Pergi Bersama Hujan

Angelina VT Isdiansyah
Karya Angelina VT Isdiansyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2016
Pergi Bersama Hujan

??????????????? Hujan?

??????????? Biasanya Ibu begitu menyukai suara gemericik air yang menyentuh atap rumah secara teratur itu. Terdengar seperti melodi yang begitu selaras. tapi mengapa tidak begitu siang ini?

??????????? Seperti saat ini, Ibu terus menemanimu yang sedang lelap. Entah apa yang kau mimpikan, nak? Wajah mungilmu begitu teduh. Kulit putihmu membuat Ibu tak pernah lelah mengusap rambut-rambut kecil di dahimu agar kau tetap terlelap. Tak terganggu hiruk-pikuk kesibukan di sekeliling kita.

??????????? Dan pada tiap belaian tangan Ibu, kembali hadir bayangan senyumanmu yang tak pernah lepas dari bibir indahmu. Terkadang membuat Ibu begitu bahagia melihatnya hingga Ibu lupa, kapan terakhir kali kau menangis.

??????????? ?Ratih, coba tebak, hari ini Anggun sudah bisa apa?? Tanya tante Adel, adik semata wayang Ibu ketika baru saja Ibu pulang dari kantor. Wajahnya cukup gembira.

??????????? ?apalagi?? Tanya Ibu begitu tak sabar dan bertanya dengan mata berbinar.

??????????? ?Anggun, sini nak? panggil tante Adel pada keponakannya yang berusia 10 bulan itu.

??????????? Sungguh bahagia melihatmu berdiri tegak, nak. Berjalan tertatih-tatih menuju ke arah Ibu sambil merentangkan tangan agar segera Ibu sambut. Andai masih mampu kau mengingatnya, nak. Baru saja Ibu ingin menyambutmu, Ayahmu datang dengan tangan terbuka, lebih dulu meraih dan menggendongmu dengan bangganya. Ah, begitu cepat waktu itu berlalu, nak. Kebahagiaan Ayah dan Ibu saat itu tak ternilai.

??????????? Fikiran Ibu berpendar lebih jauh mengingat ketika kau baru lahir, putri kecil ku. Keriuhan suara gelak tawa dan kegembiraan begitu jelas tergambarkan di ruangan bersalin. Hampir delapan jam Ibu menahan sakit hingga akhirnya kau mau keluar untuk melihat dunia, nak. Pancaran senyuman Ayahmu yang pendiam terlihat begitu bahagia. Nenek menggendongmu seakan tak mau melepaskanmu dan membagi kebahagiaannya dengan orang lain. Tentu saja, sebab kau cucu pertama keluarga kita, nak. Ibu ingat sebulan kehamilan Ibu, Ibu sudah menyiapkan namamu Anggun Permata Delima. Bagus kan, nak? Ibu yakin kau suka dengan nama itu. Terbukti bila ada yang menanyakan namamu, dengan bangga dan tegas kau sebut, Anggun!

??????????? Entah sudah berapa lama Ibu menikmati wajahmu yang dipenuhi mimpi hingga Ibu merasa, tante Adel mengusap punggung Ibu perlahan. Menyodorkan secangkir teh hangat untuk Ibu minum.

??????????? ?kita tunggu hujannya berhenti, ya? ujarnya kemudian berdiri menghilang entah mau kemana lagi dia.

??????????? Kembali Ibu menatapmu, yang belum juga mau terbangun. Tak apa, hujannya juga belum reda. Biarkan Ibu terus menemanimu disini. Biarkan Ibu menikmati waktu bersamamu. Ibu senang melihat matamu, nak. Bulu matamu sungguh lentik. Kau tak perlu ke salon hanya karena ingin membuat matamu terlihat indah. Wajahmu memang menawan.

??????????? Ibu baru ingat, minggu lalu kau mengajak Ibu ke toko buku. Sayangnya, Ibu kurang sehat. Kapan mau pergi, nak? Biasanya memang kau tak pernah pergi tanpa Ibu. Meskipun kau pergi bersama teman-temanmu, dan selalu kau mengajak Ibu. Kau selalu ingin Ibu tahu siapa teman-temanmu, apa aktivitasmu, dan apa yang kau mau.

