Si Mbah Penjual Marning

Angelina VT Isdiansyah
Karya Angelina VT Isdiansyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2016
Si Mbah Penjual Marning

Jalan besar arah menuju pulang ke rumah, ada penjual marning keliling. Lelaki cukup tua, bersepeda. Diatas sepedanya dibuatkan kotak besar, tempat Ia menaruh bahan dagangannya. Kakek tua itu berjualan marning. Ada beberapa jenis kacang juga. Katanya di goreng menggunakan pasir. Harganya cukup terjangkau. Entah, apakah sudah terbayar dengan usahanya yang selalu mendorong sepedanya itu atau tidak.

?

Tiap pulang dari kantor atau jalan sore, aku selalu menyempatkan untuk menyinggahinya. Sekedar membeli satu atau dua bungkus. Bukan karena iba, bukan! Bukan juga berniat sedekah, karena beliau tidak meminta-minta. Kalaupun memang terhitung dalam sedekah, biarlah Allah SWT yang menghitung amalanku. Aamiin.

?

Tiap melihat si mbah itu (aku memanggilnya mbah karena beliau Jawa) aku selalu teringat almarhum Kai (baca: Kakek). Aku cukup lama tinggal bersama Kai. Sejak masih merah, sampai SMP kelas 1. Kai dulu seorang pedagang sayur. Beliau punya warung kecil-kecilan. Pukul 3 pagi, ketika ayam hanya berkokok 2-3 kali, Kai dan Ma uwo (baca: Nenek) bersiap shalat Tahajud. Setelah siap, mereka bersiap mengambil keranjang besar dan di ambin seperti penjual jamu, tapi bedanya ada pengait seperti ransel. Seingatku, keranjang itu besar banget. Aku kecil pun sepertinya masuk ke dalam situ. Tubuh kecil Kai nyaris tak terlihat bila mengambin keranjang itu. Mereka berjalan kaki menuju pasar yang lumayan jauh. Seharusnya bisa saja mereka naik angkot yang memang selalu tersedia dini hari seperti itu, karena memang banyak pedagang yang keluar jam segitu menuju pasar besar yang dulu kami sebut pasar simpang tiga.

?

Sesekali waktu, almarhum Kai mengajakku ke pasar. Biasanya hari minggu, aku diperbolehkan ikut, karena pulang dari pasar aku boleh tidur lagi. Hehehe?

Yang aku ingat, sepanjang berjalan menuju pasar, Kai selalu bercerita. Tentang apa saja. Tanpa lelah, Beliau menggandeng tanganku. Ma Uwo selalu mengikuti sambil membelai-belai pipi buntalku supaya tidak kedinginan. Sampai di pasar, orang-orang sudah rame banget (namanya pasar ya rame kan ya, hihihi) Kai tidak lama keliling karena dia sudah punya tempat beli sayur yang langganan sedari muda. Tinggal comot sana, comot sini, bayar sana, bayar sini. Banyak juga yang mengenaliku. Karena hampir setiap minggu aku ikut. Kecuali hujan, Kai tidak mau aku kehujanan.

?

Biasanya, setelah usai belanja kami singgah ke warung kopi yang terletak di tengah pasar. Tanpa ditanya, penjualnya sudah hafal semua yang diminta pedagang disana. Aku dan Ma uwo kopi susu, Kai biasanya Teh dengan warna merah pekat tanpa gula. Kalau pulang dari pasar biasanya kami naik satu-satunya angkot yang ada pada jam segitu. Angkot yang supirnya orang cina. Seumuran Kai dan sangat ramah. Dia pun hampir mengenal semua pedagang pasar karena cuma dia yang bersedia mengantar orang-orang belanja dini hari.

?

Dari beberapa kenangan itulah yang membuat hatiku selalu tergerak untuk membeli marning-marning si mbah. Kai pernah bilang, sesulit apapun hidup kita, muda atau tua, lebih baik berusaha. Jangan pernah memanfaatkan tubuh renta untuk meminta-minta. Apalagi kalau masih kuat. Dan Si Mbah Penjual Marning itu, membuat ku melihat sosok Kai. Dia masih merasa kuat untuk bekerja, entah dia kekurangan atau hanya mencari kesibukan di masa tua, tapi beliau tetap bersemangat untuk berusaha.

?

Aku juga selalu ingat, pukul 3 sore, Kai selalu membungkus beberapa sayuran dan memberikannya pada tetangga yang kekurangan, atau yang tak sengaja lewat di depan warung. Saat aku tanya, kenapa diberikan cuma-cuma? Dia tidak pernah sekalipun menjawab sedekah, atau kasihan orang itu. Kai hanya menjawab, sayurnya masih segar, kalau besok layu udah ga bisa dijual. Jadi biarlah buat makan malam mereka. Padahal tiap aku membantu menyusun sayuran pagi hari, beliau selalu menyisakan 2-3 ikat sayur dalam keranjang. Jadi sayuran yang diberikan bukan sayur sisa atau yang tidak laku.

?

Terima kasih ajaranmu tentang kehidupan ya, Kai. Si Mbah Penjual Marning, semoga Allah SWT selalu memberikan rezeki yang barokah buatmu. Aamiin.


  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Iya mbak, sama-sama... amiiin, orang2 seperti mereka yang justru jadi motivasi bagi kita yg muda2 ini mbak, hehe.

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Tulisannya bikin terharu mbak sekaligus jadi malu ya kalau masih muda saya masih sering mengeluh, hehe. Smoga di mbah penjual marning diberi kesehatan oleh Alloh swt dan dimudahkan rezeki beliau, amiiin ya robbal'alamiiin...

    • Lihat 1 Respon