksana dalam memandang segala hal, dan tentu papa selalu menuruti permintaan mama. Sayang sekali aku tak pernah mengenal beliau. Hanya mampu mengirimkan do’a.

“jadi abang tetap tidak mau pergi? Ini sudah ketiga kalinya abang tak mau pergi” kataku memandang wajahnya. Kali ini aku melihat senyumnya mengembang seraya menggeleng tanpa ragu. Aku berdiri seraya membelai lembut pipi kusamnya. Tak akan memaksa semua keputusannya. 

***

            Matahari begitu senang pagi ini menyapa rumah mungil kami. Ku lihat anak-anak senang berlari di halaman rumah. Jilbab Rani anak sulung berkibar ke sana kemari karena ia terlalu girang berlari-lari. Hari minggu begini selalu menenangkan hati ku. Melihat Rani dan Ikbal berlarian, tanpa beban.

            “bu… ibuuuu… ibuuuu…” terdengar Rani dan Ikbal memanggil-manggil ku dengan tergesa kea rah dapur. “kenapa sayang?” Tanya ku tanpa menoleh, sibuk dengan lauk yang kusiapkan untuk warung hari ini. “lihat ini” permintaan Rani memaksaku menoleh ke arahnya. “dapet darimana ini? Punya siapa?” tanyaku heran melihat Rani memeluk boneka beruang yang cukup besar, nyaris menutupi tubuh mungilnya. “punya Rani. Itu ada kakek-kakek di mobil depan” jawabnya polos. Aku melihat Ikbal membawa mobil besar dengan remote control, terlihat ia sangat keberatan tapi pelukannya begitu erat tak mau melepaskan mainan barunya. Kemudian aku berlari kecil ke teras depan. Dari balik pintu aku melihat lelaki paruh baya sedang memukul-mukul suamiku dengan tongkatnya. Langkahku terasa berat ingin menghalaunya. Entahlah, keberanian yang selama ini ku pupuk tiba-tiba menguap entah ke mana. Nyaliku mengkerut. Hanya mampu menatap di sela pintu ruang tamu.

            “anak bodoh! Aku mengadakan reuni itu untukmu! Anak tak tau diri! Pengecut!” tongkat terus dipukulkan ke arahnya. “maaf, pa. Ryan bukan…” “bukan apa?! Malu kamu kan? Hah?” kali ini suara ayah mertuaku menggema. Semoga saja tetangga tidak mendengar. “Rya nggak malu, pa. Ryan nggak nyesal. Ryan hanya belum siap bertemu papa. Ryan tahu, usaha Ryan meminta maaf selama ini belum mampu membuat papa memaafkan Ryan dan Intan, tapi…” “PLAAKKK!!” terdengar tamparan yang begitu keras. “kau pikir kau Tuhan mampu menebak hati papa?!”

Hening… 

Hembusan angin menerpa pepohonan yang sedang beristirahat menikmati matahari. Kicauan burung terasa seperti alunan melodi rindu. Siap menidurkan setiap insan, ke dalam pelukan hangat yang bernama “cinta”

Rasanya ini mimpi yang tak berkesudahan. Kini sosok pria itu berdiri tegap dan gagah. Sorot matanya memancarkan teduhnya kehidupan. Ku lihat kembali ia dengan wajah bercahayanya meski tangan tak lagi sehalus pertama menggenggam.

“adek ikut yah…” kali ini ia yang meminta ku.

“adek malu, bang…” jawabku ragu.

“aiiih… malu suaminya tukang bengkel?” tanyanya menggodaku. Bibirku mengkerut maju. Ia tak pernah berubah. Meskipun almarhum papa memberikan semua haknya 10 tahun lalu. Ia tak pernah berubah. Masih seperti yang dulu. Masih menjadi sesosok pemuda yang terus semakin dalam mencintaiku karena Allah SWT.

***

“wah... wah… ini nih, montir keren kita” salah satu teman abang menyambut abang dengan jabat tangan hangat.  

            “walau cuma montir, haruslah tampil keren, kan?” gurau abang seraya menarikku perlahan, tetap menggenggam tanganku hangat dibalik tangan kekarnya. Serasa meyakinkan aku untuk jangan pernah takut, abang tak kemana. Hanya disampingku.

  • view 127