??????????? Pernah sekali waktu, kita menghabiskan sore di taman bersama Ayahmu. Langit tak mendung tapi hujan begitu deras turun tiba-tiba. Bukannya lari berteduh, kau malah mengajak Ayah dan Ibu berlari dan menari di tengah hujan, bak adegan film india. Dengan riangnya kau menarik tangan Ayah dan Ibu dengan paksa. Ah, Anggun! Bagaimana Ayah dan Ibu mampu menolakmu, nak? Kau selalu punya cara agar Ayah dan Ibu tak ingin membuatmu kecewa. Alhasil, kau sakit seminggu dan membuat kau harus menginap tiga hari dirumah sakit. Ibu ingat betapa marahnya nenek melihat sakitmu karena bermain hujan. Dan ternyata Ayah dan Ibu yang merestui tingkahmu itu.

??????????? Ibu ingat, pertama kali kau membawa mobil tanpa pamit dan tidak punya SIM. Saat itu kau baru kelas satu SMA. Entah siapa yang mengajarimu menyetir. Tapi tiba-tiba saja kau membawa mobil dan pulang pukul lima sore. Untuk pertama kalinya kau pergi tanpa pamit pada Ibu. Ibu ingat betapa marahnya Ayah dan Ibu saat itu padamu. Kau tahu, Anggun? Ibu marah padamu karena Ibu khawatir. Ibu tak pernah tahu seberapa mahir kau menyetir, kapan kau mulai bisa menyetir dan kemana kau pergi tanpa pamit. Ibu gelisah, nak. Sungguh lega hati Ibu melihat kau kembali dengan selamat. Memarkir mobil dengan baik. Tapi Ibu selalu bangga pada mu, nak. Sekali itu kau lihat Ibu marah dan menangis. Tak pernah kau ulangi lagi perbuatanmu. Tak pernah lagi kau pergi tanpa pamit.

??????????? Kali ini Ayahmu, mengusap punggung Ibu, mengagetkan Ibu yang sedang asyik menikmati suara hujan, tanpa ingin membangunkanmu.

??????????? ?bu, kita masih nunggu Tito. Ibu mau baring dulu?? tawar Ayahmu yang menarik tubuh Ibu. Tapi Ibu ingin disampingmu saja, nak.

??????????? Anggun, kau ingat nak hari ulang tahunmu yang ke 20? Sungguh tak ada yang kau minta selain kamarmu di cat dengan warna merah muda. Kau minta lemari dan tempat tidur berwarna senada. Kau sendiri yang mencari sprei dan selimut merah muda bergambar bunga. Kau hiasi dengan benda-benda berwarna sama. Sungguh, terlihat sekali kau memang anak yang lemah lembut, nak. Warna kesukaan mu juga membuktikan hal itu. Tak terasa kau begitu cepat tumbuh menjadi gadis yang ramah. Kau juga menyukai anak-anak kecil. Silih berganti anak-anak itu kau bawa pulang ke rumah. Meramaikan rumah kita dengan kelucuan dan keluguan mereka.

??????????? Semakin hari kau semakin cantik, nak. Wajahmu yang teduh membuat kau tak merubah diri menjadi begitu sombong. Kau semakin ramah. Kau semakin punya banyak teman. Sungguh, Ibu bangga padamu, nak. Tak sedikitpun kau membedakan teman-teman yang kau miliki.

??????????? Entah, apakah tante Adel sedari tadi di samping Ibu atau hilir mudik, ikut menyibukkan diri ditengah keramaian. Yang Ibu ingat, dia kembali membelai punggung Ibu.

??????????? ?mama sudah datang, Ratih? ucap tante Adel kemudian beranjak meninggalkan Ibu.

??????????? Ibu hanya menoleh, melihat nenekmu sejenak yang ternyata sudah ada disamping Ibu. Ibu melihat nenek yang mencium keningmu, membelaimu, tapi kau masih saja terlelap dalam mimpi indahmu, nak. Biarlah, bila nanti saatnya tiba, barulah kita beranjak bersama dari sini. Hujan pun belum berhenti, nak. Bahkan terasa semakin deras.

??????????? Ibu baru ingat, saat SMP, kau juga pernah mengendarai sepeda motor dan jatuh. Kau uring-uringan karena tanganmu akan meninggalkan bekas luka.

??????????? ?bu, Anggun kan malu kalo ini kelihatan? rengekmu saat itu sambil Ibu menyuapi nasi ke mulutmu.

??????????? ?nggak apa-apa, Anggun? kamu kan pake jilbab ini, nggak ada yang tahu? Ibu berusaha menenangkanmu.

??????????? Satu hal lagi yang membuat Ibu bangga padamu, kau tak sekalipun membantah ucapan Ibu. Kau hanya terus mengunyah makananmu dengan baik sampai menghabiskannya. Anggun, sudahkah kau puas dengan apa yang Ibu berikan, nak? Apalagi yang kau minta, nak? Beritahukan pada Ibu. Ibu akan mengabulkan selagi Ibu mampu. Seperti biasa, mintalah tanpa merengek. Cukup tunjukkan yang kau mau, nak. Ibu selalu senang saat Ibu katakan ?sabar, ya? seminggu lagi? kau hanya mengangguk tersenyum dan tak lagi meminta. Menunggu tanpa menagih, hingga yang kau mau tercapai.

??????????? Nak, Ibu tahu kau tak mau terpisah dari Ibu. Bahkan ketika kau lulus sekolah. Ibu memintamu memilih kota mana yang kau inginkan untuk melanjutkan kuliah. Kau tetap memilih disini, bersama Ibu. Disamping Ayah dan Ibu. Kau selalu bilang, tak bisa merawat diri sendiri saat sedang sakit. Kau selalu butuh Ibu untuk membangunkanmu saat subuh. Padahal Ibu tahu, kau sudah bangun ketika adzan subuh berkumandang. Tapi kau lebih memilih bangun dengan suara Ibu yang mengganggu tidurmu.

??????????? Kali ini, Ibu tak akan membangunkanmu, meski Ibu ingin. Tak tega melihat tidur pulasmu. Ibu hanya mampu mengusap dahimu. Hujan diluar mulai reda, nak. Ibu baru ingat kau hanya makan roti pagi tadi sebelum berangkat ke kantor. Ibu sudah mengajakmu sarapan nasi, kenapa kau tidak mau nak? Sudah tidak enakkah masakan Ibu?

??????????? ?bu, Tito sudah sampai? suara Ayah yang terdengar serak membuyarkan semua kenangan Ibu bersamamu.

??????????? Tito menghambur memeluk Ibu. Tangisanpun pecah. Adikmu sudah datang, Anggun. Lihatlah, nak. Kau sempat menhubunginya pagi tadi untuk menanyakan skripsinya. Dia datang untukmu, nak.

??????????? ?kenapa bisa, bu?? Tanya Tito dalam isak tangis.

??????????? Ibu baru sadar, begitu banyak orang berkumpul dirumah kita. Tenda diluar sudah terpasang entah kapan. Adzan dzuhur pun sudah berkumandang satu jam yang lalu. Kembali Ibu mengingat kejadian tadi pagi yang begitu cepat. Kau menuruni tangga dari kamarmu, bersiap menuju kantor. Entah kenapa kakimu bisa terkilir dan membuatmu terpeleset, nak? Kepalamu terbentur. Tak ada darah dan kau tak sadarkan diri. Ayah dan Ibu membawamu segera ke rumah sakit. Dan kenapa kau tak mau bangun?

??????????? Ibu ingat tadi pagi, kau masih sarapan sembari bercanda dengan Ayah. Tertawa riang. Pagi tadi kau memeluk hangat Ayah dan Ibu. Hal yang tak biasa kau lakukan sebelum pergi ke kantor. Mengecup kening Ibu kemudian menelpon Tito di ruang tengah. Entah apa yang kau bicarakan dengan adik kesayanganmu itu. Yang Ibu ingat samar-samar, kau ingin Tito segera pulang. Menemanimu dirumah, menemani Ibu karena rumah begitu sepi.

??????????? Ah, Anggunku! Inikah pertanda yang kau berikan, nak? Bisakah kita mengulang waktu sejenak, nak? Ibu ingin menemanimu ke toko buku, nak. Apa yang ingin kau cari, nak? Andai kau bilang, dari kemarin kau ingin Tito pulang, akan Ibu kirimkan uang tiketnya, nak. Kenapa kau pergi dan tak pamit, nak? Bukankah kau takut Ibu marah dan menangis karena kau pergi tanpa pamit? Lalu kenapa kau lakukan lagi? Kenapa Anggun?

??????????? Kembali Ibu usap keningmu. Kali ini Ibu mencium keningmu. Untuk yang terakhir. Dingin. Sakitkah, nak? Ibu ingin membelai pipi mu yang lembut. Dan semua terasa seperti mimpi ketika Ibu membuka mata. Tante Adel bilang, Ibu sudah empat kali tak sadarkan diri. Benarkah? Salahkah Ibu yang begitu kaget dengan kepergianmu, nak? Salahkah Ibu yang begitu terpuruk karena Ibu tak tahu kau akan meninggalkan Ibu? Kenapa, nak? Kenapa Anggun? Kenapa pergi tanpa pamit?

??????????? Satu persatu keluarga dan kerabat mencium keningmu. Mengikhlaskan perjalananmu menuju syurga Allah SWT. Anggun, lihatlah Ayahmu, nak. Dua puluh delapan tahun Ibu bersamanya, baru kali ini Ibu melihat Ayahmu terpuruk. Menangis sejadi-jadinya. Airmata yang ia tahan sedari pagi tumpah ketika melihat wajah mungilmu yang begitu nyenyak. Lihatlah, Anggun. Bahkan rasa sakitnya mungkin lebih perih dari orang yang patah hati. Ah, Anggun! Putri kesayangan Ibu.

??????????? Adzan ashar berkumandang dan langit telah cerah. Seakan sudah memberi jalan agar kau bisa keluar dari rumah dengan tenang.

??????????? ?pemakamannya sudah, siap? ujar seseorang yang entah siapa, memberitahukan pada Ayah. Ibu hanya mampu melihat Ayah mengangguk.

??????????? Kemudian tubuhmu diangkat menuju ruang belakang. Dibersihkan dan dimandikan. Dan tiba saatnya kau harus ditutup dengan baik. Kini kau berpakaian lengkap dan telah siap untuk menghadap Allah SWT.

??????????? Anggun Permata Delima. Sepertinya baru kemarin Ibu merasa mengandungmu. Anggun Permata Delima. Sepertinya baru kemarin Ibu mendengar riang tawa ruangan rumah sakit bersalin menyambut kehadiranmu. Anggun permata Delima. Sepertinya baru terasa kemarin kau tertatih-tatih menuju ke arah Ayah dan Ibu dengan kaki mungilmu. Anggun Permata Delima. Sepertinya baru kemarin celoteh bibir tipismu memanggilku ?Ibu?. Ah, Anggun Permata Delima-ku. Hari ini kau pergi memenuhi janjimu, nak.

??????????? Begitu ramai rumah ini mengiringi kepergianmu. Kaki Ibu terasa seperti tak memijak bumi. Ibu rasakan hangat tangan tante Adel. Sungguh, Ibu tidak sendiri dalam kesedihan ini. Ada tante Adel yang tentunya juga sangat bersedih. Dia yang menjagamu sepanjang pagi hingga sore saat Ayah dan Ibu bekerja. Dia yang menyuapimu, menggantikan peran Ibu. Tante Adel yang mengajarimu bernyanyi, berjalan hingga kau suka menari. Dia yang mengajarimu mengenal hujan. Dia yang membuatmu suka wangi tanah yang terkena gemericik air hujan. Dia pula yang selalu menggendongmu melihat pelangi. Dia tahu kau begitu menantikan pelangi-pelangi itu muncul.

??????????? Hari ini pun hujan tetap menemanimu, nak. Sekilas Ibu melihat segerombolan orang mengantarkanmu menuju masjid. Menshalatkanmu. Mendo?akanmu. Samar Ibu mendengar beberapa orang membicarakan kebaikanmu, keramahanmu. Ah, semoga hanya kebaikanmu yang selalu teringat.

??????????? Ibu mendo?akanmu dari sini, nak. Selamat jalan, sayang. Semoga Allah menempatkan dirimu ditempat terindah. Bertemankan bidadari-bidadari syurga-Nya. Biarlah tetesan airmata ini mengalir dan berubah menjadi butiran-butiran do?a dan keikhlasan. Tidurlah dengan tenang di sisi Allah SWT, nak. Aamiin.

??????????? Kembali Ibu berbalik setelah kau pergi menghilang bersama segerombolan orang-orang yang mengantarkan mu. Dikamarmu, tinggal Ibu, tante Adel dan nenek. Menatap kamar kosong yang begitu rapi dan bersih. Aroma jeruk segar memenuhi ruangan. Aroma kesukaanmu. Foto-foto mu terpampang jelas. Boneka-boneka kesayanganmu tersusun rapi. Mungkinkan kau sudah tahu akan pergi, nak? Semua kau tata rapi agar mudah kami mencari yang kami perlukan. Semua tanpa debu. Kau memang gadis yang rajin, nak. Bahkan mukenamu yang biasanya kau gantung, sudah kau lipat rapi dan kau letakkan disudut tempat tidur.

??????????? ?yang tabah ya, nak? nenek begitu tegar. Menenangkan Ibu. Memeluk hangat.

??????????? Terlalu singkat rasanya, nak. Dua puluh enam tahun. Rasanya belum puas Ibu merawatmu. Memanjakanmu. Belum banyak yang Ibu berikan. Sekarang hanya do?a yang mampu Ibu berikan, nak. Benarkah hati ibu telah siap kehilanganmu selamanya, nak? Sepertinya belum. Tapi ibu akan belajar ikhlas. Ibu mendengar permintaan nenekmu lirih. ?ikhlas, Ratih. Supaya Anggun tenang disana?

??????????? ?Inshaa Allah, Ibu ikhlas, nak? Inshaa Allah?

??????????? ?apa mau disiapkan sekarang?? Tanya tante Adel. Tante Adel ingin merapikan semua peninggalanmu untuk disedekahkan. Agar bisa menjadi amal terakhir untukmu di alam sana.

??????????? ?jangan dulu? bisakah dua atau tiga hari lagi, Del? Aku masih ingin melihat kamar ini tetap seperti ini? sejenak saja? Ibu meminta karena sungguh Ibu belum sanggup, nak. Mohon maklumi ini semua.

??????????? Terlihat foto mu bersama Tito yang begitu mesra. Usiamu yang hanya berjarak dua tahun dengan Tito membuat kalian terlihat seperti seusia. Kalian begitu bersahabat, begitu dekat. Tak seharipun kalian lewatkan tanpa berkomunikasi. Bahkan Tito lebih sering menghubungimu, daripada menghubungi Ibu.

??????????? Kau ingat, nak. Wajah lugu mu begitu riang melihat Tito kecil yang baru saja lahir. Kaki mungilmu berlompatan kesana kemari, sibuk ingin menggedong Tito kecil. Mencium tanpa lelah. Lucu wajahmu ketika tertidur disamping Tito setelah seharian bermain dengannya. Tak sekalipun kau terlihat iri ketika Ibu sibuk mengurusi Tito. Bahkan kau pun sibuk ingin menggantikan ibu memandikan Tito. Tak sekalipun hingga saat terakhirmu pagi tadi, ada suara menggerutu pada Tito.

??????????? Sungguh Ibu masih belum percaya yang terjadi hari ini, nak. Tadi pagi senyum manismu menghiasi seluruh ruangan ini. Benarkah kau pergi meninggalkan Ibu selamanya? Ah, Anggun? Ibu tak berfikir tentang hal terburuk sekalipun! Ibu hanya berfikir kau hanya sejenak tak sadarkan diri, nak. Ibu hanya berfikir sebentar lagi kau akan terbangun dari pingsanmu. Bukankah kau hanya sekedar terjatuh, nak?

??????????? Terasa pijatan hangat tangan tante Adel di tubuh Ibu. Entah sejak kapan Ibu terbaring di kamar mu yang nyaman ini. Entah kapan Ibu kembali tak sadarkan diri. Ibu hanya melihat, Tito sudah ada disamping Ibu, menggenggam tangan Ibu. Sudah tenangkah di sana, nak? Bagaimana tempatmu yang baru? Nyaman kah, putri kecil ku? Sungguh tak sekalipun melintas dibenak Ibu, kau pergi lebih dulu sebelum Ibu menua. Jaga dirimu disana, sayang. Jangan takut, nak. Ibu akan mendo?akanmu dari sini agar tempat terakhirmu akan selalu terang, hangat dan nyaman.

??????????? Ya Allah, tempatkan putriku di tempat terindah-Mu. Terima semua amal ibadah dan kebaikannya. Jauhkan Anggun dari siksa kubur-Mu ya Rabb. Aamiin.

??????????? Gemericik hujan malam ini kembali menemani Ibu. Tenanglah, nak. Jangan bimbangkan Ibu. Ibu tak sendiri menikmati hujan meski tanpamu. Seperti pintamu, ada Tito disini yang masih sedari tadi setia menggenggam tangan Ibu. Ada tante Adel yang setia menyiapkan teh hangat untuk Ibu. Ada nenek dan Ayah yang masih melantukan do?a bersama kerabat yang lain untukmu. Semoga do?a itu menghangatkanmu di sana, nak. Ibu masih di sini. Di kamar mu yang nyaman, menikmati hujan disudut jendela. Namun kali ini, tanpa pelangi.

?

?

Kematian adalah pasti. Tidak ada tawar menawar. Entah sakit ataupun mendadak bak petir yang menggelegar! Seperti barang berharga yang terampas tiba-tiba dari tangan kita, dari hati kita. ?Entah siap atau tidak, kita tetap harus berupaya menerima dan mengikhlaskannya. Semoga kita selalu mampu beristiqomah dalam menjalani segala hal yang ditakdirkan Allah SWT. Agar kita bisa kembali berhimpun di syurga-Nya yang kekal. Aamiin.

  • view 222